Hukum Rimba vs Undang-undang

Hukum, undang-undang, aturan, tata-tertib, etika, manners, apapun itu. Bosan sudah kita dengan hal-hal semacam itu. Negara menyusun undang-undang yang katanya mengatur namun sebenarnya mengekang. Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya dengan segala tata-tertibnya yang katanya agar semua patuh namun sebenarnya di dalam terjadi usaha saling negosiasi agar runtuh.

Manusia lupa, lupa sama sekali dengan kodratnya, dengan nuraninya. Pernah dengar hukum rimba? Ketika aturan hanya satu “Yang kuat yang berkuasa”, tahukah? Tanpa kalimat itu-pun sema makhluk tahu, yang kuat pastilah yang berkuasa, kekuatan yang kecil dimangsa kekuatan yang besar, dan yang tak dimangsa harus tunduk. Tanpa ada Undang-undang tertulispun singa tetap jadi sang raja rimba. Namun manusia salah memahami hukum alam ini yang mereka kira hukum, namun sebenarnya bukan, hukum alam, hukum rimba dan hukum alamiah lainnya hanyalah aturan sederhana yang bekerja secara otomatis, mutlak oleh sang pencipta jagat raya. Dan manusia salah menganggap itu sebagai aturan yang brutal, terlalu bebas dan pemikiran kerdil lainnya. Karena sebenarnya, raja rimba membunuh hanya untuk bertahan hidup, bukan untuk berkuasa. Dan makhluk hutan mana yang memberinya titel tersebut? Ya, manusia yang memberikan label itu, menganggap singa sebagai raja rimba karena kekuatannya dan kuasanya, yang bahkan singa sendiri bisa mati kelaparan. Sungguh, begitulah manusia tanpa malu mengisahkan para predator sebagai makhluk jahat kepada anak-anaknya.

Mengapa manusia tak mengisahkan jahatnya penguasa di parlemen sana? Yang tak puas hanya dengan bertahan hidup, yang selalu menggerogoti sendi kehidupan rakyat lemahnya dan memberikan derita yang berjudul “kemiskinan”? Lihatlah, bandingkan, singa yang lapar, lalu mencari hewan lain untuk dimangsa, setelah kenyang, mereka berhenti. Lalu para penguasa manusia? Mereka lapar, lalu meyakinkan manusia lainnya untuk mengangkatnya sebagai raja atau sekedar penyambung suara, kemudian mereka kenyang, dan belum juga puas dengan perut penuh mereka mengisi dompet mereka dengan harta rakyatnya, tanpa ijin, merampas dan mencuri lewat birokrasi yang susah dimengerti, dan begitu terus tanpa henti. Maka jangan heran Tuhan mengutuk manusia, karena memang manusia lemah. Lemah terhadap tanggung jawab dan kewajiban mereka, namun berlagak kuat memakai topeng wibawa laksana messias di depan rakyatnya. Jangan heran malakat enggan melindungi, karena manusia tamak. Tamak dengan apa yang mereka miliki, tak pernah merasa cukup dan mudah silau dengan gunung kekayaan duniawi.

Lalu dimana undang-undang dan hukum buatan itu? untuk apa itu semua dibuat? Sementara hukum rimba diremehkan, sementara hukum alam ditampikkan. Sungguh tiada hukum yang sempurna memang, terkecuali buatan-NYA. Namun jika bicara kemanusiaan, manakah yang lebih manusiawi. Membunuh satu untuk bertahan hidup, atau pembunuhan massal berkedok pemerintahan oleh tangan-tangan dingin nan kotor para penguasa licik?

AUTHOR

# Yang pasti karena saya suka menulis,. Kemudian Aprillins menawarkan peluang untuk mengaspirsikan pemikiran saya dalam bentuk tulisan. Saya suka filsafat, terutama dalam hal mengamati pemikiran manusia tentang suatu hal yang terkadang tidak dapat dikelaskan secara gamblang oleh kata-kata, dan saya mempunyai minat dan ide untuk menerjemahkan halhal tersebut agar mudah dipahami oleh orang lain dengan gaya pembahasan yang berbeda. "know who you talk with" adalah prinsip saya, dan saya mengutip dari Albert Einstein bahwa " ketika anda tidak dapat menerangkan sesuatu kepada seorang anak kecil, berarti anda belum memahami betul hal tersebut".

2 tanggapan untuk “Hukum Rimba vs Undang-undang”

  1. February 25th, 2015 at 15:58 | #1

    lebih ke hukum rimba…

  2. Rinto Aguswan
    October 25th, 2015 at 21:51 | #2

    Artikelnya sngat menarik, saya seorang pemula dlam ilmu filsafat, jdi lebih tertarik utk mempelajarinya

Silakan Beri Komentar