Perbandingan Grab, Uber, dan Gojek. Lebih Bagus Mana?

Bagusan mana Grab, Uber, atau Gojek? Aman mana? Reliable mana? Pertanyaan seperti ini pasti ada di benak para pembaca karena sudah sampai di halaman ini. Iya tidak? Pastinya.

Perbandingan service dan tarif pada artikel ini khusus kendaraan roda dua saja alias pure ojek karena lebih mencakup kepentingan orang banyak dibandingkan demand roda empat.

Berikut adalah daftar isi dari artikel yang saya tulis berikut untuk memudahkan navigasi para pembaca.

Sistem Tarif Uber, Grab, dan Gojek

Masing-masing perusahaan baik itu Uber, Grab, dan Gojek memiliki tarif tersendiri. Ketiga-tiganya juga menerapkan sistem high fare for high demand. Jadi kalau lagi banyak pesanan atau di jam sibuk tarif mereka dapat meningkat hingga beberapa kali lipat.

Sistem Tarif Uber

logo-uber

Uber menerapkan tiga elemen dalam menentukan tarif yang akan dibayar oleh penumpang. Tiga elemen tersebut adalah:

  • Base/minimum fare: Rp1.000
  • Fare per 100 meter: Rp100
  • Fare per menit: Rp100

Sistem Tarif Grab

 

logo-grabSistem tarif Grab lebih simpel daripada Uber. Ada dua elemen berikut.

  • Base/minimum fare: Rp5.000
  • Fare per kilometer: Rp1.500

Lebih mahal dari pada Uber, tetapi tidak pakai tarif per menit.

Sistem Tarif Gojek

logo gojek

Sistem tarif Gojek sama persis dengan sistem tarif Grab yaitu:

  • Base/minimum fare: Rp4.000
  • Fare per kilometer: Rp1.500

Cuma beda Rp1.000 dengan Grab.

Hati-Hati Dengan Sistem Tarif Uber

Sebenarnya bukan sistem Ubernya yang buruk tapi pemanfaatan kelemahan sistem oleh driver Uber yang harus diperhatikan.

Contohnya, saya biasanya dari satu tempat di Jakarta Pusat ke Jakarta Barat memakan tarif Rp13.000 dengan memakai Grab atau Gojek. Namun, waktu itu sampai Rp16.000 dengan Uber. Mengapa?

  • Driver Uber mengambil jalur yang macet dan berliku-liku sehingga waktu yang ditempuh menjadi lebih lama 2x lipat. Biasanya 15-17 menit sudah sampai, waktu itu sampai 30 menit lebih.
  • Driver Uber mengambil jalur yang terlihat lebih dekat padahal berbelok-belok dan jumlah kilometernya bertambah banyak.

Reliabilitas Uber, Grab, dan Gojek

Reliabilitas ini membahas tentang ketersediaan supply driver pada saat tertentu yaitu pada jam sibuk dan tengah malam.

Reliabilitas Pada Jam Sibuk

Untuk Uber dan Gojek reliabilitas pada jam sibuk sangat bisa diandalkan, tapi tidak dengan Grab entah kenapa. Kalau soal tarif, Gojek dan Grab memiliki tarif paling masuk akal pada jam sibuk ini.

Kalau dengan Grab, sangat susah mencari driver pada jam sibuk. Mungkin karena armada Grab tidak sebanyak Gojek. Namun, bagaimana dengan Uber? Kalau Uber, kemungkinan besar kita akan dapat driver tetapi tarifnya bisa mencapai 3x lipat atau lebih.

Pada jam sibuk ini Grab tidak bisa memenuhi permintaan penumpang yang begitu banyak, tetapi harganya tidak semahal Uber. Uber bisa memenuhi permintaan penumpang tetapi harganya jadi 3x lipat. Mungkin karena itu juga Uber bisa memenuhi permintaan penumpang karena penumpang tidak jadi pesan karena harganya mahal.

Jadi Gojek paling bisa diandalkan untuk jam sibuk karena harganya tidak semahal Uber dan supply-nya lebih banyak dari pada Grab.

Reliabilitas Tengah Malam

Tampaknya ini dibahas untuk Grab saja karena kalau sudah jam 00.00 atau lebih driver Grab jarang yang tersedia atau itu-itu saja drivernya. Bahkan, pernah gagal pemesanan sampai 3 kali gara-gara ga ketemu drivernya, lalu ganti Gojek deh.

Kalau Gojek dan Uber selalu saja ada kalau malam kendati ketersediaan Uber tidak sebanyak Grab. Mungkin Grab menyuruh drivernya untuk tidur di malam hari.

Jadi di tengah malam Grab tidak dapat diandalkan. Pakai saja Uber atau Gojek lebih cepat dapatnya. Terus kalau pakai Uber di malam hari pasti lebih murah tarifnya karena lebih cepat, tapi hati-hati kalau drivernya muter-muter.

Kelayakan Atribut Uber, Grab, dan Gojek

Atribut yang dimaksud di sini adalah dua tipe perlengkapan. Tipe perlengkapan 1 yaitu perlengkapan yang dipakai oleh driver seperti sepatu, jaket, helm, dan pakaian. Tipe perlengkapan 2 yaitu perlengkapan yang merupakan hak penumpang seperti masker dan hair cap.

Kelayakan Atribut Uber

Jaket driver Uber terlihat seperti jaket biasa dan sulit membedakan kalau itu adalah driver Uber. Sepengalaman saya menaiki Uber, hanya beberapa kali saya mendapatkan driver yang memakai jaket Uber. Mungkin 2 kali.

Sepertinya pengelolaan standar yang baik juga tidak digalakkan oleh Uber terhadap drivernya. Seringkali saya alami dan lihat, terutama kalau malam, driver Uber banyak yang memakai sandal dan ada pula yang memakai celana pendek.

Tidak mencerminkan sama sekali kalau dia adalah driver Uber. Terlebih lagi tidak pakai atribut Uber baik itu helm maupun jaket, jadi saya juga was-was kalau mau tanya, nanti kalau saya tanya orangnya ternyata bukan driver Uber malah tersinggung.

Uber juga tampaknya tidak memberikan hair cap atau masker untuk penumpangnya. Saya tidak tahu soalnya tidak pernah ditawari.

Kelayakan Atribut Grab

Jaket driver Grab biasanya terlihat cerah dan baru. Asumsi saya, mungkin karena manajemen Grab perhatian terhadap drivernya yang menerapkan penggantian atribut Grab beberapa bulan sekali. Jarang sekali saya mendapat driver Grab yang jaketnya lusuh.

Untuk helm juga demikian, rata-rata helmnya adalah helm standar Grab yang warna hijau seperti jaketnya meskipun kadang ada juga tuh yang helm bukan standar atau helm Grab tapi sudah jelek. Persentasenya mungkin hanya sekitar 20-70% antara yang jelek dan yang bagus.

Standar Grab yang mewajibkan memberikan masker dan hair cap kepada penumpang sepertinya tidak terlalu diterapkan oleh driver. Kira-kira perbandingannya 50-50% antara yang memberikan dan tidak.

Untuk penggunaan sepatu dan alat standar lainnya saya rasa sudah mantap. Rata-rata driver Grab sudah pakai sepatu dan tidak jarang yang memakai masker dan sarung tangan.

Kelayakan Atribut Gojek

Jaket driver Gojek kebanyakan sudah terlihat lusuh. Jadi saya agak-agak gimana gitu kalau mau naik Gojek. Jaket driver saja tidak diperhatikan apalagi kesejahteraan driver?

Begitu juga untuk helm, kebanyakan helm Gojek sudah pada jelek bahkan saya pernah tuh dapet helm yang tidak ada kacanya sama sekali. Jadi, sakit banget itu mata kena angin pas drivernya ngebut.

Driver Gojek jarang yang menawarkan masker atau hair cap. Hanya sekitar 30% yang menawarkan masker kepada saya.

Kesopanan Driver Uber, Grab, dan Gojek

Pada bagian ini saya tidak akan menjabarkan satu persatu tentang kesopanan driver Uber, kesopanan driver Grab atau kesopanan driver Gojek, melainkan semuanya jadi satu. Bahasan dalam bagian ini juga mencakup tentang ketidaktaatan driver dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Sepengalaman saya dengan Uber, Grab, dan Gojek. Driver yang tidak menyenangkan atau tidak sopan itu ada sekitar 15-25%.Kalau seminggu saya pakai jasa transportasi ini sebanyak 16 kali, kira-kira saya mendapatkan kesan tidak menyenangkan dalam berkendara adalah sekitar 2-3 kali.

Berikut adalah berbagai jenis ketidaksopanan driver dalam berkendara.

Tidak Sopan Terhadap Pengendara Wanita

Ini sering terjadi dengan driver laki-laki. Tapi apa salahnya sih melihat pengendara wanita yang cantik sampai sedemikian dalamnya? Hampir semua laki-laki suka wanita cantik kan? Salahnya adalah ketika..

  • Melihat wanita cantik hingga lupa kalau di depannya ada mobil berhenti mendadak dan hampir menabrak. Ini tidak menyenangkan dan merisikokan penumpang.
  • Melihat wanita berbadan bagus lalu mempepet motornya untuk melihat mukanya dekat-dekat dengan cara menengok. Padahal cukup lewat spion saja, ketahuan banget gak pernah dikasih jatah sama pacar/istri.

Mengebut, Lawan Arah, dan Mengintimidasi Pengendara Lain

Sepengalaman saya ini biasanya dilakukan oleh driver yang memiliki muka tembem, dan berbadan tambun seperti laki-laki 40 tahunan berbadan tambun yang suka tidak pakai baju di pinggir jalan.

Untuk kriteria tambahan, mereka biasanya memakai atribut sok-sok polisi. Saya beberapa kali dapat driver yang memakai atribut polisi padahal bukan polisi.

Driver dengan spesifikasi semacam ini biasanya suka mengebut, memutar balik lawan arah, dan mengintimidasi pengendara lain. Intimidasi apa yang dimaksudkan?

  • Lampu sign (sein) diganti dengan kaki. Biasanya dilakukan kalau driver mau putar arah atau belok dari sisi yang sebaliknya. Misalnya, mau belok kanan malah ambil jalur kiri.
  • Kalau ada pengendara motor lain yang menghalangi jalan ketika dia ngebut dia geber-geber mesin sambil melihat pengendara motor yang lain itu. Kesannya dia yang paling bener.
  • Berputarbalik dengan melawan arah tapi malah menyalahkan orang dijalur/arah yang benar. Pakai ngedumel pula. Memangnya jalan ini punya ngana apa?
  • Berhenti di tikungan untuk menurunkan penumpang. Kalau ada yang mengklakson malah dipelototin. Ini mental seperti rata-rata supir angkot Lebak Bulus.

Cemberut Kalau Dikasih Uang Pas

Ada driver yang suka cemberut bahkan ngedumel kalau dikasih uang pas. Saya pernah tuh dapat yang bilang “halah, susah..” pas saya udah jalan sekitar 3 meteran setelah bayar pakai uang pas. Langsung saja kasih bintang satu. Padahal seringkali saya kasih tips, tapi semenjak itu jadi malas. Mending kasih aja uang pas terus.

Tidak Ada Itikad Baik Untuk Memberi Uang Kembalian

Bukannya saya pelit, tapi saya suka tes orang aja. Driver ini macam-macam orangnya tapi selalu ada dua tipe dalam hal ini yaitu:

  • Tipe driver berkehendak baik untuk mengembalikan uang kembalian berapa pun itu
  • Tipe driver yang diem aja kalo misalnya dikasih Rp10.000 padahal tarifnya Rp8.000. Berapa lama saya diem di tempat baru dia nyari kembalian dengan muka cemberut
  • Tipe driver yang sok-sokan bilang “Ada uang pas aja ga?” padahal di tasnya ada kembalian

Biasanya driver yang dengan sungguh-sungguh mau memberi uang kembalian adalah driver yang paling sering saya kasih tips dengan ikhlas.

Tidak Memberitahu Kalau Ada Potongan Harga

Kejadian ini khusus driver Grab saja. Beberapa waktu yang lalu kan ada tuh potongan harga Rp1.500 sampai Rp5.000 nah drivernya diem aja tuh. Saya malah kasih uang lebih melulu. Dari sekian banyak promo yang saya dapatkan cuma 2 orang driver yang bilang kalau saya dapat potongan harga. Untuk driver yang jujur itu saya kasih saja uang tarif minimum Grab yaitu Rp5.000.

Ada juga yang kurang ajar. Saya udah tahu nih dapat potongan harga Rp5.500. Terus saya tes saya. Pas sampai rumah saya tanya “Berapa?” dia jawab “Rp5.000” seraya menunjukkan tarif yang tertera di aplikasi Grab Driver. Lalu saya buka HP saya dan saya kasih tahu kalau saya dapat diskon Rp5.500. Di situ baru drivernya menekan tombol seperti “Next”/”Lanjut” gitu untuk melihat summary pembayarannya yang ternyata adalah jumlah yang harus dibayar penumpang yaitu Rp0.

Kejadian itu saya lakukan setelah beberapa kali driver Grab tidak memberitahukan saya kalau dapat diskon. Sarannya adalah improve aplikasi Grab Driver agar lebih straight forward dan improve UX aplikasi client agar penumpang dapat melihat notifikasi/informasi diskon dengan jelas! Jangan cuma notification titik merah di pojok kiri atas yang bapuk itu.

Kecurangan Driver Uber Terhadap Penumpang Dengan Kartu Kredit

Driver Uber bisa curang terhadap penumpang yang bayar dengan menggunakan kartu kredit. Bagaimana caranya? Selain dengan mengajak muter-muter penumpang supaya tarifnya jadi tinggi, driver juga dapat memanipulasi tarif.

Driver Uber memanipulasi tarif dengan cara tidak mematikan argonya ketika sudah menurunkan penumpang. Jadi argo dimatikan kalau sudah jalan lebih jauh. Jadi penumpang akan di-charge lebih untuk jarak tempuh yang tidak ia gunakan.

Misalnya, saya berangkat dari Plaza Semanggi turun di Grand Indonesia. Tarif seharusnya adalah Rp10.000, tetapi driver Uber mematikan tarifnya di Stasiun Jakarta Kota. Nah, karena itu tarifnya dihitung dari Plaza Semanggi ke Jakarta Kota dan pastinya lebih mahal, bisa 2-3 kali lipat, anggap saja Rp30.000. Ketika argo dimatikan baru kartu kredit kita di-charge sebesar Rp30.000 padahal seharusnya cuma Rp10.000.

Penilaian Akhir Jasa Transportasi Online Uber, Grab, dan Gojek

Berdasarkan pengalaman dan perbandingan dalam menggunakan jasa transportasi Uber, Grab, dan Gojek di atas, saya harus memberikan penilaian akhir terhadap ketiga jasa tersebut. Mana yang paling bagus Uber, Grab, atau Gojek?

Pilihan saya jatuh pada…

GRAB

logo-grab

Kenapa Grab dinobatkan sebagai jasa transportasi online terbaik? Berikut alasannya.

  • Orang melihat segala sesuatunya dari penampilan dulu. Driver Grab memiliki penampilan terbaik dibandingkan dengan Uber dan Gojek. Jaket dan helm bagus dan bersih. Sebagian besar driver bersepatu dan berpenampilan rapi, dan memakai atribut grab.
  • Hampir selalu menawarkan masker. Meskipun saya tidak mau pakai.
  • Harga lebih transparan dibandingkan Uber
  • Kebanyakan driver patuh rambu lalu lintas

Gojek nomor 2, Uber nomor 3. Gojek bisa saja menyalip Grab menjadi nomor 1 kalau Gojek me-maintain kelayakan atribut drivernya yang banyak itu. Grab juga bisa selalu menjadi nomor 1 kalau bisa reliabel di jam sibuk dan di tengah malam.

Kalau pembaca ada pengalaman baik atau buruk dengan Uber, Grab, atau Gojek boleh loh share dengan meninggalkan komentar di bawah!

Terima kasih!

 

Tags: , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

18 tanggapan untuk “Perbandingan Grab, Uber, dan Gojek. Lebih Bagus Mana?”

  1. December 17th, 2016 at 16:14 | #1

    Terimakasih, ulasan n referensi untuk ojek onlinenya yg lengkap. Saya belum pernah pakai sebelumnya, rencana mau memanfaatkannya nanti subuh di area bekasi.

  2. Isnu
    January 3rd, 2017 at 08:47 | #2

    Sy sangat setuju dgn hasil akhir penilaian, namun sy memberikan satu kriteria yg menurut sy penting yaitu driving skill. Secara bobot tubuh sy yg ekstra, butuh skill riding motor yg mumpuni. Dan menurut sy rata2 rider Grab bagus2 skill nya dan juga patuh thd rambu2 lalin. Begitu jg utk roda empat nya, Grab lebih baik secara overall. Trmksh

  3. Sugar grape
    January 29th, 2017 at 12:09 | #3

    Makasih. Bermanfaat bgt! Tp sya lbh suka gojek krn bnyk bgt promonya hehe

  4. Retno Indah
    February 9th, 2017 at 13:10 | #4

    Saya sebagai driver Lady grab Thanks udh milih grab sebagai pilihan terbaik.

    • Ahmad fatikhin
      February 27th, 2017 at 19:04 | #5

      Saya driver Grabike mba.. Salam kenal

  5. Bena Imawarwaty
    February 12th, 2017 at 12:47 | #6

    Bagus ulasannya… Jadi sy putuskan daftar jadi driver Grab aja deh… Makasih infonya.

  6. Anjung
    March 7th, 2017 at 12:49 | #7

    Sy pemakai pemula,langsung install grab dulu deh

  7. Riza
    March 20th, 2017 at 10:00 | #8

    Kalo saya langganan go jek ?
    Go jek di makassar kebanyakan ngga pake jaket sama helm bawaan perusahaan, untuk menghindari konflik sama taksi, ojek, bentor dan angkot, katanya ?

  8. March 28th, 2017 at 22:04 | #9

    Kalau pengalaman aku baik2 3nya Alhamdulillah dapat driver yang enak yang sopan kalau naik ojek online? di jadiin kaya ratu hehehe Alhamdulillah s sejauh ini belum ada yang bikin kecewa drivernya

  9. Maria Qibtiyah
    April 3rd, 2017 at 23:10 | #10

    SAYA PALING SETUJU DENGAN STATEMENT INI :Tidak Ada Itikad Baik Untuk Memberi Uang Kembalian
    Bukannya saya pelit, tapi saya suka tes orang aja. Driver ini macam-macam orangnya tapi selalu ada dua tipe dalam hal ini yaitu:

    Tipe driver berkehendak baik untuk mengembalikan uang kembalian berapa pun itu
    Tipe driver yang diem aja kalo misalnya dikasih Rp10.000 padahal tarifnya Rp8.000. Berapa lama saya diem di tempat baru dia nyari kembalian dengan muka cemberut
    Tipe driver yang sok-sokan bilang “Ada uang pas aja ga?” padahal di tasnya ada kembalian
    Biasanya driver yang dengan sungguh-sungguh mau memberi uang kembalian adalah driver yang paling sering saya kasih tips dengan ikhlas.

    Menurut saya, INI GUE BANGET GITU LOCH.
    Saya pengguna silver grab. Bisa dibilang GRAB itu transportasi saya banget lah. Dari 90%, 25% driver ga banget.

    Satu pengalaman saya yg membekas. Pas mau berangkat kerja di pagi hari, saya dpt driver perempuan. Orang batak (mohon maaf bukan bermaksud menyinggung suku tertentu), saat itu saya bayar pakai grabpay + kode promosi. Berhubung saldo gpay saya tipis dan belum diisi, dan sialnya saya ga cukup uang tunai. Makanya saya pakai gpay+kodepromo. Salahnya lagi memang saya blg ‘agak’ terburu2. Gak buru2 bgt sebenernya sih.

    Mungkin karena si driver sudah terlanjur sebal alhasil selama perjalanan mengeluh tiada henti. Katanya sebelum terima order saya di pagi hari sudah ada 2 penumpang perempuan menggunakan cara pembayaran yg sama, tanpa kasih tips, dan cuma bilang terimakasih. Saya langsung faham kemana arah keluhan si driver.

    Di tengah perjalanan saya tetap diami si driver dgn maksud peka agar fokus berkendara. Ternyata nihil, sampai akhirnya saya cuma bisa blg “ibu, ga perlu menyalahkan penumpang yg hanya ucap terimakasih tanpa tips. Kalau ibu bekerja dg ikhlas Insya Allah rezeki ibu dimudahkan. Ga ada yg perlu disalahkan. Penumpang dan driver ga ada yg salah. Kami sebagai penumpang hanya menikmati apa yg ditawari, bukan berarti kami ga tau bagaimana posisi driver saat dijalanan. Kalau ibu ikhlas, byk ‘para rezeki’ yg akan mengerti seluruh posisi driver”.

    Udah. Cukup itu aja sih pengalaman saya. Overall, ga semua driver. Namanya juga konsumen, ada aja yg ga enak. At least, 75% dr mereka ikhlas dan taat aturan berkendara kok 🙂

  10. Fahrurrozi
    April 30th, 2017 at 23:36 | #11

    Saya pengguna grab,, driver nya baik2 dan selalu saya kasih 5 bintang

  11. Andre
    May 7th, 2017 at 19:56 | #12

    kasihan ya UBER sekarang… sudah harga murah, masih dicaci pula…

  12. amel
    May 13th, 2017 at 23:59 | #13

    Aku prepare sama grab juga. Lebih irit juga sih menurut aku, trs drivernya ramah2.

    Btw, aku pernah order go-food trs driver blm brngkt gt masih mau nyari tau dan akhirnya nelpon . Dia bilang dia gatau arah alamatnya,trs saya jelasin sampai panjang lebar tetep gatau juga, yaudah saya bilang saya cancel aja toh blm brngkt jg kan dan dia bilang ok. Saya sms juga untuk memastikan dia. Sebelumnya saya order juga tp gatau alamat jd drivernya bilabg cancel aj, karena takut terulang jd saya memutuskan untuk berbuat hal sm dong.

    Eh 3/5 mnt kemudian dia telepon marah2 dan ngomong gasopan. Dari nadanya sih sprtinya dia masih muda gt, yasudah saya jelasin lg dong. Eh ttp ngeyel, dia matin. 5mnt lg dia nelpon bilang udh dibeli barangnya gabisa gt. Yailah apasih maunya ini td dia bilang blm brngkt kok awalnya tau2 malah udh sempet beli barang. Sakin saya gendek sebel, saya suruh anter aja nanti dibayar lagi dikirimin alamatnya, eh malah gamau . Duh galagi2 aku order gofood :”

  13. Lulis
    May 22nd, 2017 at 22:03 | #14

    Saya juga pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dg driver uber. Rata2 driver uber curang dan tidak ramah. Saya lebih memilih grab karena selain tarifnya transparan driver lebih sopan dan nyaman aman

  14. imam
    June 18th, 2017 at 04:29 | #15

    Saya pribadi adalah driver uber. Saya tidak suka dengan ulasan anda. Menurut saya pribadi semua itu dr cara sopan santunnya kpd konsumen tergantung dr driver nya. Sifat orang itu berbeda2. Mungkin saja anda driver grab yg seakan2 grab itu ok. Lebih baik berfikir dulu sebelum bertindak. Sekian dan terima kasih…

  15. Samian
    June 18th, 2017 at 15:35 | #16

    Saya sangat senang karna di Indonesia ada ojek online termasuk uber grab dan gojek tiga2nya bagus tapi yang aq suka gojek

  16. edi setiawan
    June 27th, 2017 at 22:10 | #17

    kalo tarip semua ada kekurangan dan kelebihan..dicoba dulu masing2 ojeg online selama 24 jam baru bisa menilai dengan bijak…kalo masalah driver nya tergantung orangnya jangan disamaratakan…berbuat adilah sodara..tks

  17. putri iga
    July 14th, 2017 at 08:47 | #18

    sy suka karya anak bangsa, tp emang betul sih. atributnya lusuh, sy pikir ini bisa jadi masukan yang bagus buat gojek buat lebih memperhatikan atribut dan kesejahteraan drivernya. Cara sopan santun dan kedisiplinan lalin, tarif dsb tergantung dr sifat masing-masing orang. Namanya juga cari duit, ada orang yg ikhlas dgn kerjaannya, ada yang ngejer duitnya, klo bisa dpt untung segede2nya dgn segala cara.

Silakan Beri Komentar