Rumah Perlindungan Bagi Bayi Terbuang Setuju atau Tidak?

Hari ini saya mendapat berita dari koran Sinar Harapan (6/9) yang berjudul “Malaikat” Korsel Diadang Kritik. Saya membaca berita tersebut karena terbesit sebuah pertanyaan dalam pikiran saya yaitu kenapa malaikat bisa menghadapi kritik? Ternyata persoalannya adalah malaikat tersebut membuka sebuah rumah perlindungan bagi bayi yang terbuang.

Kebanyakan dari bayi yang dibuang oleh orang tuanya ini memiliki cacat fisik atau mental. Sang malaikat, Pastor Lee Jong-rak, memasang boks di depan rumahnya pada bulan Desember 2009 sebagai wadah untuk menampung bayi yang ditelantarkan. Rumah tersebut sekarang dinamakan Komunitas Cinta Tuhan. Dalam rumah tersebut sudah diadopsi dan dirawat 20 anak-anak oleh Komunitas Cinta Tuhan. Lee tidaklah sendiri, ia bekerja bersama 280 sukarelawan lainnya.

Bantuan dari para sukarelawan belumlah cukup karena persoalan keuangan menjadi masalah paling vital di sini. Keuangan didapat dari para donatur dan juga sedikit dari pemerintah.

Kontroversi Boks Bayi

Tidak luput, hal ini menimbulkan kontroversi dan komentar serangan dari Kementerian Kesejahteraan dan Kesehatan Korea Selatan. Mereka memerintahkan supaya boks bayi tersebut ditutup. Mereka berargumentasi bahwa boks bayi dan tempat perlindungan tersebut memotivasi para orang tua untuk menelantarkan bayi mereka dengan mudah. Jadi, para orang tua tidak usah berpikir panjang untuk membuang bayi mereka.

Kementrian tersebut juga mengatakan bahwa ada cara yang lebih layak dan sesuai hukum untuk melindungi bayi-bayi terlantar, yaitu dengan melaporkan kasus itu dan memindahkannya ke fasilitas yang legal.

Etiskah Tindakan Pastor Lee?

Dalam perspektif etika tindakan Pastor Lee adalah tindakan paling etis dalam ranah etika yaitu menolong nyawa. Namun, secara kontekstual hal ini menjadi hal yang dapat diperdebatkan. Perdebatan tersebut dapat diuraikan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  • Mengapa Lee membuka rumah perlindungan bayi terlantar kalau memang ada fasilitas legal yang disediakan pemerintah?
  • Mengapa pemerintah memberikan tunjangan (meski sedikit) kepada Lee untuk mengurus bayi-bayi tersebut? Apakah hal ini berarti tidak adanya fasilitas untuk mengurus bayi-bayi tersebut?
  • Pastor Lee menolong nyawa, sedangkan orang tua menelantarkan anaknya, mana yang lebih baik Lee atau orang tua tersebut?
  • Apakah dengan ditiadakannya rumah perlindungan bayi Pastor Lee akan mengurangi pembuangan bayi cacat?
  • Jika kita sebagai bayi yang ditelantarkan tersebut mana yang akan kita pilih, hidup terlantar tanpa ada yang mengurus atau dibesarkan oleh Pastor Lee dengan kasih sayang?
  • Apakah perorangan, instansi, atau pemerintah dapat menjamin bahwa dengan ditiadakannya rumah perlindungan bayi, bayi-bayi tersebut akan tetap hidup dan tidak terlantar?

Menurut saya, tindakan Lee memang tidak menyelesaikan masalah utama. Masalah utamanya di sini adalah tentang pembuangan bayi oleh para orang tua. Orang tua inilah yang harus dididik agar tidak melakukan tindakan kriminal pembuangan bayi.

Namun dalam hal ini, Lee telah melakukan yang terbaik karena menolong nyawa orang lain lebih baik daripada sekedar menangkap atau menghukum pelaku pembuangan bayi saja. Tetapi, bukan berarti menangkap pelaku pembuangan bayi itu merupakan hal yang tidak wajib dilakukan, tetap wajib dilakukan! Masa iya, pelaku kejahatan dibiarkan.

Bagaimana pendapat Anda?

 

Tags: , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

4 tanggapan untuk “Rumah Perlindungan Bagi Bayi Terbuang Setuju atau Tidak?”

  1. September 7th, 2011 at 10:37 | #1

    pasti setuju, tindakan kritis yang brmanfaat..
    mnolong nyawa orang lain lbih baik kata kata yang simpel tetapi sangat bermakna.

  2. mustika rina melati
    November 19th, 2011 at 11:18 | #2

    saya tidak suka ada ortu buang anak sesukanya. tapi bayangkan kl dibuang begitu saja bisa2 kita akan menemukan berita seorang bayi mati gara2 kedinginan or kurag makan, toh kl dipaksakan hidup dng ortu yang tdk sayang bisa2 tu anak akan tersiksa hidup dengan ortu

  3. glaydenty
    March 12th, 2012 at 12:45 | #3

    tindakan dari sifat suatu objek memang selalu bernilai ganda seperti 2 sisi mata uang logam.

    saya pribadi setuju bila kondisinya berikut ini :

    bila sekiranya fasilitas yang tersedia mencukupi
    DAN memang itikad baik pastor tulus
    DAN tata cara pola asuh bagi si bayi terbuang
    DAN dilakukan secara diam-diam.

    sebaiknya tidak mengumumkan keberadaan “rumah perlindungan” secara umum, jelas saja akan mengundang kontroversi (ingat pikiran manusia itu gendheng lho)

  4. doni
    October 13th, 2012 at 12:24 | #4

    sebenarnya hal yg semacam ini ….. adalah bentuk pertanggung jawaban dari orang tua dan pemerintahan ….
    begitupun dengan pemerintahan harus tegas dalam menangani masalah ini ?

    seorang pastur yg menolong seharusnya malah di suuport ,,namun titik dari permaslahnnya bukan pada pastur yg mnlamatkan bayii … orangtua nyalah yg harus diintrogasi dimana hak dan kewajiban orang tua kepada anaknya … jangan mau ENAK gag MAU ANAK nya

Silakan Beri Komentar