Manusia dan Bahasa Bunga

Pernah mendengar bahasa bunga? Manusia seringkali melihat kehidupannya dan alam semesta sebagai simbol-simbol. Alam semesta menjadi sumber dari simbol-simbol atau lambang-lambang yang mewakili hal lain. Dengan kata lain manusia menjadikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada maknanya menjadi bermakna sesuatu di luar dirinya.

Begitu pula bahasa. Bahasa terdiri dari signifiant dan signifie, yaitu penanda dan yang ditandai. Penanda tidak memiliki makna pada dirinya sendiri. Penanda bisa diberi makna apapun karena makna tidak melekat secara langsung. Huruf A misalnya hanya merupakan coretan garis-garis yang bisa dibaca sekehendak hati. Namun demikian dalam sebuah sistem bahasa dia memiliki makna jika dijejerkan dengan berbagai huruf lain.

Manusia juga sering menyimbolkan sesuatu. Mereka menyimbolkan misalnya sungai dan pohon sebagai kehidupan, ular sebagai kelicikan dan lain sebagainya. Padahal jika dilihat secara berbeda ada benda-benda yang tidak memiliki makna khusus seperti demikian. Kadang ini menyebabkan budaya-budaya memiliki makna-makna yang berbeda satu-sama lain.

Bunga juga tidak lepas dari penyimbolan ini. Karena itu terciptalah suatu apa yang disebut sebagai bahasa bunga. Bahasa bunga adalah suatu bahasa dengan menggunakan bunga sebagai penandanya. Dalam bahasa bunga, bunga memiliki makna-makna yang lain daripada dirinya sendiri. Dengan kata lain bunga adalah suatu benda yang diimbuhi suatu pengertian yang lain dari dirinya.

Misalnya bunga mawar merah, Mawar merah bisa diartikan sebagai lambang cinta. Mawar yang berbeda warna bisa mengatakan sesuatu yang lain. Padahal dalam dirinya sendiri kita akan bingung apa beda mawar dan melati misalnya. Walaupun demikian ada alasan kenapa mawar disebut lambang cinta sedang melati tidak. Ini karena asal mula budaya dan bentuk fisik dari mawar itu sendiri. Bunga bangkai misalnya tidak akan disebut sebagai bunga lambang cinta karena alasan yang jelas.

Tags: , , , ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Belum ada tanggapan untuk “Manusia dan Bahasa Bunga”

Silakan Beri Komentar