Pengkhianatan Terbesar Dalam Hidup Manusia

Percaya atau tidak, pada akhirnya kita semua akan dikhianati oleh sesuatu yang sama sekali tidak kita inginkan.

Kehidupan sehari-hari membawa kita pada berbagai pengalaman yang tidak mengenakkan. Kita seringkali dikhianati, dibohongi, dan dimanipulasi baik secara sadar maupun tidak sadar. Bahkan setelah membeli buah-buahan kita merasa dibohongi karena buah-buahan yang kelihatan segar ternyata busuk di dalam. Kehidupan politik dan percintaan juga demikian. Banyak politisi yang terlihat cemerlang dan menyegarkan dalam menata kehidupan masyarakat tetapi pada akhirnya banyak pula yang terkena ciduk oleh KPK.

Bagaimana dengan kehidupan percintaan? Jangan tanya, amat banyak pengkhianatan disitu. Mulai dari yang tadinya hanya sekedar teman menjadi sekedar teman tidur-tiduran entah apa sebabnya. Mungkin saja seseorang bisa bosan dengan pasangannya yang selalu memberikan kehidupan dan treatment yang monoton. Kita kan manusia jadi tidak mungkin kita hidup monoton seperti mesin. Namun, bukan berarti perselingkuhan dikatakan baik. Haruslah dicari cara supaya hati itu tertata dengan baik dan tahu arah jalan pulang. Jangan tersesat di jalan.

Dua contoh pengkhianatan di atas dilakukan oleh manusia untuk manusia. Manusia satu menyakiti manusia yang lain. Namun, ada suatu alasan yang membuat kita harus tabah pada kematian karena akhirnya pengkhianatan itu akan dibalas oleh sesuatu yang bukan manusia yaitu kematian.

Kematian mengkhianati kehidupan kita

Kematian memaksa kita mencampakkan segala materi dalam kehidupan. Kematian mengambil hari-hari bahagia bersama keluarga, anak, sahabat, saudara, dan teman. Kematian menutup mata kita dari pemandangan yang indah. Kematian memotong genggaman tangan dari benda-benda yang kita dambakan. Kematian melarang kita mencium aroma kehidupan. Ya, benar pada akhirnya kehidupan kita akan dikhianati oleh kematian.

Inilah alasan kita harus tegar dan tabah menghadapi pengkhianatan. Ketegaran tersebut dapat direalisasikan dalam bentuk visi yang seharusnya berguna dalam meraih masa depan. Bagaikan metode dialektika Hegellian kita menjalani hidup sebagai tesis, kita temukan hal-hal yang salah sebagai antitesis, lalu kita temukan cara untuk menyingkirkan kesalahan tersebut agar tidak terulang lagi sebagai sintesis. Jadi tidak usah takutlah dengan pengkhianatan akan akan kita terima. Menjalani segalanya akan lebih baik dibandingkan dengan meratapinya. Jadi ingat saja tentang kematian yang mengkhianati kehidupan, persoalan yang tidak akan pernah ditemukan solusi atau obatnya. Besarnya rasa sakit atas pengkhianatan oleh kematian akan sebesar pengkhianatan yang dilakukan dalam hidup.

So, prepare yourself.

Tags: , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

8 tanggapan untuk “Pengkhianatan Terbesar Dalam Hidup Manusia”

  1. Mulyana Yusup
    March 28th, 2014 at 10:00 | #1

    kenapa harus memakai kata penghianatan kalau ahirnya harus bermuara pada dualitas hidup dan mati, bahwa sesungguhnya setelah matipun akan ada kehidupan

  2. July 7th, 2014 at 18:14 | #2

    Redaksional “pengkhianatan” adalah sesuatu yang menyakitkan dan nuansa yang didapat dari penafisran kejadian sebagai penyimpangan. Kematian mungkin merupakan lawan dari kehidupan, namun seyogyanya kematian ada karena ada kehidupan demikian pula sebaliknya.

    mereka adalah berlawanan namun merupakan dua sisi mata uang koin yang tidak dapat dipisahkan. Pemaknaan hidup akan selalu berakhir pada kematian sebagai hakikat dari kefanaan hidup manusia di dunia. Jadi, menurut hemat saya kematian tidak pernah mengkhianati kehidupan namun melengkapinya, terutama dalam keterhubungan antara fana dan kekal. kematian dalam hal ini dapat dipandang sebagai pembebasan bagi jiwa atas kefanaan raga.

  3. sagiputra
    October 28th, 2014 at 14:54 | #3

    Kehidupan-kematian, panas-dingin, sehat-sakit, penghianatan-peneguhan,tesis-antitesis-(sintesis), etc. adalah kategori-kategori yang diciptakan manusia untuk memahami dan lebih jauh memaknai pengalaman-pengalamanannya. Tapi jika lebih jauh merenungkan/memahami/memaknai “realitas” dengan kacamata fenomena eksistensial, ternyata semuanya “ada begitu saja – terjadi begitu saja”, tidak ada panas-dingin, tidak ada kehidupan-kematian…semuanya “begitu saja”…as simple as that!

  4. Asep Saripudin
    November 28th, 2014 at 10:59 | #4

    Maaf, mohon dikoreksi penggunaan istilah ‘pengkhianatan’ untuk menggambarkan kematian sebagai lawan dari kehidupan. Kematian itu sesuatu yang pasti akan menimpa setiap mahluk yang bernyawa, termasuk manusia. Kematian itu ketetapan Tuhan sehingga tidak bijak rasanya bila kita mengatakan pengkhianatan terhadap kebijakan Tuhan. Tuhan itu Maha Suci dari sifat-sifat tercela, termasuk pengkhianatan. Sekali lagi, mohon koreksi istilahnya.

  5. December 27th, 2014 at 18:56 | #5

    Mau protes penggunaan istilah pengkhianatan, tapi ternyata sudah banyak yang protes. Jadi menyapa saja ah.. Apa kabar Pril 🙂

    • January 2nd, 2015 at 19:00 | #6

      baik bu Ajeng, cuma nganggur aja nih hehe tesis gak kelar2.. gimana bu Ajeng anak2 didiknya? sehat?

  6. Rizki
    February 26th, 2015 at 18:06 | #7

    hebat sudah bisa menulis.

  7. Yehezkiel Hadiwinoto
    July 25th, 2015 at 11:29 | #8

    Kematiaan adalah kodratilahi; untuk menunjukkan keterbatarasan manusia. Namun juga untuk membukakan kesadaran bahwa di sebarang kemayian ada kehidupan lagi ! Sejauh wilayah keyakinan hubungan dengan Yang Ilahi !

Silakan Beri Komentar