Kesunyian, Kesendirian, dan Kegilaan

Kesunyian adalah hal yang menenangkan bagi sebagian orang, tetapi juga bisa menjadi malapetaka. Kesunyian bisa menyebabkan kesurupan kalau sendiri. Ketika sunyi dan kita sedang bersama orang yang kita cintai, sunyi sungguh menjadi hal menyenangkan baik dalam arti konotatif maupun denotatif. Sebaliknya, apabila kita sedang dalam kesunyian dan kesendirian maka salah satu yang bisa muncul adalah kegilaan.

Sendiri dalam sunyi adalah kesenangan sesaat, setelah kesenangan selesai kegilaan akan muncul. Kegilaan diawali dari kebosanan yang luar biasa akibat dari kesendirian ditambah suasana yang begitu sunyi. Being alone tidaklah menyenangkan kecuali seseorang mengalami kelainan mental tertentu. Menjadi orang dengan muka culun, tidak lucu, tidak pintar, bentuk badan yang tidak ideal, tidak ada wanita yang melirik, dan hidup dengan penuh penyesalan adalah orang yang sendiri. Bahkan orang yang hanya memiliki satu kekurangan tersebut saja bisa menjadi orang yang sendiri. Hal ini disebabkan oleh rasa dan pikiran yang begitu rumit, berputar-putar, dan berandai-andai.

Pengandaian berlebih adalah jembatan menuju kegilaan. Pengandaian tanpa aksi dan tidak realistis membuat tenaga terkuras habis, lebih lelah daripada kerja bangunan seharian. Pikiran adalah sumber kekuatan sekaligus penguras kekuatan. Pikiran yang termotivasi akan menghasilkan kekuatan untuk mencapai tujuan, tetapi pikiran yang pesimistis menghasilkan kelemahan sehingga berbagai permasalahan yang tidak perlu dipikirkan jadi masuk dalam pikiran. Tubuh akan lemah karena menangkap sinyal pikiran yang tidak mengindikasikan bahwa akan ada perjuangan ataupun usaha dalam mencapai tujuan, tubuh tidak bereaksi positif. Tubuh lemah dipikirkan kembali, apakah aku ini sakit? Ah, aku lemah aku tidak bisa melakukan ini dan itu. Dengan demikian, kita telah mencapai gerbang kegilaan.

Gerbang kegilaan tidak bisa dibuka begitu saja. Gerbang kegilaan memiliki beberapa gembok yang harus dibuka satu persatu. Kuncinya adalah rasa lapar, rasa cemas, rasa sakit, rasa cemburu, rasa iri, rasa dengki, rasa tidak bisa memiliki, dan rasa kehilangan. Jika semua kunci tersebut sudah bisa membuka semua gembok gerbang kegilaan, maka seseorang tinggal memilih untuk membukanya lalu masuk atau menguncinya lalu kembali ke kesadaran.

Kegilaan dalam pengertian ini tidak pernah enak. Kegilaan seperti ini diibaratkan seperti bertarung dalam perut setan, tidak akan bisa keluar kalau tidak dirobek karena setan selalu lapar dan tidak pernah muntah. Oleh karenanya, hindarilah jembatan kegilaan.

Ada beberapa tips untuk menghindarkan diri dari kegilaan, yaitu sebagai berikut:

  • Jangan bermain sendirian terlalu lama
  • Bermainlah dengan teman-teman, atau pasangan
  • Menangis
  • Lunasi utang material maupun non-material
  • Kerjakan pekerjaan
  • Berburu atau memancing
  • Berolahraga
  • Curhat atau berkeluh kesah lewat komunikasi satu arah atau antarpersonal
  • Lihat berbagai foto korban perang di Palestina atau anak-anak kelaparan di benua Afrika
  • Sujudlah di lantai dan berdoa pada Tuhan
  • Lakukan pekerjaan yang melelahkan lalu cepat tidur
Tags: ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

Satu tanggapan untuk “Kesunyian, Kesendirian, dan Kegilaan”

  1. June 16th, 2013 at 11:06 | #1

    masih aktif nieh bro.. keren..:)

Silakan Beri Komentar