Apa Itu Sosialita?

socialite

Kata “sosialita” sudah tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Terdengar bahwa sosialita itu merupakan cerminan gaya hidup yang glamor, kelas atas, dan hanya untuk kalangan terbatas. Kebanyakan dari anggota sosialita yang terlihat adalah wanita. Mereka biasanya memakai pakaian yang serba bermerek dari butik kenamaan. Tidak hanya itu, untuk tampil menjadi sosialita sejati mereka juga harus memiliki, utamanya, tas bermerek seperti yang sekarang lagi digandrungi seperti Hermès, Gucci, Chanel, Reed Krakoff, Louis Vuitton, Ralph Lauren, Givenchy, Bvlgari, dan Lanvin yang harganya berkisar antara $2,000 – $15,000. Hal ini juga dikuatkan dengan fakta adanya Event Organizer (EO) bernama Haute Lister yang didirikan oleh Yulie Setyohadi.

Tas Hermes Ostrich

Hermes Ostrich (Rp200-300 juta-an)

Untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Haute Lister, peserta wanitanya harus menggunakan tas kulit asli dengan harga puluhan juta rupiah dengan jam tangan mewah seperti Rolex (Handini, 2013). Belum lagi mereka juga harus tampil bersinar dengan memakai perhiasan yang ada berliannya. Dengan demikian, mereka bisa tampil percaya diri untuk menunjukkan bahwa mereka adalah kaum sosialita berkelas yang selalu up to date dengan perkembangan fashion. Begitulah kira-kira bayangan sosialita yang dapat dilihat di masyarakat Indonesia belakangan ini.

Definisi Sosialita

Pada majalah Town and Country dalam artikel yang berjudul What is a socialite? diceritakan berbagai macam seluk beluk sosialita secara definitif. Dalam artikel tersebut Robert L. Peabody mendefinisikan sosialita sebagai seseorang yang berpartisipasi dalam aktivitas sosial dan menghabiskan sebagian banyak waktunya untuk menghibur sekaligus mendapatkan hiburan. Hal itu ia ungkapkan di gereja St. James New York ketika menjawab pertanyaan apakah Judith Peabody adalah seorang sosialita. Robert menjawab bahwa Judy yang merupakan seorang filantropis bukanlah sosialita. Sementara itu definisi lain menyebutkan bahwa sosialita adalah seseorang yang memiliki perilaku sopan santun tetapi tidak berlebihan, bersikap ramah tetapi disegani, tahu bagaimana caranya agar dapat menarik perhatian bahkan ketika makan, dan tidak pernah membicarakan aktivitas yoga atau berbicara tentang asupan makanan terhadap diri mereka karena mereka lebih tertarik pada hal lain daripada diri mereka sendiri.

Studs Terkel, seorang antropolog sosial, telah mewawancarai seorang wanita dari kelas pekerja blue-collar bernama Sugar Rautbord. Dari wawancara tersebut Rautbord mengatakan bahwa sosialita adalah gadis pekerja kelas atas dan pekerjaannya adalah menggalang dana. Sedangkan, Inti Subagio dalam Roesma (2013:363) mengatakan bahwa kata “socialite” diambil dari kata “social” dan “elite” yang dimulai dari keluarga kerajaan di Eropa yang selalu mendapatkan perlakuan VVIP. Sebagai kaum elit mereka tidak perlu merasakan bekerja, berkeringat, ataupun mengantri, kehadiran merekapun dipuja dan diharapkan. Mereka juga harus memiliki prestasi dari segi sosial seperti memiliki yayasan, tidak hanya bermodalkan darah biru atau keturunan bangsawan saja. Dalam konteks fenomenon sosialita di Indonesia, buku KOCOK! UNCUT: The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites yang ditulis oleh Joy Roesma dan Nadia Mulya menyebutkan sebuah pendapat bahwa sosialita adalah orang yang sering datang ke event gaya hidup dan diburu fotografer. Dari berbagai definisi yang telah disebutkan di atas dapat dilihat betapa bervariasinya arti kata sosialita.

Sosialita Berkualitas

johanna schopenhauer

Johanna Schopenhauer

Seseorang yang disebut sebagai sosialita juga dikaitkan dengan kemampuan intelegensia yang tinggi dan terpelajar seperti Mary Borden sebagai filantropis yang murah hati, perawat pemberani, dan penulis yang produktif (Gromada, 2009); Ibu dari Arthur Schopenhauer yaitu Johanna Schopenhauer sebagai novelis terkenal di Jerman (Hannan, 2011); dan Juliette Hampton Morgan sebagai pembela hak sipil di Amerika Serikat (Hannah, 2011).

Tiga tokoh di atas disebut sebagai sosialita dan mereka adalah orang yang memiliki kontribusi besar bagi masyarakat. Hal ini sangat berlawanan dengan konteks sosialita di Indonesia yang mementingkan fashion, gaya hidup mewah, dan cenderung terkait dengan wilayah selebriti. Dapat diakui bahwa ada pergeseran pengertian kata “sosialita” di Indonesia atau memang penggunaan kata “sosialita” yang sebenarnya belum dipahami dengan baik. Bisa jadi juga disebabkan karena kesalahpahaman pengertian si pendengar terhadap bahasa yang sering disebut-sebut di masyarakat. Pada kenyataannya para pendengar tidak mengetahui kondisi mental (mental state) pembicara sehingga penerjemahan atau tafsir terhadap suatu kata yang didengar hanya berdasarkan pada asumsi persepsi orang kebanyakan (Wray, 2003).

Sekilas Sosialita Indonesia

Kembali lagi ke pokok permasalahan apa itu sosialita? Demi peneguhan bahwa kata sosialita di Indonesia bersifat konotatif atau berlawanan dari kata sosialita yang memiliki makna positif, pengamat budaya Veven Wardhana berpendapat bahwa kegiatan sosialita di Indonesia lebih cenderung pada kelompok arisan, barang mewah, rumpi, faktor kekayaan, dan profesi mentereng (Indrietta, 2013). Veven juga berpendapat bahwa ada juga kelompok sosialita yang terlibat dalam kegiatan sosial. Namun yang patut dipertanyakan di sini adalah sejauh mana pemahaman dan penghayatan kegiatan sosial kaum sosialita tersebut dibandingkan dengan penghayatan terhadap kegiatan gaya hidup mewah? Sudah tersebar pula berita bahwa di Indonesia terjadi charity setting-an seperti yang dialami oleh Valencia Mieke Randa dan diceritakan pada blog pribadinya dengan judul Charity Settingan. Kegiatan charity atau amal yang dimaksud adalah kegiatan amal yang dibuat-buat sehingga menciptakan kesan kepedulian para sosialita, padahal acaranya hanya sebagai ajang pamer saja. Hal yang seperti inilah yang membuat kata sosialita memiliki kesan negatif di Indonesia, itupun baru yang terlihat saja, bagaimana yang tidak terlihat?

Nah, sekarang sudah jelas bagaimana kata sosialita memiliki dua makna yang berlawanan. Tinggal kebijaksanaan masing-masing saja mau mendefinisikan dan didefinisikan sebagai sosialita yang mana. Tapi yang jelas selama sosialita berkecimpung dalam kegiatan sosial yang tulus dan diikuti dengan gaya hidup mewah, kalau mampu, kenapa tidak? Toh tidak merugikan siapapun juga. Sebaliknya, kalau mengadakan kegiatan sosial demi mencari simpati, ketenaran, dan diikuti dengan gaya hidup yang sok bermewah-mewahan, padahal tidak mampu, apa itu tidak menyiksa diri sendiri? Menurut saya, kalau tas saja masih KW masa berharap dianggap orang kelas atas? 😀

Referensi:

  • Anonim (2011), What is a socialite?, Town and Country, Vol. 165, hal. 124, Hearst Magazines, a Division of Hearst Communications, Inc., New York.
  • Gromada, Jennifer (2009), Introduction, Modernism/Modernity, Vol. 16 No. 3, hal. 599-600, Johns Hopkins University Press, Baltimore.
  • Hadriani (2013), “Syarat Jadi Sosialita Sesungguhnya”, http://www.tempo.co/read/news/2013/04/28/219476350/Syarat-Jadi-Sosialita-yang-Sesungguhnya, diakses pada 10 Juli 2013.
  • Hannah, Barbara (2011), Schopenhauer: A biography, Journal of the History of Philosophy, Vol. 49 No. 2, hal. 261-262, Johns Hopkins University Press, Baltimore.
  • Indrietta, Nieke (2013), “Apa Beda Sosialita Indonesia dan Sosialita Dunia”, http://www.tempo.co/read/news/2013/04/26/108476154/Apa-Beda-Sosialita-Indonesia-dan-Sosialita-Dunia, diakses pada 10 Juli 2013.
  • Roesma, Joy dan Nadia Mulya (2013), “KOCOK! UNCUT: The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites”, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Stanton, Mary (2004), Juliette Hampton Morgan: From Socialite To Social Activist, Alabama Heritage, No. 73, hal. 24-29, 
    Alabama Heritage, Tuscaloosa.
  • Wray, Alison (2003), Simulating the evolution of language, Journal of Linguistics, Vol. 39 No. 2, hal. 395-400, Cambridge University Press, Cambridge.

 

Tags: ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

4 tanggapan untuk “Apa Itu Sosialita?”

  1. Subono
    July 16th, 2013 at 07:37 | #1

    saya sangat tidak tertarik sekali dengan kehidupan sosialita

  2. Saepudin
    February 16th, 2014 at 11:08 | #2

    Sosialita penjajahan bagi kaum miskin,penindasan hak, serta pembodohan. tidak ada artinya sama sekali hanya menimbulkan kesenjangan sosial, Diskriminasi, perpecahan atau disintegrasi bangsa seperti yang kita alami sekarang.

  3. karina
    April 24th, 2015 at 18:14 | #3

    saya di sangka ibu2 sosialita ketika di tanya lagi apa? saya jawab lagi nyupir, padahal maksud saya nyuci piring.

  4. James A. Jurhill
    July 19th, 2016 at 19:36 | #4

    Jika aku didestinasikan (destined) untuk berada orang kaya, memang salah saya? Tuhan menentukan siapa yang kaya dan siapa miskin, seperti kehidupan kita dalam tanganNya. Saya menggunakan motor ‘Mio’, tapi ada orang yang memakai HD(Harley Davidson). Keduanya sarana transportasi yang mengangkut saya dari A ke B. Sya bisa memakai Mio atau HD. Yang penting adalah sasarannya, bukan kemewahannya! Kalau Tuhan mengizinkan orang menjadi kaya, siapalah kita yang mau mengritik Tuhan. Itulah hak Tuhan dan orang yang diberuntung oleh Tuhan. Dan kalau orang Sosialita atau Haute Lister bertindak sebagai dermawan/dermawanita, bagus toh! Akhirnya setiap orang pernah bayar tanggung jawab terhadap Tuhan. Hanya itu saja.

Silakan Beri Komentar