Emansipasi Atau Otak-Atik Kodrat?

“Laki-laki memang sama saja” tutur wanita yang katanya penuh perasaan. Sedangkan yang mengaku penuh logika membalas “dasar wanita yang pilih-pilih”. Mendengar ini mungkin malaikat Cinta tertawa geli. Sungguh, perselisihan yang sebenarnya takkan usai ini masih saja diterus-teruskan dua makhluk yang hanya dibedakan oleh kelamin ini. Hanya gegara sakit hati, satu kaum mencaci maki dan men-judge kaum yang lain. Tidakkah mereka malu dengan Adam dan Hawa? Tidak malukah mereka pada Laila dan Qais?


emansipasi wanita gambarnya
Entah memang zaman yang membuat mereka melupakan kodrat, atau memang dasar mereka lupa diri? Seringkali kita dengar, entah dari percakapan kita sehari-hari dengan kawan, atau hanya mendengar dari kabar mulut ke mulut, bahwa sekarang ini tengah terjadi degradasi definisi, moral dan aplikasi dari apa yang selama ini oleh manusia tak dapat terdefinisi yaitu “Cinta”. Dalil-dalil pernyataan kepemimpinan bagi kaum leki-laki seharusnya menjadi dasar untuk mereka sadar diri, bahwa mereka bertugas mengayomi, bukan menguasai, melindungi, bukan menyakiti. Dan Ide emansipasi, yang katanya menjadi penyetara, tunggu, penyetara? Ya, melangkahi itu bukan penyetaraan, mengambil alih juga bukan, apalagi pergantian fungsi.

Akibat Revolusi Terjadi Emansipasi

Lihatlah akibat revolusi yang membuahkan emansipasi. Sekarang tak hanya lelaki yang dapat mengenyam pendidikan tinggi. Sekarang, tak hanya lelaki yang sanggup mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari. Sekarang, bukan hanya lelaki yang duduk di kursi kepemimpinan yang tinggi. Namun dalam waktu bersamaan, Sekarang bukan hanya lelaki yang pandai mencuri. Bukan hanya lelaki lagi yang tak mampu menahan diri, ringan tangan, lalu berperilaku tak terkendali.

Hasilnya? Sosok wanita ang kodratnya melindungi, dicampur aduk dengan sifat kepala rumah tangga yang dituntut tegas, anak yang menjadi korban perubahan wanita menjadi keras. Tak terhitung berapa banyak wanita berkuasa lalu menindas. Maka jangan heran bilamana beberapa puluh tahun mendatang, dunia akan diisi laki-laki penuh rantai pasung ditubuhnya, dan wanita-wanita yang kehilangan nuraninya kemudian menjadi penguasa.

Manusia, manusia. Lalu apa gunanya Tuhan membedakan pemikiran kita menjadi dua, persaan dan logika? Lalu untuk apa Tuhan membagi naluri kita menjadi melindungi dan menyayangi? Tuhan member kita tugas, menurut batasan yang pasti Ia lebih ketahui. Wanita begini, laki-laki begitu. Saling mengisi, melengkapi dan harmonisasi itu telah lama menghias dunia dari zaman Adam turun ke bumi. Bukankah lancing namanya, bila masing-masing kaum darimu ingin menang atas yang lain, menguasai kodrat yang tak seharusnya, dan mendobrak batasan-batasan tuhan bagi jalan yang kau jalani?

Pada dasarnya, semua akan tetap seimbang apabila kita menjaga tata aturan Tuhan, dimana contohnya laki-laki mencari nafkah, isteri menjaga rumah. Bila ada kesalahan semisal lelaki tak mampu mencari nafkah, ya musnahkan! Musnahkan kekurangan itu, bukan malah menambah perkara baru dengan menyandingkan wanita sebagai pengganti lelaki. Itu bukan emansipasi, tetapi hanya pembungkus masalah yang tak lain tak bukan akan menjadi masalah lain. Ya memang, begitulah jadinya jika aturan Tuhan diotak-atik. Belum merasakan kerusakan itu? Tunggulah beberapa saat lagi.

AUTHOR

# Yang pasti karena saya suka menulis,. Kemudian Aprillins menawarkan peluang untuk mengaspirsikan pemikiran saya dalam bentuk tulisan. Saya suka filsafat, terutama dalam hal mengamati pemikiran manusia tentang suatu hal yang terkadang tidak dapat dikelaskan secara gamblang oleh kata-kata, dan saya mempunyai minat dan ide untuk menerjemahkan halhal tersebut agar mudah dipahami oleh orang lain dengan gaya pembahasan yang berbeda. "know who you talk with" adalah prinsip saya, dan saya mengutip dari Albert Einstein bahwa " ketika anda tidak dapat menerangkan sesuatu kepada seorang anak kecil, berarti anda belum memahami betul hal tersebut".

3 tanggapan untuk “Emansipasi Atau Otak-Atik Kodrat?”

  1. hika
    August 25th, 2015 at 21:01 | #1

    “Tak terhitung berapa banyak wanita berkuasa lalu menindas” dan saya juga akan berkata “Tak terhitung berapa banyak pria berkuasa lalu menindas”

  2. Erick Aliazar
    April 23rd, 2016 at 12:10 | #2

    Izin share mas!

  3. June 2nd, 2016 at 13:17 | #3

    Ulasan yang sangat bagus sekali. Saya kemudian lebih berpikir pada keselarasan yang diperjuangkan wanita untuk kehidupan yang lebih memihak. penting juga untuk dipertimbangkan melalui usur sosilogis, politik, dan budaya masyarakat setempat. Sebab, pada setiap teriakan emansipasi suatu hasrat yang lebih besar adalah pembangkangan bukan keselarasan.!!!

Silakan Beri Komentar