Hubungan Antara Blackberry dan Budaya Gengsi di Indonesia

Beberapa tahun yang lalu begitu mewabah fenomena Blackberries. Suatu alat telekomunikasi yang baru dan canggih yang bisa mengirimkan informasi dengan cepat. Tapi bukan itu yang dikejar dalam membeli Blackberry. Tetapi status. Kadang orang membeli blackberries tanpa tahu apa kegunaanya atau featurenya. Semua dilakukan hanya karena gengsi. Tidak semua memang, aku terlalu menggeneralisasi semuanya. Tapi perlu diakui mau atau tidak penjualan Blackberry berkaitan dengan gengsi.

Blackberry menjadi kode status bagi orang-orang kaya. Blackberry menjadi semacam handphone mahal yang dimiliki eksekutif dan bussinesman, orang-orang ini yang memang membutuhkan informasi yang cepat dan tepat. Lalu orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu mengerti mengenai kelebihannya mendengarnya karena blackberry begitu populer dan membelinya. Padahal kemungkinan besar mereka tidak membutuhkannya, kalaupun mau Blackberry tidak ada teman yang diajak untuk itu. Kepopuleran Blackberry di Indonesia didukung pula dengan popularitas mengenai Obama yang juga punya handphone Blackberry.

Aliran membeli suatu hal karena gengsi bukan hal baru di Indonesia. Apalagi barang-barang baru yang berteknologi tinggi. Anak-anak orang kaya akan menjadi sangat bangga ketika dia mendapat handphone Blackberry yang bisa dipamerkan ke teman-temannya. Apalagi jika teman-teman mereka menggunakan Blackberry, akan sangat memalukan kalau mereka tidak punya. Blackberry telah menjadi simbol status sosial.

Seorang yang memiliki Blackberry memiliki simbol modernitas, kemajuan dan kekayaan. Suatu hal yang sangat dijunjung tinggi di masyarakat kita. Hal ini bukan barang baru, seperti pada masa dahulu orang-orang membeli peralatan modern demi status. Supaya tampak maju dan mengikuti perkembangan zaman. Blackberry adalah contoh bagaimana sebuah benda bisa dilepaskan dari fungsinya dan bergerak di ranah simbol. Tapi kita juga harus memperhatikan bagaimana alat itu digunakan dan difungsikan. Apakah berguna ataukah tidak.

Tags: , , ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

5 tanggapan untuk “Hubungan Antara Blackberry dan Budaya Gengsi di Indonesia”

  1. Amin
    August 22nd, 2011 at 19:01 | #1

    Saya pun ada hasrat untuk punya Blackberry. Cuma sayang, kantong saya tidak mencukupi.

    Motivasi saya, tentu saja selain ikut trend, juga ingin tahu ada apa di balik Blackberry itu. Kalau saya tidak punya barang canggih bin mahal itu, bagaimana saya bisa ngomong tentang itu?

  2. Khairil
    February 12th, 2012 at 19:38 | #2

    sebenarnya sih kalau saya bilang blackberry lebih cocok ke orang yang membutuhkan businessman atau siapa saja yang memang butuh transfer data cepat bahkan sekarang saja untuk bbm saya rasa sudah mulai sering pending karena terlalu banyak orang yang menggunakan hal yang tidak penting… seperti curhat dan maki2

  3. banzar
    February 20th, 2012 at 13:54 | #3

    Kita punya blakberry namun cara penggunaan masih didalami cara dan metodenya yah gampang2 susah .

  4. bian
    September 11th, 2012 at 01:16 | #4

    kebiasaan orang indonesia lebih gede gengsinya dari pada kebutuhannya maka kelaperan trus, orang bbnya yg dkash makan terus biar tambah gede gengsinya!!!!

    makan tuh gengsi

  5. January 11th, 2014 at 20:13 | #5

    Karena sebagian besar orang kita indonesia
    Selalu dan selalu ”mndahulukan keinginan bukan kebutuhan”
    Pasti konotasinya akan seperti itu bkn pd Product ”Blackberry” aja tp ”setiap /siapa sj yg ingin memiliki sUatu barang bkn atas kebutuhan,
    Selebihnya ya gengsi gengsian.

Silakan Beri Komentar