Filsafat Masa Depan

Apakah itu waktu. Dia adalah sesuatu yang belum ada di hadapan kita, sesuatu yang belum hadir. Justru masa depan adalah kehadiran dari sesuatu yang tidak hadir. Mungkin bahasa ku membingungkan kalian. Maksudku adalah masa depan belum ada di depan kita, tapi toh nyatanya dia membuat kita cemas bukan kepalang. Masa depan itu sama sangat ilusif. Karena pada kenyataannya ia belum ada, bahkan tidak ada. Semacam mimpi di siang bolong, namun ketiadaan masa depan itu sendiri sangat membuat orang depresi dan ingin bunuh diri.

Memang manusia hidup dalam rencana. Merencanakan sesuatu dan kemudian membawa rencana itu hingga mencapainya. Manusia kadang hidup dalam masa depan. Dia hidup dalam cita-citanya dan putus asa dalam cita-citanya. Itulah manusia.

Kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan cita-cita manusia akan putus asa dan sebaliknya kalau sesuai dia akan sangat gembira. Asalkan ada masa depan manusia bisa terus berharap. Namun ketika masa depan itu hilang, dia seperti dihantamkan ke tembok kenyataan.

Manusia jadi lupa dengan kematian. Keberadaan kematian ini tidak bisa diduga. Bisa datang kapan saja. Seperti setan yang menghantui, masa depan manusia akan musnah begitu saja ketika menghantam tembok kematian. Manusia berusaha mengekalkan dirinya melalui tembok kematian ini. Lihat saja Firaun yang mengekalkan dirinya menggunakan balsam sehingga menjadi mumi. Ajaran-ajaran agama mencoba mengekalkan masa depan. Orang modern mengekalkan diri dengan karya-karyanya.

Namun dengan karya, karya manusia tak lebih dari istana Ozymandiaz. Istana yang lebih lekang oleh waktu. Karya sastra abadi yang sekarang. Apakah akan kekal selamanya? Karya-karya besar pujangga kadang kadang hilang karena kekuatan waktu. Lalu siapa yang menjamin Jagad raya ini ada selama-lamanya?

Memang masa depan bisa direncanakan. Namun kita tidak boleh lupa bahwa masa depan tidak pasti. Karena itulah prinsip keseimbangan itu penting. Orang-orang bisa kehilangan dirinya jika terlalu terfokus pada masa depan. Sehingga begitu masa depan itu hilang (dan pasti hilang karena kematian) dirinya bisa merasa frustasi. Kita perlu menelaah kembali nilai-nilai spiritualitas dalam menghadapinya.

Tags: , ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Belum ada tanggapan untuk “Filsafat Masa Depan”

Silakan Beri Komentar