Politik Uang: Penyuap dan Disuap

Politik uang seakan-akan merupakan momok yang kita hadapi dalam kehidupan politik di Indonesia. Politik uang adalah politik dengan mengandalkan kekayaan demi mendapatkan jabatan. Politik uang ini cenderung menciptakan lingkaran setan antara uang dan kekuasaan. Uang digunakan untuk meraih kekuasaan dan kekuasaan digunakan untuk mencari uang. Keduanya menjadi semacam Ouroboros yang tidak berujung. Menciptakan sistem yang buruk di dunia perpolitikan.

Politik uang adalah politik yang mengandalkan uang atau kekayaan untuk mencapai kekuasaan. Cara menggunakan politik uang ini bermacam-macam. Cara sederhananya seperti membayar kepada siapa yang bisa mengikuti pemilu untuk meloloskan suatu calon. Ini bisa dikatakan penyuapan kepada rakyat.

Sang penyuap tentu saja menggunakan kekayaannya untuk memperoleh kekuasaan dengan cara menyuap. Ini bisa berakibat sangat buruk pada sistem politik yang ada. Politik tidak lagi bisa rasional namun hanya berpusat pada keuntungan sesaat semata-mata. Dengan politik uang maka para pemilih menjadi hanya berpatokan kepada uang dan kepentingan pribadi yang sesaat. Padahal politik adalah demi keuntungan bersama dan memikirkan masa depan.

Dengan menggunakan politik uang seorang calon atau sebuah keputusan politik ditentukan dari banyaknya kekayaan material semata. Kekuatan material ini menjadi penentu dari kebijakan-kebijakan. Hal ini menghasilkan kebijakan yang tidak melindungi rakyat dalam jangka waktu yang panjang.

Secara etika ini tentu salah. Politik sebaiknya tidak diarahkan ke kepentingan sesaat semata. Kepentingan yang dibawa oleh politik tak semata-mata kepentingan material saja, politik seringkali membawa nilai-nilai yang lebih tinggi dari nilai material. Menggunakan politik uang sebagai sarana untuk tujuan yang lebih baik juga bukanlah perbuatan yang sepenuhnya benar. Dengan menggunakan politik uang maka ini akan mendidik rakyat untuk berfikir sempit. Untuk jangka waktu yang panjang ini akan membawa dampak buruk.

Tags: ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Belum ada tanggapan untuk “Politik Uang: Penyuap dan Disuap”

Silakan Beri Komentar