Filsafat Immanuel Kant Kewajiban Karena Berkewajiban

Apa yang dimaksud dengan kewajiban karena berkewajiban? Sebelum terjun langsung ke filsafat Immanuel Kant ini sebaiknya kita berbicara ringan dulu tentang siapa yang mempengaruhi Kant dan tentang kewajiban supaya nantinya tidak pusing dalam memahami filsafat yang satu ini.

Kebangkitan Immanuel Kant

Salah satu filsuf yang mempengaruhi Kant adalah David Hume, seorang filsuf dari Skotlandia. Filsafat David Hume ini merupakan filsafat yang menitikberatkan pengetahuan manusia pada pencerapan inderawinya atau empirisme, sebuah penjelasan tentang hakikat substansi dan suatu sebab.  Dengan kata lain filsafat Hume ini membatasi pengetahuan manusia hanya mencapai pada apa yang ada di dunia nyata, yaitu benda-benda yang terlihat dan tercerap, dapat dipahami di sini. Kant tentu tidak setuju dengan filsafat yang menurutnya salah dalam menjelaskan pengetahuan manusia ini, oleh karena itu maka David Hume bisa disebut sebagai filsuf yang membangkitkan gairah berpikirnya Immanuel Kant.

Sekarang kita berbicara tentang kewajiban. Apa yang kita ketahui dengan kewajiban? Tidak ada definisi yang begitu jelas tentang kewajiban. Bahkan jika didefinisikan secara kasar kewajiban adalah tindakan yang harus dilakukan apa yang saya harus lakukan? Untuk mabuk maka saya wajib meminum-minuman yang beralkohol, orang itu miskin saya wajib membantunya, dan lain-lain, bingung? Tak usah terlalu dipikirkan. Secara apriori kita tahu apa itu kewajiban tetapi belum paham betul apa itu kewajiban. Tetapi karena ini bukan artikel khusus yang membahas tentang filsafat kewajiban, maka saya anggap kewajiban yang kita ketahui sudah cukup dalam bahasan kali ini.

Alasan Berbuat Kewajiban

Dalam buku 13 Tokoh Etika karya Franz Magnis-Suseno pada halaman 143 dijelaskan bahwa ada tiga kemungkinan orang memenuhi kewajibannya:

  1. Pertama karena Ia ingin mendapat keuntungan atas kewajiban yang dilakukannya misalnya ada imbalan kalau bisa mencarikan pacar baru buat Anda.
  2. Kedua dikarenakan Ia secara spontan terdorong hatinya karena melihat sesuatu yang membuat dirinya wajib membantu. Loh? Bingung! Misalnya Anda melihat pengemis yang berumur kira-kira 7 tahun di jalanan lalu Anda mengatakan dalam hati “ya ampun… kasihan..” Maka Anda membuka kaca jendela mobil dan memberikan recehan kepadanya.
  3. Ketiga karena Ia memang merasa wajib oleh karena itu Ia melakukan kewajibannya. Dengan kata lain kewajiban demi kewajiban. (Belum dengan contoh)

Jenis alasan kewajiban yang ketiga adalah kewajiban yang paling dimaksudkan oleh Immanuel Kant, filsuf Jerman yang termasyur. Sekarang akan saya jelaskan dalam bentuk kasus. Coba pada alasan melakukan kewajiban yang pertama, jika dipikirkan.. jika itu diri Anda yang selalu melakukan segala kewajiban karena ada imbalannya Anda bisa mengatakan “Oh my God, I’m suck for sure” orang macam apa yang selalu melakukan kewajibannya dengan alasan kontraprestasi! Makanya Kant ‘ga suka kewajiban dengan alasan ini.

Alasan melakukan kewajiban yang kedua! Karena kasihan, belas kasihan, terdorong untuk memberikan, luluh hatinya, apa lagi? Bayangkan.. Anda dikasihani.. jika Anda punya harga diri tinggi tentunya pantang dikasihani. Ah tampaknya kurang jelas, mari diperjelas. Coba Anda mendengar teman Anda menginformasikan “Bang, ada orang ga punya uang buat makan tuh kayaknya sekarat deh..,” atau “Bang, ada orang butuh makan dia kelihatan lapar” dan bedakan ketika Anda melihat dengan mata kepala sendiri ada orang terkapar sekarat gara-gara kelaparan tentunya ekspresi dan sikap Anda berbeda dari sekedar mendengar! Mungkin Anda akan jadi iba atau terharu atau bagaimanalah. Nah, padahal kondisi orang yang kelaparan itu memang kelaparan, tidak berbeda kelaparannya mau itu Anda tahu dari orang lain atau Anda lihat sendiri, tetapi perasaan Anda yang berbeda! inilah ketidaksempurnaan dari alasan kewajiban karena terdorong hatinya / kasihan.

Alasan Kant

Alasan ketiga, yang paling dijiwai oleh Kant. Kewajiban demi kewajiban. Langsung dengan contoh alasan kedua. Mau itu Anda diberitahukan oleh teman Anda, diberitahukan oleh adik, ibu, ayah, kakak, kakek, dan nenek, atau Anda melihat sendiri tetap saja orang yang kelaparan tadi itu wajib dikasih makan! Sudah paham maksud Kant? Belum?

Jadi Kant itu tidak suka kalau orang melakukan kewajiban karena ada keuntungannya atau imbalan, begitu juga orang yang melakukan kewajiban karena kasihan, dua-duanya menurut Kant so suck! Hanya ada satu kata dalam moralitas Kant yaitu HARUS. Saya membantu orang bukan karena sedih melihat “ohhh, anak itu pincang dan idiot” tetapi karena saya harus membantunya, itu kewajiban saya, tanpa kasihan, tanpa imbalan. Sebuah moralitas yang murni atau dengan kata lain yang mudah yaitu imperatif kategoris. Imperatif kategoris adalah keharusan yang tidak bersyarat (hal 146). Melakukan tindakan moral bukan karena  syarat, jika dia miskin saya harus membantu, jika saya dapat imbalan saya membantu, bukan itu! Ini bukan jika-maka! Tapi HARUS, do it! Membantu orang? HARUS! Ini prinsip umumnya!

Ada prinsip umum dibalik imperatif kategoris Kant, prinsip umum itu prinsip yang kita ketahui sebagai prinsip yang baik bagi manusia yah seperti membantu orang, menuruti orang tua, berkata jujur, berlaku sabar, tidak membunuh, dan sebagainya. Tetapi dengan prinsip umum ini ada kekurangan filsafat Immanuel Kant yang dapat membunuh dirinya sendiri.

Tidak akan dibahas sekarang tapi pada artikel selanjutnya, mungkin 2 artikel setelah ini atau 5.

ffddengan kata lain dengan kata lain dengan kata lain
Tags: , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

4 tanggapan untuk “Filsafat Immanuel Kant Kewajiban Karena Berkewajiban”

  1. October 26th, 2009 at 02:03 | #1

    Sometimes, you just have to do the right thing.. Kadang gak perlu ada alasan..

    • October 26th, 2009 at 02:30 | #2

      and sometimes, you just know what it is the right thing based on your experience when the others not 🙂

  2. eni
    January 15th, 2010 at 12:04 | #3

    Tdk selamany krn kewajiban

  3. suli
    December 15th, 2011 at 16:55 | #4

    Tidak ada tanpa alasan, alasan hanya karena harus juga bisa di jelaskan kenapa itu harus???

Silakan Beri Komentar