Tujuan Hidup Saya Secara Filosofis

Sampai saat ini saya belum menemukan apa tujuan hidup saya sebenarnya. Tidak seperti misalnya, saya hidup dengan tujuan untuk mencapai cita-cita saya yaitu menjadi seorang dokter mau pun menjadi seorang insinyur. Saya ingin memiliki tujuan hidup yang tidak memiliki batas temu. Jika saya ingin menjadi seorang dokter maka saya akan berkuliah di fakultas kedokteran dan mendapatkan gelar sarjana kedokteran lalu koas baru setelah itu menjadi seorang dokter, and then what next?

Saya tidak ingin menjadi orang biasa yang menjejakkan tapak kakinya di muka bumi ini lalu menghilang, saya tidak ingin menjadi dokter, atau pun insinyur. Tetapi saya ingin menjadi seperti Hitler, Nietzsche, Immanuel Kant, Plato, Aristoteles, atau Hugo Grotius. Saya ingin setelah saya mati nanti menjadi orang yang selalu dikenang apa pun itu latar belakang mengapa saya selalu diingat orang. Misalnya Hitler dikenal sebagai orang kejam yang telah membantai banyak orang Yahudi,  atau Nietzsche yang dengan pemikirannya bahwa Tuhan telah mati padahal maksud Nietzsche bukanlah Tuhan benar-benar mati, tapi ada maksud lain.

Alangkah senangnya saya apabila setelah saya mati nanti masih dibicarakan banyak orang sampai berabad-abad lamanya. Saya lebih senang ada yang kontra dengan saya setelah saya mati nanti karena itu akan menghidupkan kembali kenangan orang-orang tentang diri saya. Berguna bagi masyarakat? Memang itu hal yang baik, tetapi berguna untuk seluruh umat manusia itu lebih baik lagi. Seluruh kejelekan yang ditimbulkan akibat pemikiran seseorang bukanlah sesuatu yang benar-benar besar, tetapi setelah kejelekan itu dikecam secara luas mendunia maka itulah pembelajaran. Dengan adanya orang seperti Hitler, Nietzsche, Stalin, atau pun Socrates dunia ini menjadi dinamis, umat manusia bisa berpikir untuk berubah menjadi apa yang seharusnya dan apa yang seharusnya yang baik itu.

Memang benar seringkali kejelekkan dari tokoh sejarah seperti Hitler membawa malapetaka hilangnya nyawa manusia, tetapi dibalik semua itu bisa dimunculkan berbagai pertanyaan tentang pribadi Hitler sehingga orang bisa melihat Hitler dari sudut pandang yang berbeda. Cobalah tengok mengapa Hitler membunuh sekian banyak orang? Apakah Ia berbuat itu tanpa alasan? Apakah Hitler itu hanya orang gila yang bisa memengaruhi sekian banyak rakyat Jerman untuk menjadi pengikutnya? Tentu saja dengan berpikir sedikit tidak mungkin kita menganggap Hitler itu orang gila.

Untuk menjadi dikenang dalam dunia yang semakin ramai dengan manusia yang tidak jelas ini sepertinya kita memiliki dua cara, yang pertama yaitu kemampuan alamiah untuk melakukan perubahan. Yang pertama ini adalah aksi yang tidak diorganisir untuk dikenang! Tetapi diorganisir demi tujuan tertentu, misalnya kasus Munir, Ia akan terus dikenang sebagai Aktivis HAM bukan karena dia merencanakan karena ia ingin dikenang tetapi memang itulah yang ia kerjakan. Cara kedua yaitu kemampuan untuk mencapai tujuan secara sadar, ketika orang dalam masa kesendirian ia akan lebih ingin orang lain melihatnya, ia akan lebih ingin orang lain menghargai dan memperhatikan apa yang diperbuatnya. Ia akan membuat orang lain menjadi kagum atas tindakannya. Tindakan yang ia perbuat bukan semata-mata karena dia ingin, tetapi karena ia ingin orang lain memandang! Misalnya seorang anak dungu yang pada tahap tertentu mencapai kebosanan karena dikucilkan dan sebagaimana macamnya, pada satu saat ia menyusun rencana agar orang lain bisa tahu siapa dia sebenarnya dan ia merencanakan agar ia dikagumi orang-orang. Untuk mencapai tujuannya itu ia terus belajar keras, mati-matian untuk menjadi seorang Inventor atau penemu. Ia menemukan sesuatu yang lebih dahsyat dari Nuklir maka perhatian orang akan tertuju padanya, dia bisa bangga atas temuannya itu. Ia menemukan sesuatu itu bukan karena memang ia ingin meneliti sesuatu yang lebih hebat dari nuklir, melainkan karena ia ingin dihargai, dipandang, dihormati, dan diperhatikan.

Dari pemikiran ini saya sampai sekarang masih terus berpikir, tindakan apa kira-kira yang akan membuat saya bisa dikenang orang? Di sini saya bisa mengidentifikasi sendiri pilihan saya, jatuh pada cara ke dua. Memang cara nomor dua ini kelihatan sangat menyebalkan, tapi inilah cara yang dipakai oleh seorang Naruto ketika ia ingin membuktikan eksistensi dirinya. Sang Naruto ingin menjadi seorang Hokage! Tujuan hidupnya sangatlah jauh! Tetapi sekalinya tercapai maka ia akan dikenang untuk selama-lamanya. Karena di desa tempat Naruto tinggal, wajah Hokage akan diukirkan di gunung batu dibelakang desa sebagai penanda sejarah pemimpin desa yang melindungi masyarakatnya.

Ada pertanyaan lagi, apakah saya ingin menjadi orang yang dikenang karena aksi yang buruk atau kah aksi yang baik? Sekarang saya belum bisa menjawab tetapi satu saat nanti bisa!

Tags: , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

3 tanggapan untuk “Tujuan Hidup Saya Secara Filosofis”

  1. arvy
    January 28th, 2010 at 02:00 | #1

    8) mantab!

  2. cungking
    September 14th, 2010 at 20:39 | #2

    dari apa yang telah anda bicarakan, sebenarnya tujuan hidup semua manusia itu hanya ada satu, silahkan lihat artikel di link berikut ini:

    http://forget-hiro.blogspot.com/2010/08/satu-tujuan-hidup-untuk-semua-manusia.html

  3. soviyan
    October 14th, 2010 at 20:32 | #3

    pemikiran yang sahabat sampaikan dalam tulisan ini sangat menarik untuk dipikirkan, apakah itu sebenarnya tujuan hidup kita ? apakah penting cita-cita kita untuk menjadi orang yang terkenal dan dibicarakan orang dari masa ke masa setelah kita meninggalkan kehidupan dunia ini? apakah kita bisa merasakan dan mengetahui kehidupan dunia kita saat ini setelah kita tidak ada di dunia ini? terima kasih mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan kita.

Silakan Beri Komentar