Inti Politik: Tinjauan Bebas dan Kontemplatif

Kata politik tidaklah asing dalam hidup berbangsa dan bernegara. Politik kerap kali menjadi sasaran keluhan masyarakat. Ada masyarakat yang merasa rugi akibat politik dan juga ada yang merasa diuntungkan karenanya. Kita tidak tahu betul apa makna dari politik sebenarnya tanpa kita menyelaminya dengan pengalaman politik, dan mindset orang politik.

Jika Saya Menjadi Politikus

Saya harus berpura-pura menjadi politikus jika ingin mengetahui sedikit-dikitnya tentang politik. Hal ini akan menelurkan beberapa pertanyaan bagi diri seorang politikus, yaitu:

  1. Apa tujuan saya?
  2. Apa keuntungan bagi saya?
  3. Bagaimana agar masyarakat senang dengan keputusan dan manuver politik yang saya lakukan?

Tentu saja, banyak orang berpolitik demi keuntungan dan kekuasaan. Dengan kekuasaan orang bisa meraih keuntungan dari orang yang ia kendalikan. Namun, seburuk-buruknya politikus pasti memiliki idealismenya sendiri yang tidak bisa diganggugugat seperti:

  • Biarlah saya dicap jelek yang penting masyarakat saya yaitu masyarakat kecamatan A sejahtera, dan saya mendapat dukungan dari mereka
  • Saya memang koruptor, tetapi jika urusannya dengan narkotika saya tidak akan tinggal diam
  • Tindakan politik yang saya lakukan, meskipun di mata orang lain adalah keputusan jelek, saya tetap akan melakukannya demi kemajuan bangsa

Setelah paparan yang telah saya disebutkan di atas, saya ingin merangkai sebuah kalimat yang mungkin akan berbau politik jahat, yaitu:

“Bagaimana agar orang-orang mendukung tindakan saya dengan usaha sekecil mungkin sehingga saya dipercaya sebagai pemegang kekuasaan dan mendapatkan keuntungan lebih besar daripada membela kepentingan mereka?”

Kalimat di atas memang kedengaran buruk, tapi bukankah itu yang akan terjadi apabila orang sudah kenal politik, kenal uang yang dihasilkan dari politik, dan menikmati keuntungan politik?

Tidak Bisa Mengelak dari Kelompok Masyarakat

Sebuah negara tidak akan bisa diatur apabila tidak ada wakil-wakil yang ditempatkan pada area tertentu, kalau di Indonesia ada kelurahan, kecamatan, kabupaten, kota, dan ibukota. Wakil-wakil tersebut membawahi masyarakatnya, jika bukan karena uang, paling tidak para wakil melakukannya demi kekuasaan, ketenaran, atau wibawa. Namun, jika seorang wakil rakyat terlalu tamak maka ia akan digulingkan sendiri oleh rakyatnya.

Ada Juga Wakil Rakyat yang Baik

Idealisme dan iman adalah modal baik bagi seorang wakil rakyat. Orang yang punya keteguhan, kejujuran, dan kepercayaan bisa membangun rakyatnya tanpa melakukan hal-hal yang hina adalah wakil rakyat yang baik. Apakah orang seperti ini ada dan memang membangun rakyatnya? Ada dan bisa. Sayangnya, orang-orang baik seperti ini banyak disingkirkan oleh orang-orang tamak yang haus kekuasaan dan kekayaan. Siapakah orang-orang tamak tersebut?

  1. Orang yang tidak cukup dengan hasil yang ia dapatkan dari daerah yang ia kuasai dan ia pimpin
  2. Orang jahat yang ingin merebut kekuasaan dari orang baik yang sedang menjadi wakil rakyat dengan tujuan melihat keuntungan yang didapatkan bukan dengan melihat bagaimana membangun rakyat yang lebih baik lagi
  3. Orang yang tidak senang dengan kesuksesan orang lain dalam membangun kelompok masyarakat yang sejahtera

Inti Politik Baik, Jahat, dan Umum

Baik: Berusaha menumpas unsur-unsur kejahatan dalam suatu masyarakat. Menyeimbangkan perbedaan antara si miskin dan si kaya, penguasa harus bisa memaksa si kaya untuk menyejahterakan si miskin tanpa membuat si kaya menjadi miskin. Menumpas kriminalitas, penguasa harus menumpas segala bentuk kriminalitas tanpa melanggar hak asasi manusia. Memaksimalkan sumber daya alam dan manusia untuk kesejahteraan bersama dengan manajemen yang bagus.

Jahat: Bekerja sama dengan kejahatan untuk meraih kekuasaan. Politikus bekerja sama dengan politikus lainnya untuk menjatuhkan politikus yang baik. Memanajemen sumber daya alam dan manusia untuk hasil terbesar bagi kepentingan pribadi dan jatah seminimal mungkin untuk rakyat tanpa menimbulkan keributan/kerusuhan rakyat. Mengambil jatah kekuasaan/memeras daerah lain dengan alasan sesama anggota partai.

Umum: Kekuasaan dan manajemen sumber daya alam dan manusia

Saran Sebelum Menjadi Politikus

Sebelum menjadi politikus sebaiknya orang sudah memiliki pondasi terlebih dahulu, pondasinya adalah harta (dari hasil usaha bisnis/pekerjaan) dan rasa sosial. Mengapa keduanya? Dengan harta yang berlimpah, seseorang tidak akan tertarik dengan penawaran uang berjumlah ecek-ecek (sogokan), orang juga tidak akan takut akan dibunuh atau diancam karena dengan harta yang ia miliki ia dapat menyelesaikan persoalan itu.

Tidak hanya harta, tetapi juga harus memiliki rasa sosial. Seorang yang ingin menjadi politikus harus memiliki tekad membangun bangsa dengan demikian maka politikus tersebut akan berpikir dan berusaha menemukan cara terbaik dalam membangun bangsa. Hal ini juga dipikir berdasarkan bahwa tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan uang.

Tags: , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

Belum ada tanggapan untuk “Inti Politik: Tinjauan Bebas dan Kontemplatif”

Silakan Beri Komentar