Global Warming and Budaya Pop

Apakah global warming benar-benar terjadi? Itu adalah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Sekarang daripada menyebut global warming, orang-orang lebih suka menyebutnya Climate Change. Perubahan iklim. Ini karena iklim berubah perlahan-lahan.

Ini mengingatkan saya betapa saya merasa sangat khawatir dengan kondisi dunia. Seakan-akan dunia akan segera kiamat jika kita tidak melakukan sesuatu terhadapnya. Saya ingin berhenti memakai bahan bakar minyak, ingin mengurangi energi listrik, pokoknya ingin menyelamatkan bumi. Tapi toh akhirnya saya tidak bisa berbuat banyak. Dan memang rasanya saya tidak berbuat banyak. Saya terkejut dengan dampaknya yang terlalu biasa. Secara mengejutkan tidak terjadi apa-apa. Memang terjadi perubahan di sana sini di dunia kita. Tapi tak pernah bisa dipastikan apakah itu akibat perbuatan manusia atau bukan.

Bumi ini sangat besar. Bumi telah hidup berkali-kali lipat umur manusia. Bahkan sebelum manusia pertama ada bumi telah ada. Kita sama sekali lupa betapa besarnya bumi kita ini. Betapa bumi ini sangat tua jika dibandingkan umur manusia yang hanya seumur jagung. Manusia bisa saja mencoba sedemikian keras untuk menghancurkan setiap kehidupan di dunia ini dan gagal. Alam bisa sedemikian mudahnya menghancurkan manusia.

Zaman dahulu kehidupan di muka bumi telah dihantam meteor, terjadi gunung berapi dahsyat, gas beracun yang disemburkan bernama oksigen ke udara. Tapi kehidupan di muka bumi masih bertahan. Andai saja manusia memulai serangan nuklir, membom segala tempat di muka bumi ini. Namun itu tidak menjamin kehidupan di muka bumi akan musnah. Bisa jadi seekor kecoa atau sebutir bakteri bisa bertahan.

Daripada kita menghawatirkan keadaan alam ini, sebaiknya kita menghawatirkan keberadaan spesies manusia dan hubungannya terhadap alam ini. Alam memang sangat berharga. Lihat saja kebun di depan rumah atau sebatang pohon yang berdiri di samping jalan raya. Itulah alam. Kadang kita terlalu memikirkan hal besar sehingga lupa hal-hal kecil yang harus kita lindungi.

Tags:

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Belum ada tanggapan untuk “Global Warming and Budaya Pop”

Silakan Beri Komentar