Berpikir Untuk Makan atau Makan Untuk Berpikir?

Sebuah pertanyaan antara telur atau ayam. Apakah kita makan untuk berpikir atau berpikir untuk makan? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menjadi dasar perdebatan antara materialisme dan idealisme.

Aku yakin Marx akan membela mati-matian berpikir untuk makan dan para idealis akan berpendapat bahwa makan berguna untuk berpikir. Namun pertanyaan ini sederhana sekali sampai aku yakin kalian bisa memahami pertanyaannya namun juga sangat sukar untuk menjawabnya.

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang amat sangat realistis. Rasanya tidak mungkin kita berpikir tanpa makan. Berpikir tanpa makan hanya akan menyebabkan pikiran kita ngaco ke sana kemari kelaparan. Coba bayangkan, kita sendiri saja susah konsentrasi kalau ujian dan kelaparan. Bagaimana kita bisa bekerja dengan baik kalau kita kelaparan. Sebaliknya, kita tidak bisa lepas dari berpikir kalau sudah makan. Jadi sebenarnya makan dan berpikir itu sudah pasti kita lakukan karena kita hidup.

Jawaban yang paling di pahami umum adalah bahwa kita berpikir untuk makan. Ini mudah di pahami tiap hari kita memutar otak untuk memenuhi kebutuhan harian kita. Begulat dengan realitas hanya demi sesuap nasi. Kenapa kita susah-susah sekolah. Adalah untuk cari makan tentu saja. Tiap hari orang orang berusaha keras dengan pikirannya, berusaha agar besok bisa makan nasi. Tentu saja kita berpikir untuk bisa makan.

Jawaban yang kedua sama logismya dengan jawaban yang kedua. Sebagian dari kita tidak mencari makan dan memenuhi kehidupan kita demi satu hal. Namun demi hal lain. Misal seperti pelukis dia mencari makan untuk bisa melukis. Sebagian makan demi mempertahankan hidupnya, dan itu nampaknya didedikasikan untuk hal lain. Berpikir maksudnya supaya dia bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Makan agar bisa berpikir sebaiknya bagaimana menulis buku yang baik, lukisan yang baru dan semacamnya.

Sebagai contohnya adalah para petapa dan meditasi. Mereka hanya makan secukupnya untuk beribadah. Mereka menjernihkan pikiran mereka untuk menggapai realitas tertinggi. Memang saya agak mengeneralisir maksud daripada berpikir. Namun demikian rasanya bisa saja dimasukkan dalam kategori berpikir. Merenung dan berfilsafat.

Jadi apakah kita makan untuk berpikir atau berpikir untuk makan?

Tags: ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Belum ada tanggapan untuk “Berpikir Untuk Makan atau Makan Untuk Berpikir?”

Silakan Beri Komentar