Logika Teka-Teki Perubahan

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat sederhana namun demikian sangat menarik. Pertama dinyatakan bahwa Ayam jadi monyet, monyet jadi manusia, kemudian pertanyaan dilanjutkan ke manusia. Apa yang terjadi dengan manusia? Jika kita melihat urutan pertanyaannya kita akan merasa bahwa deret pernyataan ini berurutan. Jika dilihat dari unsur logikanya :

  • a: A (Ayam) jadi M (monyet)
  • b: M (monyet) jadi X(manusia)
  • c: X (Manusia) jadi?

Tidak ada referensi tertentu antara C menjadi apa. C bisa menjadi V atau Y. Memang, jika dilihat secara matematika maka C seharusnya menjadi sesuatu . Tapi tidak ada pernyataan yang memberi petunjuk.

Jawaban dari tebak-tebakan ini adalah manusia menjadi bingung. Di sinilah letak kelucuannya. Di sini tebak-tebakan ini menggunakan dua makna kata “Jadi”. Dalam pernyataan a dan pernyataan b kata “jadi” memiliki makna ‘berubah’. Sedangkan pada makna c, berarti bermakna perubahan sikap. Orang menjadi salah menafsirkan kata berubah karena pada dua pernyataan pertama kata itu dimaksudkan sebagai berubah menjadi.

Padahal jika ditelisik lebih lanjut maka jawaban dari teka-teki ini tidak bisa diketahui karena tidak ada referensi khusus. Jika “jadi” memiliki makna berubah bentuk, maka jawabannya tidak bisa diketahui. Ini karena dua pernyataan di atas acak. Kenapa Ayam berubah menjadi monyet dan monyet manusia. Kita bisa mengumpamakan misalnya menuju ke jenis spesies lebih tinggi. Tapi itu hanya kira-kira saja.

Sebaliknya ada jawaban yang sudah sangat jelas dan sudah sangat pasti. Jawaban ini jelas karena suatu hasil dari kejadian dalam argumen a dan b. Jawaban itu cukup bisa diketahui dengan common sense. Jawaban itu adalah bahwa manusia menjadi bingung.

Jadi teka-teki ini menggantungkan diri dari perubahan makna kata ‘menjadi’. Karena dua kata menjadi di awal maka kita menjadi tertipu bahwa kata menjadi harus memiliki makna yang sama dengan yang ada di dua argumen yang awal. Kita juga jadi tidak bisa melihat alternatif jawaban yang berasal dari common sense.

Tags: ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Belum ada tanggapan untuk “Logika Teka-Teki Perubahan”

Silakan Beri Komentar