Menanggapi Persoalan Moral dan Budaya dari Attayaya

Persoalan moral terkait dengan budaya memang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Hal tersebut dapat disebabkan oleh perkembangan teknologi dan komunikasi. Coba saja lihat Facebook, begitu mudahnya kita berkomunikasi dengan orang yang kita kenal maupun berkenalan dengan orang lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya perkembangan teknologi dan mudahnya dalam mengakses teknologi tersebut, Internet.

Facebook adalah hal yang menjadi tren sekitar lima tahun yang lalu, padahal domain Facebook itu sendiri, menurut pengecekan WHOIS telah didaftarkan sejak tahun 1997. Ini baru perkembangan Facebook saja, sebelumnya orang-orang sudah mengenal teknologi komunikasi massa satu arah yaitu televisi. Ya, benar televisilah yang mempublikasikan berbagai berita, iklan, film dan pesan layanan masyarakat. Sayangnya, banyak tayangan yang bertentangan dengan budaya suatu bangsa dan di sinilah letak keburukan televisi. Namun, tidak hanya televisi bahkan Internet yang merupakan penyebab paling parah dari kemerosotan moral terkait dengan seks dan pornografi.

Pornografi, Hak Milik dan Hak Asasi

Attayaya pemilik dari attayaya.net dan attayaya.com mempublikasikan sebuah artikel yang mempertanyakan tentang moral dan budaya. Artikel tersebut terinspirasi dari pengalaman pribadi beliau dari tahun 2006 sampai 2010 sekarang. Kalau dilihat dalam artikel tersebut, suasana keresahan beliau terlihat pada persoalan yang berkaitan dengan seks, ekshibisionisme dan pornografi. Namun, ada juga disebutkan tentang perebutan Tanah Ulayat Masyarakat oleh perusahaan perkebunan.

Persoalan bertindak semaunya di depan umum, misalnya sepasang kekasih yang berciuman atau merepresentasikan pornografi itu merupakan persoalan pribadi ketika tidak dipertontonkan, tetapi hal tersebut menjadi masalah ketika ada yang melihat. Setiap orang memiliki penilaian masing-masing, ini harus dihargai.

Orang harus memiliki pemikiran positif untuk menghadapi suatu hal yang tidak biasa. Contohnya pada tahun 2006 di Hongkong Pak Attayaya melihat sepasang remaja berciuman di depan umum (penumpang cukup ramai) dengan gaya Deep Kiss ala Perancis. Tangan cowok meraba buah dada cewek, dan cewek meremas alat kelamin cowok. Bagi banyak masyarakat Indonesia memang hal tersebut keterlaluan, tetapi seseorang harus punya pikiran positif mengapa sepasang remaja tersebut melakukan hal seperti itu? Apakah mungkin kelainan mental atau ada alasan lain?

Bukan saya mendukung remaja tersebut, tetapi meskipun saya katakan tidak bermoral saya tidak bisa melakukan hal apa pun kecuali menjadikannya pelajaran dan tolak ukur tingkah laku remaja di Indonesia. Soalnya itu di Hongkong dan saya tidak mengetahui sejauh mana budaya Hongkong dan siapa tahu itu merupakan kebiasaan masyarakat di sana. Jika saya sebagai orang tua, hal tersebut bisa saya jadikan tinjauan tentang apa yang remaja lakukan pada usianya dan saya bisa menasihati, mencegah dan memberikan pengarahan agar tidak melakukan hal yang melanggar norma dan agama di negara atau tempat saya tinggal.

Bagaimana jika hal tersebut dilakukan di Indonesia? Dengan tegas saya katakan bahwa itu melanggar norma masyarakat dan aturan agama yang saya anut. Kalau soal hukum, mungkin tindakan tersebut melanggar hukum dan tentu harus dihukum sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Saya dan ormas saya tidak setuju dengan tindakan mereka, mereka harus dipukuli! Indonesia adalah negara hukum dan demokrasi, semua ada aturannya. Mengapa harus memukuli mereka jika dengan melaporkannya ke polisi sudah dapat menyelesaikan persoalan tersebut? Orang yang berbuat salah sekalipun memiliki hak hidup, dilindungi, dan dihargai, dan ia pun harus melaksanakan kewajibannya yaitu menaati aturan negara dan norma masyarakat.

Perampasan Tanah

Persoalan perampasan tanah atau hak milik ini bukan hanya tidak bermoral, tetapi jelas melanggar hukum. Perampasan tanah atau wilayah bukanlah persoalan baru. Perampasan sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu, dulu Indonesia pernah dirampas hak dan tanahnya oleh Belanda dan Jepang, saat itu tidak bertentangan dengan hukum karena memang belum ada aturannya, tetapi tetap saja penjajahan melanggar moral universal bahwa siapa pun berhak untuk hidup dan merdeka.

Kesimpulan

Persoalan budaya memang kadang membuat seseorang bingung, apalagi jika ada tindakan yang tidak seharusnya dilakukan di budaya sendiri namun dilakukan di budaya lain. Mau atau tidak orang harus menghargai itu, menghargai bukan berarti ikut terlibat dan menjalankannya apabila bertentangan dengan budaya yang kita anut. Menghargai bisa berarti membiarkan apa adanya, tetapi apa adanya itu dalam arti kita menjaga apa yang menjadi hak universal setiap manusia misalnya menjaga agar tidak dibunuh, diperkosa, diperlakukan tidak adil, dan hal lain yang bersifat sangat krusial dan gawat.

Soal seks dan pornografi memang terus berkembang seiring dengan berjalannya perkembangan teknologi komunikasi, dan salah satu medium yang paling berpengaruh adalah Internet. Dijejalkannya otak manusia dengan berbagai informasi membuat manusia penasaran akan sebuah hal yang belum pernah dilakukannya termasuk terpengaruh untuk melakukan kegiatan pornografi terutama di Internet, misalnya dengan menyebarkan video mau pun foto mesum dengan maksud ingin pamer atau ingin terkenal. Perkembangan yang satu ini sudah sangat sulit untuk diredam karena harga akses Internet semakin murah dan device atau alat untuk mengakses Internet termasuk cellphone juga ikut murah. Jadi, anak SD pun sebenarnya sudah bisa mengakses sesuatu yang berbau pornografi lewat telepon genggam mereka.

Saran

  • Bertindak sesuai dengan hukum adalah hal yang sangat dianjurkan untuk menjaga diri dari tindakan semaunya.
  • Jika ada hal yang tidak diatur dengan hukum, tetapi melanggar norma, memberikan nasihat adalah hal baik yang dapat dilakukan. Jika tidak mampu menasihati doakan saja Tuhan akan mendengarnya. Bagi saya, Tuhan tidak bodoh Dia tahu betul siapa yang salah dan siapa yang benar lebih dari yang manusia ketahui.
  • Jangan melakukan hal yang hati nurani pikir itu tidak baik untuk dilakukan.
  • Berpikir positif dan mencoba membayangkan dari sisi orang lain (golden rule).
  • Berpikir bahwa setiap orang tidak ada yang sempurna dan dapat melakukan kekhilafan kapan saja, dengan demikian kita akan menjadi orang yang sabar dan dapat berpikir dengan jernih.
  • Mendidik anak dengan baik, benar, serta memberikan pengarahan jika anak melakukan kesalahan terkait dengan norma masyarakat dan agama agar suatu saat anak bisa memahami konsep dan pengertian yang baik tentang kehidupan dan etika.

Tulisan ini didedikasikan untuk om Atta :mrgreen:, apabila ada kata yang kurang berkenan atau tidak sesuai dengan konsep moral pembaca mohon diberi pengertian.

Tags: , , , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

4 tanggapan untuk “Menanggapi Persoalan Moral dan Budaya dari Attayaya”

  1. July 2nd, 2010 at 19:16 | #1

    Wah, keren artikelnya Bang Atta dijawab panjang lebar di sini 🙂 *lama banget gak baca2 tulisannya Aprilins* 🙂

  2. July 2nd, 2010 at 19:17 | #2

    sekarang loadningnya tambah ringan, Gak kek dulu, luama banget 🙂

  3. July 3rd, 2010 at 12:03 | #3

    waaah maturtengkiyu mbah yang super giyannntenge
    hehehehe

    kejadian di hongkong hanya bisa ngurut dada, ga bisa dibilangin abisan ga ngerti bahasa hkg, pserta tur hanya berdehem dan batuk keras.

    kalo yg di Busway, langsung ditegur oleh seorang ibu setelah gerah dan jengah ngeliat itu.

    mari budayakan malu, sopan, santun
    hilangkan tempat2 maksiat. gebuk para pengusahanya.

    maturtengkiyu sekali lagi ya mbah
    jiahahahahahaha….

  4. December 28th, 2010 at 18:12 | #4

    monggo kita jaga bersama,
    memang lngkungan kita sudah amburadul
    orang yang tua-tua ngomong soal hal-hal tabu mboten nate ditutup-tutupi, apakah lingkungan sekitan ada anak dibawah umur atau mboten.
    KEMEROSOTAN MENDIDIK DALAM MENANGKAL HAL YANG SEPERTI ITU BERARTI KETIDAKBERHASILAN KITA DALAM MENDIDIK ANAK.

Silakan Beri Komentar