Manusia: Spiritualitas dan Tujuan Akhir

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang katanya unik. Keunikan manusia ini terletak pada dua aspek penting yang ada dalam diri manusia dan perlu dipahami kedua-duanya. Dia tercipta dari badan jasmaniah dan rohaniah. Badan jasmaniah terdiri dari materi dan kecenderungan bersifat material pula.

Dari sisi ini, biologis manusia sangat bergantung pada hal-hal yang material. Ia membutuhkan sandang, pangan dan papan (kebutuhan primer), dan bahkan kebutuhan lain yang sifatnya sekunder. Sedangkan jiwa manusia berasal dari roh yang suci dengan kecenderungan bersifat ruhaniah pula. Dari sisi ini, manusia sangat bergantung pada hal-hal yang bersifat spiritual, dia membutuhkan ketenangan, ketentraman, ketergantungan pada Zat Yang Maha Mutlak, bahkan kebersatuan dengan-Nya.

Ketergantungan spiritual manusia yang dinashkan sebagai puncak kebahagiaan menimbulkan berbagai keragaman manusia untuk mencapai sebuah tujuan akhir dalam perjalanan spiritualnya tersebut, dan itu membawa mereka memasuki sebuah wilayah yang diistilahkan sebagai sistem, kurikukulum atau metode yang harus diikuti oleh seorang salik (pejalan spiritual) sebagai sarana berguru yang bijak dan teratur demi meningkatkan martabat spiritualitasnya.

Potensi perenungan manusia dalam memahami epistemis jasmaniah dan rohaniah

Keunikan manusia ini juga terletak pada potensi dan kemampuannya dalam merenungkan dan memikirkan tentang segala sesuatu secara luas, tidak terbatas dan sangat mendalam. Perenungan tersebut melitupi alam (cosmos), Tuhan (theos), dan bahkan dapat mempersoalkan dirinya sendiri, siapa, bagaimana, untuk apa, dari mana, dan mau kemana ujung kehidupan itu.

Dari salah satu aspek persoalan perenungan dan pemikiran manusia tentang dirinya adalah apa dan bagaimana hakikat manusia itu? Apakah hakikat manusia itu terletak pada kehidupan jasmaniah? Atau pada kehidupan rohaniah? Untuk persoalan tersebut paling tidak ada dua bagian yang menjadi jawaban.

  1. Ada orang yang cenderung menyelesaikan persoalan ini dengan dasar dan argumentasi yang dianggap realistik, tampak, dapat diraba, dilihat, didengar oleh pancainderanya. Jawaban orang ini tentu lebih ditekankan pada aspek jasmaniah, sehingga hakikat kehidupan manusia dianggap atau dipandang sebagai kehidupan duniawi yang serba material (cenderung sekular). Jawaban ini biasanya dipegang dan dijalankan oleh orang-orang materialistik.
  2. Ada orang yang mencoba menyelesaikan persoalan tersebut dengan dasar dan argumentasi yang lebih filosofis, tidak melihat hal yang hanya tampak, tapi lebih cenderung melihat manusia dari sisi rohaniah. Artinya kehidupan jasmaniah dianggap sebagai cangkang, kulit luar saja yang seringkali menipu, dan tidak menampilkan tentang hakikat kebenarannya. Karena hakikat kehidupan manusia yang sebenarnya adalah terletak pada kehidupan ranahnya spiritualis (rohaniah). Ini merupakan jawaban kaum intelektual yang menjunjung tinggi akan kedudukan keruhanian.

Sifat yang mendominasi, menentukan tujuan akhir

Apabila motivasi hidup dan kehidupan manusia itu didominasi oleh potensi sentimental (kejahatan), maka kehidupan manusia terjerumus ke dalam jurang kehidupan yang kotor, yang merupakan wabah imperialis dari. Sebaliknya, apabila motivasi kehidupannya didominasi, dikendalikan, diarahkan oleh potensi kepatuhannya, dia akan sampai kepada kehidupan yang suci dan kehidupan yang diyakini menjadi tujuan akhir, yaitu kehidupan spiritual para kaum pemburu spiritual yang telah mencapai derajat kemoksaan atau kedudukan jiwa yang tenang, karena mampu bersanding dengan unsur Yang Maha Berwenang.

Tags: , ,

AUTHOR

# Prodi Filsafat Agama / Fakultas Ushuluddin dan Filsafat / UIN Sunan Ampel Surabaya

Belum ada tanggapan untuk “Manusia: Spiritualitas dan Tujuan Akhir”

Silakan Beri Komentar