Seni dan Makna Sinetron Indonesia Tinjauan Aksiologis

Orang sering berkata bahwa Sinetron Indonesia itu tidak mendidik. Mungkin benar, tapi kemudian saya bertanya. Apakah seni harus mendidik. Dalam sebuah galeri seni kita melihat berbagai karya perupa dan ahli seni kriya. Kadang karya itu bisa dikatakan aneh, tidak masuk akal, tidak bisa dimengerti. Kadang malahan yang disebut seni itu yang tidak bisa dimengerti dan membingungkan.

Lalu apakah ini yang disebut memberi pendidikan? Sebuah kursi digantung di angkasa dengan boneka yang menjulur demikian rupa. Para seniman memberi makna ini dan itu. Mungkin memang ini yang dikatakan sebagai sebuah seni. Kritikus mungkin mengatakan bahwa ini menggambarkan putusnya harapan, kematian atau lain sebagainya. Tema-tema yang berat. Lalu apakah ini merupakan ukuran-ukuran dalam bidang seni.

Seni menciptakan ruang untuk semacam pendidikan. Suatu ruang yang mana ruang itu menjadi refleksi bagi manusia. Seni lebih daripada semacam pralambang-pralambang. Dia memberikan makna untuk kita menafsirkan makna, menafsirkan kehidupan secara keseluruhan.

Seringkali karya-karya pop kekurangan tema ini. Misalnya saja sinetron dan lain sebagainya. Saya tidak mengatakan dia tidak membawa pendidikan. Tapi pendidikan yang dibawanya bisa dikatakan dangkal. Bukan tidak memiliki unsur pendidikan. Toh acara macam Sinetron juga membawa suatu informasi bagi penikmatnya. Dia menciptakan suatu runang, namun bukan suatu ruang berat yang membawa penikmat merenungkan kembali kehidupannya. Dia memberi ruang untuk membawa penikmatnya ke ruang ilusif yang membuatnya lari dari kehidupan.

Kedua-duanya tetap karya seni, toh kita mau menyebutnya apa lagi. Komik, lagu, acara televisi. Susah juga kalau tidak disebut seni. Mereka menyediakan ruang untuk rekreasi. Namun mereka juga menyediakan ruang juga. Ini hanyalah suatu perspektif dan paham mengenai seni saja dimana orang boleh berbeda pendapat masalah itu.

Namun demikian kita masih bisa mengkritik Sinetron itu sendiri dalam bingkainya masing-masing. Tidak adil rasanya Sinetron dikritik dari sudut pandang seni Avant Garde. Bisa, namun agak terlalu jauh perbandingannya. Sinetron sebagai seni pop, sebaiknya diukur dari seni pop yang lain dalam media yang sama. Misalnya Drama Jepang, Korea, Amerika. Dalam hal ini kita bisa memperdebatkan masalah isi, acting, cerita, dan lain sebagainya. Kritik macam ini lebih membangun daripada kritik tidak jelas bahwa sinetron itu tanpa β€œisi”. Kalaupun tanpa isi sebaiknya ditunjukkan bagian mana yang tanpa isi. Ini memerlukan kemampuan kritikus Indonesia di bidang pertelevisian.

Tags: , , , ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Satu tanggapan untuk “Seni dan Makna Sinetron Indonesia Tinjauan Aksiologis”

  1. alit
    September 8th, 2011 at 11:28 | #1

    bagus. syarat silogisme. Akan tetapi, semoga tdk untuk kepentingan apologi, dalam rangka mempertahankn kepentingan para pihak yg tidak bertanggungjawab.
    krn menurut pandangan sy, setiap sesuatu yg ditonton dipastikn mnyumbngkn pesan moral yg tanpa proses penyadaran sang penikmatnya, atau dg kata lain sebentuk hypno, yg melulu menyerang fokus alam sadar sang penikmat.

    be regard πŸ™‚

Silakan Beri Komentar