Sudut Pandang Filosofis Tentang Demam Korea Pop di Indonesia

Rasanya demam korea yang melanda Indonesia menular juga pada saya. Dan begitulah seorang filsuf, apa-apa maunya difilsafatkan. Atau karena memang tidak ada bahan lain saja. Tapi membahas K-Pop dari sudut filsafat (atau interdisipliner) sangat menarik. Bagaimana demam ini bisa mewabah di kalangan generasi muda di Indonesia.

Yang saya perhatikan dari para artis dari negeri gingseng ini adalah penampilannya. Penampilannya cantik. Sangat amat menarik hati. Yang wanita langsing, tinggi, berkulit putih. Sesuai dengan standar kecantikan Indonesia. Dan yang pria cantik dan ganteng. Kadang mereka sama cantiknya dengan seorang perempuan.

Kecintaan pada penampilan ideal sudah ada sejak dahulu. Orang Yunani kuno misalnya sering kali mengekspresikan kecantikan dan keindahan manusia dengan sebuah patung batu yang telanjang. Biasanya patung batu itu six-pack, dan telanjang. Hal ini bukan hal yang tabu karena pada masa dahulu orang Yunani memang sering telanjang.

Begitu pula dengan kecintaan pada penampilan fisik khas artis dan aktor korea. Bahkan mereka melakukannya begitu jauh sampai melakukan operasi plastik. Memang bukan hal baru, tapi di korea saya mendengar hal ini begitu banyak dilakukan. Tentu saja tidak hanya penampilan cantik. Nyanyian dan tarian juga harus cantik dan sempurna.

Memang penampilan fisik itu penting tapi bukan yang utama. Begitulah kata-kata para filsuf zaman dahulu. Memang penampilan fisik dan penampilan luar memang berharga, tapi inner beauty juga penting. Masalahnya banyak berita miring mengenai kehidupan Artis dan Aktor Korea yang merana. Mulai dari prostitusi dan stress hingga bunuh diri. Memang dunia tidak selamanya Indah, bahkan dalam hingar bingar ceria pop masih tersisa cerita kelam di dalamnya.

Kita bisa belajar dari kisah ini. Kecantikan luar tidak menjamin kebahagiaan di dunia ini. Tapi harus diakui, video klip mereka memang enak dilihat.

Tags: , ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Belum ada tanggapan untuk “Sudut Pandang Filosofis Tentang Demam Korea Pop di Indonesia”

Silakan Beri Komentar