Neopythagorisme

Neopythagorianisme mula-mula dicoba untuk dibangkitkan oleh Publius Nigidius Figulus sang politikus dan cendekiawan dari Romawi dengan memasukkan matematika, astronomi, dan astrologi dalam ajarannya. Namun, seseorang yang paling banyak mendapat sorotan adalah Appolonius dari Tyana yang hidup dari tahun 40 sampai 120.

Ajaran aliran Neopythagoris ini mewujudkan suatu campuran dari gagasan Aristoteles dan Stoa, terlebih-lebih Plato. Dualisme Plato, yang membedakan antara dunia rohani dan dunia bendawi ditarik secara konsekuen oleh Neopythagorisme.

Neopythagorisme itu sendiri merupakan sebuah usaha untuk memasukkan unsur agama dalam filsafat pagan yang penuh dengan formalisme. Neopythagorian mencoba menggabungkan doktrin Plato tentang Ide dan teori bilangan Pythagoras. Dengan demikian terciptalah konsep kebaikan yang hanya ada pada Ilahi dan dualisme ada pada yang tak terbatas dan yang terukur dengan hasil bahwa kenyataan dan segala objek material di dunia diturunkan dari yang Ilahi.

Dicampurkannya antara pemikiran Pythagoras dan Plato membuat konsep tentang jiwa yang abadi menjadi ada. Hal ini disebabkan kedua filsuf tersebut setuju akan adanya jiwa yang abadi. Pembebasan jiwa dari tubuh, dalam alirah Neopythagoras, adalah dengan melakukan kebaikan seperti tidak makan daging, berselibat, dan lain-lain.

Daftar Pustaka

  • Hadiwijono, Harun, 2005. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Neopythagorean
Tags: , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

Belum ada tanggapan untuk “Neopythagorisme”

Silakan Beri Komentar