Filsafat Kesetiaan

Kita semua pasti pernah mendengar kata “setia” atau “kesetiaan”, namun sudah tentu jarang yang mempertanyakan apakah itu kesetiaan. Kesetiaan biasa disandingkan dengan ketaatan, kepatuhan, rasa ingin menjaga seseorang dengan sebaik-baiknya, rasa tidak ingin mengecewakan hati pasangan, menjaga hati dari lawan jenis apabila sudah punya pacar, istri, atau suami, dan menjaga perasaan seseorang. Kesetiaan yang barusan saja tampaknya lebih mengarah kepada seseorang atau manusia. Ada pula setia kepada sesuatu misalnya setia kepada Tuhan dan setia kepada negara. Meskipun demikian, pasti ada kesamaan diantaranya.

Berbagai pernyataan dan pertanyaan berikut tampaknya bisa memberikan jalan dalam berfilsafat tentang kesetiaan.

  • Andi memiliki seorang pacar bernama Shinta, tetapi Andi juga memiliki pacar lain. Andi mengatakan bahwa yang hanya ia cintai dengan sepenuh hanyalah Shinta seorang. Sedangkan pacar yang lain Andi menganggapnya hanya hiburan semata. Andi tidak bermain perasaan dengan pacarnya yang lain. Andi hanya serius dengan Shinta. Secara jujur, Andi memang benar-benar mencintai Shinta sepenuh hati. Apakah Andi bisa disebut sebagai orang yang setia?
  • Budi punya pacar bernama Vina dan sangat mencintainya, tetapi Budi berselingkuh dengan Chika. Budi tidak punya perasaan apapun terhadap Chika. Sama seperti Andi, Budi hanya main-main saja. Untuk menjaga perasaan Vina, Budi tidak memberitahukan bahwa ia berselingkuh dengan wanita lain. Vina tidak pernah mengetahui bahwa Budi berselingkuh, Vina hanya mengetahui Budi itu orangnya setia, dan dapat menjaga perasaan Vina. Dalam hal ini, apakah tindakan Budi yang sudah menjaga perasaan Vina dengan cara tidak memberitahukan bahwa ia selingkuh merupakan bentuk rasa setia?
  • Pak Aziz adalah seorang pejabat yang sebenarnya jujur dan mengabdi dengan ikhlas kepada negara. Pada suatu hari ada sebuah peraturan pemerintah yang telah didiskusikan dan disahkan secara demokratis. Namun, Pak Aziz mengerti maksud peraturan yang telah disahkan secara demokratis itu dapat merugikan rakyat, lebih lagi Pak Aziz tahu bahwa latar belakang pembuatan peraturan tersebut untuk menguntungkan pihak-pihak pejabat jahat yang memang sebagai mayoritas di pemerintahan. Persamaan Pak Aziz dan para pejabat jahat tersebut adalah mereka sama-sama wakil rakyat dan mematuhi demokrasi. Sayangnya, demokrasi di pemerintahan tempat Pak Aziz bekerja dipimpin oleh pejabat jahat sebagai anggota mayoritasnya. Sedangkan, peraturan yang dibuat oleh pemerintahan adalah sebuah representasi demokrasi sebuah negara. Di sini, bagaimana Pak Aziz bisa setia, apakah dengan menyetujui peraturan pemerintahan yang baru saja dibuat atau menghancurkan sistem demokrasi itu sendiri lewat pemberontakan? Mana yang disebut setia? Patuh terhadap negara yang demokrasi seperti itu atau tidak patuh terhadap demokrasi dan artinya itu tidak setia?

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa sulitnya untuk setia. Kalau digampang-gampangkan, sebenarnya setia itu dapat dicapai dengan menuruti jalan hati nurani. Kesulitannya adalah apakah kesetiaan itu bersifat baik atau tidak? Karena bagaimanapun juga setia kepada pimpinan yang sangat jahat juga disebut setia. Apakah setia itu hanya sekedar konsistensi atau dibarengi juga dengan nilai kebaikan?

Bagaimana menurut Anda?

Tags: , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

11 tanggapan untuk “Filsafat Kesetiaan”

  1. November 28th, 2010 at 07:05 | #1

    weleh…pusing ah dg urusan kesetiaan bro 🙂
    sebenernya kesetiaan di dunia itu hanya semu… yg mutlak hanya untuk tuhan 🙂

  2. December 11th, 2010 at 11:06 | #2

    kunjungan perdana 🙂

  3. December 15th, 2010 at 15:52 | #3

    cip broo..
    bsa buat bahan bacaan n referensi
    thx n mg sukses

  4. syarif
    December 27th, 2010 at 08:04 | #4

    wah mantap artikelnya bro,setia itu dari kesadaran dyry kita sendiri untuk menanggapi suatu perbuatan yg merugikan pasangan, atasan dll ,kt mesti menanyakan pd diri kita apakah ini merugikan atau tidak?

  5. December 28th, 2010 at 17:45 | #5

    ada beberapa hal yang memang patut direnungkan
    – setia dalam kebaikan
    – setia dalam kebatilan
    pribadi masing-masing yang bisa membuat keputusan langkah, lingkungan yang bisa buat keputusan kategorinya.

  6. December 31st, 2010 at 10:11 | #6

    “Apakah setia itu hanya sekedar konsistensi atau dibarengi juga dengan nilai kebaikan??”

    mnurut sy… kearah mana kesetiaan kita…
    1.setia pada kebaikan?
    2.atau setia kepada ketidakbaikan?

    setelah itu baru konsisten pd kesetiaan (baik/tdk baik) itu ,
    lalu setia pada kekonsistenan kita untuk setia…
    dan seterusnya… hehe..

  7. milda
    April 12th, 2011 at 13:17 | #7

    first time…. oke, coba gali lebih dalam tentang ada/tidak nya TUHAN.. thx..

  8. ary jie
    April 18th, 2011 at 00:52 | #8

    berbicara tentang kesetiaan merupakan sesuatu yg relatif, karena banyak hal yg harus jadi peniliain terhadap apa yang ingin di nilai. kesetian hanya dapat di raih dan di miliki hanya dengan kejujuran hati yg sifatnya mengarah kepada etika dan estetika.

  9. July 20th, 2011 at 13:20 | #9

    Apapun Tantanganx Smuax Psti akan dikrjakan jd jgn prna mngeluh apa yg saat ini dikatakan..?

  10. January 23rd, 2012 at 21:14 | #10

    Di dunia ini kesetiaan memang semu… kadang kesetiaan menjadi barang yang murah dan dipandang sebelah mata. ada baiknya kesetiaan jangan dibesar-besarkan..

  11. September 6th, 2012 at 22:44 | #11

    kesetiaan adalah bagaimana perasaan tetap pada pendiriannya……..

Silakan Beri Komentar