Bahaya Penjajahan Budaya

Sadar atau tidak, kita seringkali dijajah oleh berbagai budaya. Budaya yang dimaksud di sini adalah budaya yang berasal dari belahan dunia lain seperti misalnya budaya barat. Terlebih lagi sekarang kita mulai terjajah dengan budaya yang sama-sama dari belahan dunia yang tidak jauh dari Indonesia seperti budaya Jepang dan Korea.

Bagaimana bisa kita dikatakan terjajah oleh budaya tersebut? Ambil contoh budaya Korea, kita seringkali melihat berbagai iklan yang berbau Korea dengan segala asesoris dan gaya Korea. Gayanya imut-imut seperti yang ditiru oleh grup penyanyi lokal kita seperti Cherrybelle atau JKT48. Belum lagi budaya cowok cantik ala Korea yang dianggap cowo keren oleh para gadis Indonesia. Belum lagi ditambah sinetron dan berbagai film Korea. Alamak.. Dari grup dan film semacam inilah maka budaya Korea tersebut dapat tersebar sedemikian rupa dengan bantuan dari media massa kita, baik itu melalui televisi maupun internet. Gaya yang mereka bawa tersebut sangat identik dengan gaya artis Korea yang notabene cute sehingga menghasilkan kesan kalau memakai gaya atau asesoris yang mereka pakai, maka akan jadi cute juga. Dari sinilah secara bertahap budaya Korea ini menyebar di Indonesia.

Hal ini juga didukung oleh berbagai perusahaan yang ingin produknya dikaitkan dengan gaya Korea sehingga terjadilah advertising dan cultural bombing yang dilakukan tidak hanya oleh produk hasil Korea melainkan juga produk  yang dibuat oleh perusahaan dalam negeri. Mulai banyak yang memproduksi berbagai aksesoris yang berbau Korea dengan harapan dapat terjual dengan mudah karena sedang trennya budaya tersebut. Hal ini cukup bagus dari segi perekonomian karena tingkat konsumsi yang tinggi dapat menggerakkan perekonomian secara lebih dinamis. Namun, dalam jangka panjang hal ini tidak bagus. Tidak bagusnya di mana? Kita kecolongan bahwa lambat laun kita melupakan kekayaan budaya yang kita miliki. Bukannya menyebarkan budaya kita ke negara lain malah kita membantu menyebarkan budaya orang lain ke budaya orang Indonesia.

Berbahayanya di mana? Ketika produk Korea sudah melekat dalam benak anak-anak bangsa Indonesia yang masih muda ini, mereka akan cenderung berkomitmen kepada produk Korea yang asli. Mereka akan bangga apabila memakai produk asli Korea. Mereka juga akan tergerak untuk membiayai diri mereka agar bisa berlibur ke Korea demi kebanggaan diri mereka. Padahal di Indonesia banyak tujuan wisata yang masih jarang dijamah. Alhasil uang orang Indonesia lari ke Korea atau negara-negara lain yang gayanya sedang diikuti. Dikarenakan di Indonesia sedang demam Korea, maka Korealah yang patutnya dibahas.

Bayangkan apabila kita memiliki kekuatan massal yang mampu membuat budaya kita menggempur negara lain? Misalnya kita duniakan batik Indonesia. Berapa banyak orang di dunia ini yang akan bangga ketika memakai batik? Berapa banyak yang akan bangga apabila berkunjung ke Indonesia dan membeli batik, lalu dipakai di negara asalnya. Berapa banyak yang tenaga kerja yang bisa digerakkan untuk memenuhi permintaan impor batik dari luar negeri? Sungguh akan banyak! Terlebih lagi kita mendapatkan nilai kemenangan berupa branding batik di seluruh belahan dunia bahwa batik itu Indonesia dan sangat bernilai harganya. Ini hanya contoh batik saja. Masih banyak yang bisa dieksplorasi dalam budaya Indonesia yang sangat kaya ini.

Kita mestinya berbangga hati ketika melihat orang di Paris memakai batik, orang di Seoul memakai batik, orang di Los Angeles memakai kebaya. Betapa berbedanya dan menariknya orang-orang tersebut, dan tentunya perbedaan tersebut menarik orang untuk mengetahuinya lebih jauh. Mengetahui apa yang dikenakan orang-orang tersebut adalah produk atau budaya Indonesia. Tidak apalah batik diproduksi oleh negara Cina yang notabene dapat memproduksi barang KW dan lebih murah harganya. Toh mereka dapat membantu penyebaran budaya Indonesia ke berbagai negara. Kita sudah menang di situ, makin banyak yang membajak dan memakai maka makin banyak yang tahu. Ketika orang sudah tahu maka akan tertarik untuk mencari asal usul produk Indonesia itu sendiri seperti halnya batik. Tujuan kita di sini adalah bukan menghasilkan uang dari batik atau budaya, tetapi menghasilkan harga diri bangsa yang lebih tinggi dan menjadikan masyarakat Indonesia bangga terhadap budaya dan negaranya sendiri.

Coba kita lihat betapa bangganya orang Jepang dengan Kimono, Samurai, dan Ninja mereka. Sehingga terlihat keren bagi orang Indonesia kalau sudah pernah ke Jepang, memakai Kimono, mengenakan zirah para Samurai, dan memiliki peralatan Ninja. Belum lagi dengan budaya berbagai agama yang bukan berasal asli dari Indonesia. Kita seharusnya bisa memaksa orang di luar negeri sana merasa keren kalau memakai batik, memiliki keris, songket, tato dari suku Dayak, atau memakai peci.

Adanya kritik di atas bukan berarti mengharamkan kalau kita sering pergi ke luar negeri atau mengagumi budaya negara lain, tetapi yang lebih dipentingkan adalah meletakkan budaya ibu pertiwi di atas budaya negara lain, bukan sebaliknya. Selain itu, bukan berarti kita menjadi fanatik dengan budaya kita sampai-sampai pergi meeting atau naik kereta pakai kebaya atau pakaian adat masing-masing suku yang ada di Indonesia. Kan bakal repot tuh kalo naik Trans JakartaTrans Jogja, atau Commuter Line kita pakai kebaya atau koteka 😀 Makanya jangan pula terlalu fanatik, bersikaplah selayaknya orang yang punya akal, tempatkanlah sesuatu sesuai dengan fungsinya sehingga yang terjadi adalah harmonisasi, bukan katastropi.

Saat ini, kita tidak hanya kalah secara ekonomi, tetapi juga budaya. Oleh karena itu, mari lestarikan budaya yang ada di Indonesia sehingga masyarakat dunia juga ikut bangga dengan menggunakan produk dan budaya kita, jadikan budaya kita bernilai di mata seluruh umat manusia, jangan kita terus yang kalah. Bagaimanapun caranya!

Tags: , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

4 tanggapan untuk “Bahaya Penjajahan Budaya”

  1. Saepudin
    February 16th, 2014 at 11:04 | #1

    memang betul mas, kita mesti mengjungjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa tetapi yang perlu kalian ingat jangan diskriminasi karena bangsa indonesia bukan orang jawa saja.

  2. March 7th, 2014 at 12:45 | #2

    Njuk kudu piye? 🙂
    Apa kabar Pril?

    • March 11th, 2014 at 12:08 | #3

      kudu melestarikan budaya donk.. kabar baikk makasih udah mampir bu guruuu

  3. Nonya Schäfer
    July 1st, 2016 at 14:13 | #4

    Kenapa anda tidak bicara penjajahan budaya ARAB yg sekarang sedang terjadi dan yg justru paling berbahaya krn menggunakan tameng AGAMA?.

Silakan Beri Komentar