Makna “Kita! Lo aja Kali!” Dari Sudut Pandang Filsafat Politik

Sangat menarik jika kita memperhatikan logika bahasa dalam bahasa Indonesia belakangan ini. Suatu istilah guyonan baru muncul begitu saja di tengah dunia kita. Istilah ini sepertinya dimulai dari kaum muda dilihat dari struktur bahasa dan jenis bahasanya yang condong ke bahasa gaul. “Kita? Lo Kali?”

Istilah ini jika diperhatikan sangat menarik karena ini sangat berguna ketika kita berada dalam sebuah diskusi. Dalam sebuah diskusi, seringkali seseorang mereferensi diri sebagai “kita”. Menggunakan kata kita dalam sebuah rapat misalnya seakan mewakilkan diri sebagai suara dari mayoritas. Kita sebagai suku, kita sebagai bangsa, kita sebagai kelompok. Kata kita merupakan kata yang bisa mencakup saya dan kamu, namun bisa juga menegasikan kamu sebagai bagian dari kita.

Kadang menjengkelkan ketika kita melihat seseorang mereferensi diri sebagai kita. Seakan-akan orang-orang telah direduksi pendapatnya dan opininya menjadi bagian dari sebuah kelompok. Suara itu menjadi suara yang mewakilkan secara keseluruhan. Baik apabila pendapat-pendapat itu memang sama, apabila tidak?

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat menjunjung tinggi kebersamaan. Kita menganut prinsip gotong-royong artinya melakukan segala sesuatu bersama. Ini adalah nilai yang luhur dan sangat menarik dalam kebudayaan kita. Namun demikian saya lumayan tidak senang kalau prinsip macam ini selalu dilakukan. Seperti ronda, seindah apapun itu, rasanya satpam jauh lebih rapi. Belum lagi prinsip musyarawarah mufakat, dimana suatu keputusan yang diambil harus memuaskan semua pihak. Padahal bisa jadi suara yang didapat hasil aklamasi dimana suara mayoritas dikalahkan suara-suara vokal. Keputusan yang parsial kemudian diungkapkan sebagai universal.

Tapi menurut saya kesadaran individualistis mulai muncul, terutama di kalangan mudanya. Berkat pendidikan dan informasi di segala segi, masyarakat indonesia semakin terpapar oleh pola pikir barat. Pola pikir yang tidak selamanya buruk.

Ketika kita merasa bahwa seseorang menjadikan pendapatnya umum dan mewakili keseluruhan, padahal itu pendapat pribadi yang tak semua orang setuju. Anda bisa bilang “Kami!? Lo aja kali!!”

Tags: ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

7 tanggapan untuk “Makna “Kita! Lo aja Kali!” Dari Sudut Pandang Filsafat Politik”

  1. November 7th, 2011 at 23:48 | #1

    Wahhh… Kasihan deh yang ciptain bahasa Indonesia kalo dah pada rancu… kebanyakan kosakata prokem… yang sudah mulai masuk ke jalur pendidikan non formal atau kursus…

    Sekalian bagi info gan tentang software pulsa yang gratissss!!
    http://kiossoftwarepulsa.com/index.php/download-demo/
    Monggo diseeeedot, dan dibagikan buat yang lainnya Gan…

  2. November 13th, 2011 at 07:12 | #2

    seringkali banyak kalimat yang gramatically ancur dah, pada merusak bahasa neh…

  3. November 13th, 2011 at 13:11 | #3

    Saya setuju penggunaan kata kata santai pada bahasa sehari hari karena memberikan rasa rileks dan santai. Tetapi untuk penulisan harusnya menggunakan lebih bahasa yang baku….

  4. Tri astono Taufiq
    February 3rd, 2012 at 11:47 | #4

    Kita??? Lo aja kali…

  5. will
    March 4th, 2012 at 15:32 | #5

    yg pasti mudah dmngerti dn tidak mnjdkn pengetian ganda at lebih…;))

  6. agen ace maxs padang
    December 7th, 2012 at 10:51 | #6

    wuaahh ya fenomena fenomena bahasa seperti itu yang sekarang musim di kalangan muda

  7. March 1st, 2013 at 14:09 | #7

    wahh batu nih, jadi begitu tuh maknanaya. makasih banyak infonya.. ane berui tau nih, lumayan dapet wawasan baru nih berkunjunga kemari..

Silakan Beri Komentar