Bebas Berekspresi Sebebas-bebasnya dan John Stuart Mill

Kadang orang mengatakan kenapa mereka melakukan hal itu, dan mereka tidak boleh dilarang adalah karena mereka mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Jadi pertanyaannya, apakah kita memang bebas berekspresi. Saya jawab tidak! Tidak bebas. Manusia tidak boleh berekspresi sesuka hati mereka. Kalau seorang pembunuh bayaran bebas mengekspresikan dirinya dengan membunuhi manusia, apakah anda setuju dengan itu. Apakah andai kata anda mengekspresikan diri anda dengan berteriak kebakaran di tengah kerumunan orang yang cemas apakah itu boleh. Apakah jika anda mengekspresikan diri anda dengan merampok bank bisa dibenarkan.

Tapi apakah ekspresi harus ditekan. Saya rasa kebebasan berekspresi penting juga. Ide mengenai berekspresi mengingatkan saya pada filsuf Amerika John Stuart Mill. Dia adalah filsuf pendukung kebebasan berekspresi. Dia beranggapan kebebasan mengungkapkan pendapat sangat penting. Ini menghalangi negara untuk menekan orang-orang.

Dia berpendapat bahwa masih ada bahaya dalam sebuah demokrasi. Dalam sebuah Demokrasi jumlah suara merupakan faktor sangat penting dalam menentukan kebijakan. Ini bisa berakibat Tirani Mayoritas. Sebagai contohnya coba bayangkan sebagian besar orang setuju membungkam orang yang tidak sependapat dengan mayoritas. Mereka membungkam orang yang beda dari mereka. Padahal Mayoritas belum tentu benar. Buktinya para Nabi zaman dahulu awalnya sering ditentang mayoritas. Menurut John Stuart Mill ini berbahaya, karena itu ada yang harus dilindungi. Ada bagian yang tidak boleh disentuh oleh negara.

John Stuart Mill juga berpendapat manusia boleh saja melakukan sesuatu dan negara tidak boleh melarangnya, karena hal itu urusan pribadi. Kencing sambil berputar-putar, berjoged telanjang di kamar, mengejar kucing. Pemerintah tidak boleh melarang hal-hal ini, karena ini urusan pribadi, kecuali dia menyalahi satu prinsip, yaitu tidak melakukan “harm” terhadap orang lain. Harm kira-kira menyakiti orang lain. Misalnya anda mengejar kucing tetangga dengan tank sambil melindasi rumah-rumah penduduk. Itu tidak boleh. Negara berhak melarang anda mengejar kucing dan menghancurkan rumah orang.

Menurut Mill mengungkapkan pendapat adalah mutlak harus dilindungi. Kenapa ini harus dilindungi, karena agar mayoritas bisa melihat sudut pandang yang berbeda. Jika mayoritas hanya dicekoki pemikiran-pemikiran yang itu-itu saja, pandangan mereka jadi terbatas. Minoritas bisa berjuang agar pandangan mereka bisa diterima umum. Apakah ini melakukan Harm? Menggugat argumen seseorang dan berbeda pendapat tidak sama dengan Harm. Jika orang lain tersinggung, bisa jadi itu hanya perasaannya saja. Kita tidak menembaknya atau memukulnya. Jadi tidak melakukan Harm.

Tapi bahkan dalam mengungkapkan pendapat juga menurut Mill kita harus dibatasi. Kita bisa menimbulkan “Harm” dengan mengungkapkan pendapat kita. Misalnya kita mengungkapkan pendapat kita dengan berteriak “bakaaarr” di gerombolan massa yang marah. Itu bisa mengakibatkan harm ke orang lain. Karena itu bahkan mengungkapkan pendapat harus dibatasi. Mungkin anda pikir bahwa kata Harm kurang jelas, Memang kurang jelas. Apa yang menjadi Harm dan apa yang tidak, menjadi perdebatan.

Kembali ke masalah ekspresi. Menurut Mill kita boleh saja berekspresi sebebas-bebasnya andai kita mematuhi satu hal, Dont Do Harm to Other. Jika anda ingin mengekspresikan diri anda dengan telanjang di hadapan saya, saya pikir itu Harm ke mata saya. Andai kata anda gadis cantik yang sexy abis. Anda mungkin melakukan Harm kepada moral saya. Apakah itu Harm… Well.

  • Kuliah dan debat dan pemikiran selama di Fakultas Filsafat UGM
  • http://www.suite101.com/content/john-sturat-mills-harm-principle-a224793
Tags: ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Satu tanggapan untuk “Bebas Berekspresi Sebebas-bebasnya dan John Stuart Mill”

  1. sis
    September 24th, 2011 at 23:54 | #1

    dengan kata lain biarpun ekspresi kita mengandung suatu hal yang positif apakah itu masih juga di batasi?maaf,mungkin saya kurang memahami “ekspresi” secara mendalam.
    dan yang kedua,mengapa suatu tindakan/perbuatan pembunuhan bisa di kategorikan sebuah ekspresi? mohon penjelasannya.
    terima kasih..

Silakan Beri Komentar