Makna Common Sense Menurut Para Filsuf

Sangat sulit untuk memberikan makna atau definisi secara tegas terhadap istilah Common Sense. Moore, walau pun ia dikenal sebagai epistemolog Common Sense, ia tidak memberi batasan terhadap terminologi itu. Hal itu disebabkan karena, istilah Common Sense adalah suatu istilah sederhana sehingga tidak dapat didefinisikan (undefinable). Berikut ini adalah pemaparan makna Common Sense menurut para filsuf.

Plato

Secara historis pemikiran tentang Common Sense ini telah dimulai sejak pemikiran awal munculnya perbincangan tentang pengetahuan manusia. Pemikiran itu diawali oleh filsuf besar Plato. Hal itu disebabkan karena, filsafat sebelum Plato lebih terarahkan pada masalah hakikat alam semesta. Common Sense bagi Plato adalah pendapat umum (Common Opinion) yaitu suatu pengetahuan yang merupakan hasil persepsi orang kebanyakan (the man in the street). Tentang suatu objek yang dicerap langsung oleh subjek yang sifatnya sederhana yaitu hanya merupakan gambaran (copy) objek yang real aktual. Subjek menganggap bahwa pengetahuannya itu telah sampai pada kebenaran yang sesungguhnya. Plato tidak menyangkal keberadaan jenis pengetahuan ini, tetapi Plato, menempatkannya sebagai jenis pengetahuan yang paling rendah yang oleh Plato disebutnya sebagai pengetahuan Eikasia. Pengetahuan jenis ini adalah pengetahuan tentang objek yang berupa bayang-bayang benda material. Subjek hanya mengenal bayang-bayang benda. Objek yang pengetahuan yang sesungguhnya ada di dalam dunia idea. (Lihat teori Allegories of the Cave, Plato).

Aristoteles

Filsuf Yunani lainnya adalah Aristoteles. Berbeda dengan gurunya Plato, bagi Aristoteles Common Sense atau Sensus Communis (Communis Sensus) adalah suatu kemampuan (faculty) yang ada dalam diri manusia yang berupa kemampuan utama untuk memutuskan suatu pengetahuan tentang realitas konkret yang sifatnya dapat diinderai oleh banyak orang (Common Sensible). Objek disadari langsung oleh subjek. Subjek mencerap melalui indera. Bagi Aristoteles hanya melalui inderalah objek yang dicerap akan menjadi pengetahuan yang terbukti.

Francis Bacon

Pemikir empirisme atau realisme epistemologis di Inggris mengikuti jejak Francis Bacon. Bacon telah meletakkan dasar-dasar berpikir induktif. Common Sense bagi Bacon adalah keyakinan umum yang bertolak pada objek khusus yang dipahami secara logis dengan penyimpulan induktif. Penyimpulan induktif harus dilakukan agar pengetahuan terhindar kesalahan yang diakibatkan oleh sesat pikir. Sesat pikir itu oleh Bacon disebut sebagai berhala (idols). Berhala itu adalah berhala kodrat manusia (the idols of the tribe), berhala gua (the idols of the cave), berhala pasar (the idols of the market), dan berhala teater (the idols of the theatre). (Bacon, Novum Organun, prg. 39).

George Berkeley

Pemikir Inggris lainnya adalah Berkeley. Berkeley meletakkan dasar pengetahuan pada kemampuan budi (pikir) manusia. Pengetahuan terjadi karena atas desakkan pikir. Pengetahuan adalah gambaran tentang objek benda yang berupa ide cerapan indera. Objek adalah hal yang dapat diinderai. Common Sense adalah suatu kemampuan manusia untuk mencerap objek nyata yang berupa penampakkan benda yang dicerap indera atas desakan pikir atau budi. Pengetahuan Common Sense adalah pengetahuan orang kebanyakan tentang kenyataan, sehingga bukan merupakan ide yang sesungguhnya, karena itu tidak menunjukkan evidensia yang dapat dipertanggungjawabkan.

Thomas Reid

Thomas Reid seorang filsuf Skotlandia yang termasuk dalam lingkaran tradisi Inggris membangun filsafatnya berdasar pada Common Sense. Filsuf inilah yang mengilhami Moore untuk membangun Epistemologi Common Sense. Pengetahuan Bagi Reid adalah akumulasi pengalaman melalui pemahaman sederhana (simple apprehension). Evidensi pengetahuan amat tergantung pada evidensi perbuatan menginderai, menyimpan dalam memori dan imajinasi. Evidensi pengetahuan amat tergantung pada hubungan objek dengan subjek, sebab pengetahuan itu bersifat murni dan akurat. Pengetahuan yang eviden bukan semata-mata karena penalaran melainkan berasal dari Common Sense. Common Sense bagi Reid adalah universal belief, yaitu suatu kepercayaan universal terhadap penalaran pengalaman yang mengendap di dalam pemahaman sederhana.

Francis Herbert Bradley dan George Edward Moore

Bradley adalah filsuf idealis yang Hegelianistik yang menjadi sasaran serang George Edward Moore untuk menghidupkan kembali realisme di Inggris. Bagi Bradley Common Sense adalah persepsi tentang hal yang universal atau yang absolut yang terungkap dalam penampakan bukan yang actual perception. Pengetahuan adalah pengetahuan tentang penampakan yang universal itu.

Moore membangun filsafatnya bertumpu pada Common Sense. Epistemologi Moore dibangun berkiblat pada epistemologi Hume, sedangkan konsep Common Sense bertolak pada filsafat Reid. Pengetahuan bagi Moore adalah cerapan indera terhadap objek benda material yang hasilnya berupa data-indera. Pemahaman langsung (direct apprehension) terhadap data indera yang melibatkan aktivitas kesadaran akan melahirkan pengetahuan Common Sense. Dengan demikian, Common Sense bagi Moore adalah suatu kemampuan terpadu antara aktivitas penginderaan dan aktivitas kesadaran tentang objek benda material secara langsung. Kemampuan ini menghasilkan keyakinan yang sifatnya universal, karena objek dunia luar (external world) harus dan dapat diketahui bersama secara universal. Universal juga dalam arti keberadaannya selalu demikian adanya atau hampir tidak mengalami perubahan.

Bertrand Russell

Konsep Bertrand Russell tentang tata cara penyimpulan hewani, tampak bahwa model berpikir itu lebih merupakan penyimpulan terhadap pengalaman sehari-hari yang berpusat pada insting. Penyimpulan hewani yang sifatnya instingtif merupakan penerapan epistemologi Common Sense pada logika Russell. Common Sense merupakan kemampuan menyimpulkan secara langsung yang sifatnya instingtif terhadap objek pengetahuan dalam kehidupan keseharian.

Alfred Jules Ayer

Ayer mengenalkan pemikiran yang radikal, yaitu logika yang mengandung kemungkinan mengolah bahan empirik yang tersedia secara sintaksis. Logika yang dikembangkan berdasarkan berbagai prinsip positivisme disintesiskan dengan cara berpikir analitis Moore-Russell. Ayer membangun suatu epistemologi konvensional yaitu dengan menekankan pada logika. Bagi Ayer Common Sense adalah pemahaman terhadap objek ‘given’ yang dapat secara langsung diobservasi tentang nilai kebenaran yang dikandungnya.

Buku Acuan

  • Abbas Hamami. 2003. Common Sense dalam Epistemologi G.E. Moore: Sumbangannya bagi Filsafat Ilmu. Catatan Disertasi, UGM, Yogyakarta.
  • Bacon, Francis. Novum Organum dalam Great Books of the Western World, vol. 30, William Benton, Chicago.
  • Hospers, John. 1967. An Introduction to Philosophical Analysis. Englewood Cliffs, Prentice Hall, 2nd.ed.

Disadur dan Diedit dari: Mintaredja, Abbas Hamami. 2003. Teori-teori Epistemologi Common Sense. Yogyakarta: Penerbit Paradigma.

Tags: , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

30 tanggapan untuk “Makna Common Sense Menurut Para Filsuf”

  1. January 22nd, 2010 at 14:11 | #1

    They all look seem similiar theories to me. Don’t you think most of their theories (from Aristotle to Alfred) are adopted by other theories?

    Anyway, this is useful artikel for all student of philosophers.

    I think better to write the word of “Insting” and “Instingtif” in English words for you essay; it’s more have a sense in the significant word, whether you write the essay in a terminoligy of English or Bahasa, the words of “Instinct” and “Instinctive” will be much better to use.

    Great Job Bro.Keep writing. I like it :-D! Will put some donatation later for doing this job, I promised ;)!

    • January 22nd, 2010 at 15:38 | #2

      Well thank you so much for your comments ๐Ÿ˜Ž they were all similar, because philosophers read other philosophers treatises or books. It is because philosophers trying to make critics and give himself a chance to rebuild the theories (dialectic) better than before.

      Thank you for remind me the difference between Insting and Instingtif. Please do not donate based on this article because this is not mine, I just edited them into “readable” statements. You can see the source at the bottom of the article. But thank you for the critic :mrgreen:

  2. January 23rd, 2010 at 06:23 | #3

    Je me souviens, quand Monsieur Abbas nous enseignait.. Il nous expliquait : COMMON SENSE ๐Ÿ™‚

    • January 23rd, 2010 at 15:10 | #4

      Je me souviens aussi de M. Abbas, C’รฉtait amusant quand on apprend avec lui ๐Ÿ˜Ž

  3. January 23rd, 2010 at 07:18 | #5

    keren bro…hampir lengkap

  4. January 23rd, 2010 at 08:02 | #6

    wadooooh komennya boso linggis pating blipet lidahku keplintir

  5. January 23rd, 2010 at 15:13 | #7

    @A.J.I
    heuheuhe.. terima kasih ji.. heheheh..

    @attayaya
    moso ra ngerti.. ojo ngapusiii.. :mrgreen:

  6. January 23rd, 2010 at 23:22 | #8

    @JengSRi.com
    woh komennya inggris ๐Ÿ˜€

  7. January 24th, 2010 at 09:23 | #9

    pokoke common sense lah
    huehuehue

  8. January 24th, 2010 at 17:29 | #10

    RAIHLAH โ€œJATI DIRI MANUSIAโ€.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang โ€˜tuk Sahabatku terchayaaaaaank

    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  9. January 24th, 2010 at 17:31 | #11

    waaaaah jadi artina naon common sense.. kedah di google translate heula :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

  10. January 24th, 2010 at 17:38 | #12

    ooo.. akal pikiran.. nalar.. waaaah.. mangstab atuh

  11. January 25th, 2010 at 01:47 | #13

    ikut ajah dech dengan orang2 pintar diatas hehe

    kunjungan n mohon berkunjung lagi hehe makasih

  12. January 25th, 2010 at 08:09 | #14

    AKAL PIKIRAN adalah BELENGGU jika kita tidak dapat menjernihkannya.. semua akan menjadi penyebab kehancuran dari Manusia

  13. January 25th, 2010 at 08:11 | #15

    Sesungguhnya manusia diberikan kelebihan akal pikiran yang jernih dan hati nurani yang bersih.. inilah JATI DIRI MANUSIA..

  14. January 25th, 2010 at 22:59 | #16

    pengen terkenal sepanjang masa seperti mereka,,
    salam knal Ob,,

  15. January 29th, 2010 at 04:36 | #17

    yg sering mia pelajari adalah filosofi dari plato, Thomas Reid dan aristoteles. selain itu, mia jg suka ama filosofinya SUn Tzu, walau beliau lebih dikenal sebagai ahli seni perang, tapi filosofinya bagus dan sangat bijak

  16. January 29th, 2010 at 04:45 | #18

    lahhh koment mia kok ga muncul???

  17. January 29th, 2010 at 04:47 | #19

    kayaknya pemahaman common sense ini yang menjadi pijakan dasar bagi para aliran komunis, soalnya materialis bgt

  18. January 31st, 2010 at 06:22 | #20

    HHmm..Jadi tahu pendapatnya tokoh2 keren nich

  19. February 3rd, 2010 at 02:09 | #21

    komet ndasku mboco artikel mu,,walau pun rak ngudeng aku,,,,tapi nggk popo..salam kenal yo dari ngawur

  20. February 3rd, 2010 at 13:54 | #22

    wah bisa belajar lebih dari para filsuf mantapss

  21. February 7th, 2010 at 18:30 | #23

    postingannya mantap. padat dengan ilmu pengetahuan.
    thank’s ya buat infonya

  22. February 12th, 2010 at 15:32 | #24

    Luar biasa postingan nya tentan orang2 yang berjasa di buat bumi ini..

  23. February 13th, 2010 at 13:39 | #25

    numpang baca2 bang…. sambil manggut2 utk memahami.. ๐Ÿ˜€

  24. February 17th, 2010 at 13:08 | #26

    di catat gak bu guru!

  25. February 21st, 2010 at 16:09 | #27

    hehehehe yang ngomeng diatas saya manggil “bu guru” hohohohoho..
    sayah suka yang dikatakan oleh Francis Bacon sepertinya lebih simple dan mengena buat sayah… gimana kuliah omm…. sayah dah pendadaran tanggal 16 feb kemaren hehehehe sukses ya..

  26. March 27th, 2010 at 22:03 | #28

    Salam kenal.
    Cool blognya, sangat menarik…. Kunjung balik ya. Tks.

  27. muhammad hasbullad
    April 19th, 2010 at 16:04 | #29

    ๐Ÿ˜› wowwwwww!!?!!!???!!!???
    halooooooooooooooooooooooooo there is some one over there

  28. lee
    July 30th, 2010 at 11:32 | #30

    Saya baru belajar Sosiologi, tetapi setelah baca Common Sense ini saya melihat ada hubungan dengan teori Makro Obyektif yang menelorkan agama, hukum, dan hirarki pendidikan modern?

Silakan Beri Komentar