Relativisme Budaya dalam Etika: Sebuah Studi Kasus

Dalam pandangan Relativisme Etika, baik ataupun buruk tergantung dari kebudayaan dimana dia tinggal. Mungkin kedengarannya sedikit kurang nyaman bagi mereka yang menganggap bahwa etika itu sesuatu objektif. Misalnya sebuah kebudayaan mengatakan bahwa minum kopi itu jahat maka minum kopi jadi jahat. Sebaliknya kalau sebuah kebudayaan memperbolehkan pria ganti kelamin jadi wanita, bisa jadi malah dianjurkan.

Mungkin akan susah membayangkannya, tapi saya akan memberikan beberapa contoh. Contoh yang paling mudah adalah Seks sebelum menikah. Bagi kita orang Indonesia, mungkin sulit membayangkannya, tapi di luar sana ada kebudayaan yang mendasari diri mereka dengan seks sebelum menikah. Bagi mereka itu hal yang wajar dan biasa-biasa saja. Mereka pacaran kemudian masuk kamar dan kemudian berbuat hal-hal yang mereka inginkan. Dari mana jahatnya.

Apakah hal itu tidak bermoral? Menurut Relativisme Etika, itu tergantung dari sudut pandang siapa. Dari budaya mana. Kita mungkin menganggap bahwa mereka mengalami degradasi moral, tapi mungkin mereka yang menganggap bahwa kita yang sangat kolot. Bagi mereka seks pranikah (yang sehat dan aman, tentu saja) tidak pernah menjadi masalah, bagi kita seks pranikah adalah masalah besar. Keduanya Relatif.

Sekarang kita coba ke masalah homoseksualisme. Kita mungkin bisa saja menganggap bahwa mereka yang melegalkan homoseksualisme adalah sesat dan immoral. Jika kita memandang dari sudut pandang mereka, kita yang immoral. Kita dianggap mengekang kebebasan seseorang untuk mencintai. Kita orang jahat menurut mereka.

Masalah ini bukan masalah main-main. Ini bisa membiakkan bibit-bibit kebencian dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Semua terjadi karena kita tidak memahami keberadaan relativisme etika ini. Karena tidak memahami Relativisme Etika ini seringkali sebuah kebudayaan dicap jahat karena praktek yang mereka lakukan tanpa memahami bahwa nilai-nilai yang dianut sebuah kebudayaan berbeda satu sama lain.

Tapi mengatakan Etika sepenuhnya relatif tidak benar. Dalam kebudayaan manapun ada nilai-nilai yang sama dalam baik dan buruk. Misalnya dalam hal membunuh. Di semua budaya ada jenis-jenis orang yang layak di bunuh dan tidak. Di Amerika misalnya pembunuh berantai boleh di hukum mati. Di Arab zaman dahulu misalnya Pezina. Dan lain sebagainya. Tapi di semua kebudayaan tidak ada yang memperbolehkan membunuh tanpa alasan yang bisa dibenarkan atau membunuh sembarangan.

Bagaimanapun penting untuk memahami bahwa sebagai manusia, kita terikat oleh nilai-nilai budaya yang kita anut dan diajarkan sejak kecil supaya kita tidak menuduh dengan tanpa alasan yang jelas suatu perbuatan baik atau buruk tanpa melihat konteks kebudayaan yang melandasinya.

Tags: , , , ,

AUTHOR

# Bisa dibilang filsuf bisa juga dibilang wong sableng...

Belum ada tanggapan untuk “Relativisme Budaya dalam Etika: Sebuah Studi Kasus”

Silakan Beri Komentar