Mempelajari Etika Makan Suatu Tinjauan Filosofis

Makan! Makan! Makan! Ya makan adalah sesuatu yang alami dialami oleh semua makhluk hidup. Tumbuhan, Binatang, dan Manusia semuanya bisa makan. Kucing, anjing, babi, kuda, kambing, sapi, dan hewan lainnya juga makan. Manusia tidak bisa disamakan dengan tumbuhan mau pun binatang karena manusia memiliki rasa. Manusia memiliki sebuah potensi untuk membedakan mana yang sedap yaitu suatu perpaduan rasa dari bumbu-bumbu atau sebuah bahan dasar makanan. Makanan juga memiliki segi sosialnya, misalnya dengan memakan makanan tertentu bisa kelihatan orang macam apa dia. Contoh: orang bisa menilai siapa si A yang memakan Lasagna setiap hari dan juga bisa menilai si B yang memakan hanya nasi dari beras jelek dan ampas tahu. Kelihatan perbedaan antara si A dan si B, dari makanan ini orang bisa memilah banyak perbedaan, oleh sebab itu maka pemilahan inilah yang menjadi segi etis apabila memakan sesuatu atau ketika akan memakan sesuatu.

Tulisan di sini bukanlah merupakan etiket makan atau tata krama makan, tetapi merupakan ETIKA MAKAN yang lebih universal dan bisa diterapkan bagi seluruh manusia. Persoalan etika makan ini bukan mempersoalkan bagaimana cara makan yang benar seperti:

  • Menggunakan tangan kiri atau kanan?
  • Makan di kasur atau di meja?
  • Makan itu bagusnya memejamkan mata atau kedap-kedip saja?
  • Makan mana yang lebih keren, pakai sendok atau tangan kosong?

Persoalan etika makan bukanlah hal etiket makan, karena antara Etika makan dan Etiket makan itu berbeda. Pertanyaan tentang etika makan lebih mengarah kepada keumuman yang dapat terjadi pada seluruh umat manusia seperti:

  • Pantaskah membuang-buang makanan?
  • Ketika dunia sedang dilanda kelaparan dan kemiskinan, apakah baik jika kita membeli makanan cemilan yang mahal?
  • Pantaskah menghidangkan makanan pada penganut agama tertentu yang memiliki ajaran bahwa makanan tersebut haram?

Ada 2 contoh yang bisa ditarik menjadi bahan perbincangan yaitu:

  1. Ketika orang lain berpuasa maka pantaskah orang yang tidak berpuasa makan dengan tamak di depan orang yang sedang berpuasa tersebut, banyak orang berkata tidak pantas. Jikalau Anda mengatakan bahwa itu pantas maka mungkin Anda memang tidak memiliki tenggang rasa. Inilah segi etis ketika berhubungan langsung dengan objek etika makan, ada si pelaku (si pemakan), ada si bukan pelaku (orang biasa yang sedang tidak makan).
  2. Setiap orang memiliki hak untuk menentukan apa yang Ia makan dan memilih tempat ketika Ia akan memakan makanan tersebut. Ketika orang memilih tempat yang tidak ada orang lain yang melihat, atau tidak ada orang yang sedang berpuasa, tetap saja Ia bisa terkait oleh persoalan etika lagi. Sebelumnya, etika mementingkan beberapa aspek 2 diantaranya adalah pertimbangan moral sosial dan pertimbangan hati nurani. Ketika orang sedang sendiri dia melepaskan diri dari kehidupan sosial secara riil (terpisah antara orang A dan orang B), namun dia tidak akan bisa terlepas dari hati nuraninya. Pertanyaan yang diajukan terhadap diri sendiri adalah “Apakah saya pantas memakan makanan yang sangat mahal ini ketika teman saya yang jauh di sana sedang membutuhkan makan?” Pertimbangan etis seperti itulah yang jadi persoalan etika makan.

Inilah yang disebut sebagai pertimbangan filsafat moral tentang makan, sekarang pertanyaannya apakah Anda sudah memahami bagaimana Anda seharusnya menyikapi tentang persoalan kelaparan dan kemiskinan? Kalau Anda sudah bisa menjawab dan bisa mengambil sikap berarti

Anda sadar akan betapa pentingnya makanan bagi kehidupan

Tags: , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

14 tanggapan untuk “Mempelajari Etika Makan Suatu Tinjauan Filosofis”

  1. October 21st, 2009 at 03:16 | #1

    Wah… tampilannya baru lagi nih. tambah mantap.

    • aprillins
      October 21st, 2009 at 03:41 | #2

      iya neh pak iwann.. gara2 ini jadi pospon berapa lama tuh.. huhuuhuhu..

  2. October 21st, 2009 at 03:17 | #3

    Makanlah ketika lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.

  3. October 21st, 2009 at 03:18 | #4

    mampir pertama,… Salam kenal.

    • October 21st, 2009 at 03:18 | #5

      ditunggu kunjungan baliknya.

    • aprillins
      October 21st, 2009 at 03:40 | #6

      salam kenal juga nih.. ehehh udah berkunjung.. tentang melati ya

  4. October 21st, 2009 at 04:29 | #7

    Utamanya makan juga soal rasa.

    • aprillins
      October 21st, 2009 at 05:25 | #8

      ya soal rasa memang tapi ada yang penting dari rasa yaitu kehidupan 🙂

  5. October 21st, 2009 at 21:58 | #9

    benar-benar filosofi tata cara makan. sederhana tapi sering dilupakan orang. mantap bro

  6. October 25th, 2009 at 08:23 | #10

    yg pasti jangan suka buang2 makanan krn sekarang cari uang susah. sementara byk orang yg kurang makan krn gak punya duit.

  7. April 28th, 2010 at 22:31 | #11

    aq suka artikelnya semua.
    kirim lg yg terbaru yah.

  8. semut putih
    June 7th, 2011 at 09:13 | #12

    siapa yang membuat artikel ini? saya ingin berguru kepadanya kalau boleh

  9. July 12th, 2012 at 16:45 | #13

    Adakah teori tata cara/etika makan? Ada bukunya tidak? Tolong jelaskan ! (salam kenal by: Asyifa)

    • August 22nd, 2012 at 07:28 | #14

      Untuk tata cara itu bukan disebut etika melainkan etiket yang lebih bersifat prosedural sesuai dengan kebudayaan masing-masing, misalnya makan dengan tangan kanan, kalau makan gak boleh berisik/kecapan. Kalau etika bersifat universal, contoh siapapun dibelahan dunia manapun bisa paham kalau berbakti kepada orang tua itu baik.

Silakan Beri Komentar