Prinsip Tidak Berlebih-lebihan

Pada zaman dahulu di pintu masuk kuil di Delphi ada tulisan berbunyi “Jangan berlebih-lebihan.” Sungguh kata-kata yang bijak. Memang kelihatannya tukang becak pinggir jalan juga bisa memikirkan hal seperti ini, tapi sungguh terkadang kebenaran bisa diungkapkan dalam hal yang sederhana.

Mudah sekali jika membayangkan hal ini, kenapa kita tidak boleh berlebih-lebihan. Mudah saja contohnya jika kita makan es krim. Jika kebanyakan kita akan sakit perut. Prinsip yang sangat mudah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Malahan sebagian besar waktu kita mempraktekkanya, secara alami kita melakukannya, misalnya kita tidak berjalan dengan langkah yang kelewat besar. Itu karena langkah yang kelewat besar selain bodoh, tidak nyaman, bahkan jika terlalu besar itu disebut Split dan tidak bisa berjalan.

Sayangnya manusia kadang berlebih-lebihan dalam suatu hal. Pada saat itu kita berada dalam masalah. Seperti kebanyakan kena angin malam atau kebanyakan narkoba, dalam kasus terakhir ancamannya kematian. Bahkan orang yang bisa dibilang sangat banyak melakukan prinsip ini. Jika sama sekali mengabaikan prinsip ini manusia sulit untuk hidup. Seorang maling yang hendak mencuri tentu saja membawa curiannya dalam prinsip keseimbangan. Jangan membawa terlalu banyak, karena dia akan keberatan. Jangan mencuri terlalu lama. Prinsip ini tetap digunakan.

Di dunia filsafat timur sang Buddha juga menyadari prinsip Jalan Tengah untuk mencapai pencerahan. Taoisme juga menganut prinsip keseimbangan Yin dan Yang. Dalam keberadaan alam semesta ini memerlukan keseimbangan supaya bisa berjalan dengan baik. Dalam berbagai alat dan mekanik diperlukan pengukuran yang pas agar alat itu berguna dengan baik. Karena itu prinsip tidak terlalu berlebihan dan jalan tengah bukanlah sesuatu yang baru.

Tags: , , , , ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Belum ada tanggapan untuk “Prinsip Tidak Berlebih-lebihan”

Silakan Beri Komentar