Dua Versi Tentang Arti Cinta Antar Manusia

Postingan kali ini saya mendapatkan inspirasi dari sebuah kisah nyata yang teman saya alami. Tadi malam kira-kira jam 23.00 saya ditelepon oleh teman saya yang di Jakarta. Kami mengobrol selama dua jam, intinya dia curhat ke saya tentang hubungan dia dengan mantan pacarnya. Memang satu hal yang penting ga penting, tetapi dia teman saya dan seharusnya sebagai manusia saling membantu, mendukung dan memberi motivasi. Meski pun dukungan secara fisik tidak saya lakukan, tetapi dukungan secara moral sangat diperlukan dalam menghadapi persoalan ini.

Dia sedang menghadapi persoalan pelik dalam kehidupan cintanya, dahulu sewaktu SMU mereka begitu mesra sampai akhirnya lulus SMU pun masih mesra, tetapi beberapa bulan kemudian hubungan mereka pun mulai renggang karena sebab tertentu yang tentunya saya tidak tahu apa sebabnya. Saya kira hubungan mereka sudah sampai di situ dan mereka berhubungan baik-baik layaknya teman biasa, tetapi kenyataan yang saya ketahui sekarang ini berbeda dengan pikiran saya. Ternyata setelah hampir 3 tahun, mereka dilanda masalah akibat putus hubungan mereka.

Teman saya tidak bisa terima karena dia diperlakukan seperti itu, entah seperti apa yang dilakukan wanita itu terhadap teman saya. Tetapi yang jelas teman saya ini membenci sekaligus mencintai dia. Pada curhat tadi malam teman saya mengatakan kekesalannya terhadap wanita itu, dia ingin melakukan kekerasan fisik karena dendamnya, tetapi saya katakan bahwa tindakan tersebut hanya bikin runyam masalah, yang ada cuma bikin reputasi tambah jelek. Saya menanyakan apakah teman saya ini benar-benar dendam sama wanita itu, dia jawab dia dendam. Tetapi selang beberapa detik teman saya mengatakan bahwa Ia sayang dengan wanita itu dan dia ingin memulai hal yang baru lagi dengannya. Di sini saya bingung, apa orientasi dia dalam mencintai wanita tersebut? Apa tujuan akhir dia? Apakah ingin merebutnya kembali atau ingin wanita itu bahagia?

Ada dua fakta yang saya dapat di sini yaitu: 1. Teman saya membenci wanita itu karena perlakuannya dulu (yang tidak saya tahu apa itu), 2. Teman saya masih sayang dengan wanita itu. Kesimpulan yang saya pikirkan adalah bahwa teman saya itu ingin membalas perbuatannya terlebih dahulu setelah itu barulah memulai kehidupan cinta yang baru lagi. Tetapi membalas dendam itu sebenarnya kurang asik untuk dilakukan dalam hal seperti ini. Pacaran itu bagi saya seperti sebuah pertarungan kalau sudah kalah ya memang kalah, kalau kena tinju ya sakit, itu resikonya. Kalau diselingkuhin atau disakiti ya itu memang sudah wajar sebagai resiko dan orang seharusnya mengakui bahwa dengan ini maka perlu banyak belajar agar tidak kalah dengan lawan yang berikutnya. Dalam konteks pacaran ya misalnya kita harus menjaga bagaimana caranya agar pasangan kita tidak lari dari kita. Sebagai pria haruslah punya doktrin tertentu yang membuat wanita menghargai, mencintai, dan menjadikan kita sebagai panutan, pria harus punya tujuan. Wanita harus dibuat agar bisa terkagum-kagum dengan sikap dan perlakuan kita kepadanya. Dengan itu maka wanita tahu bagaimana dia harus bersikap dan bisa setia. Dalam hal ini, saya tidak mengatakan bahwa wanita adalah makhluk yang tidak superior dibandingkan dengan pria. Tetapi hanya mengingatkan kaum pria, bahwa pria adalah pemimpin yang berkekuatan dan memang diciptakan untuk memimpin. Pria seharusnya bisa memberikan contoh yang baik dalam bersikap kepada wanita, dengan itu maka wanita harus jatuh hati kepadanya, kalau wanita itu lari, itu disebabkan oleh kaum pria sendiri ia tidak bisa mendoktrin wanita itu menjadi mengagumi pria di sinilah letak kekalahannya. Doktrin bukanlah satu hal yang kejam dalam kasus ini karena doktrin yang saya maksudkan adalah mengubah pola pikir wanita yang kita sayangi untuk menjadi lebih baik dengan itu wanita akan manggut-manggut dan menghargai kita sebagai pemimpin yang harus diikuti. Ini adalah saran untuk teman saya.

Ada 2 versi cinta yang nantinya akan menentukan bagaimana orang seharusnya bertindak dalam masalah percintaan: 1. Cinta Platonis, 2. Cinta konvensional. Pertama-tama, cinta platonis dapat secara kasar didefinisikan sebagai cinta yang merelakan apa pun agar pasangan kita bahagia. Seperti di banyak lagu “cinta tak harus memiliki” atau mungkin pernah mendengar “kalau cinta ya turutin aja apa maunya, kalau dia bahagia ‘kan kamu juga bahagia.” Itulah cinta platonis sebuah cinta yang mengharapkan kebahagiaan dari kebahagiaan pasangan kita. Sedangkan yang kedua yaitu cinta konvensional yaitu cinta yang “menghalalkan” segala cara untuk mendapatkan cinta. Menghalalkan segala cara di sini terkesan kasar namun memang itulah yang saya maksudkan. Cinta konvensional di sini diibaratkan dengan kalimat “jangan biarkan orang lain mengambil kekasih hatimu”, “cinta tanpa memiliki itu sama saja nonsense”, dan “bagaimana pun juga saya harus mendapatkan cintanya”.

Itulah dua versi cinta yang saya ketahui, gunanya untuk menentukan orientasi diri terhadap pasangan Anda dan sekaligus menentukan kira-kira apa yang kita lakukan ketika Anda mengkategorikan diri ke dalam cinta konvensional atau cinta platonis.

Tags: , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

7 tanggapan untuk “Dua Versi Tentang Arti Cinta Antar Manusia”

  1. September 10th, 2009 at 14:59 | #1

    hm hm… sepertinya gua mengendus ada doktrin playboy yang dipaksakan disini… :p

  2. September 11th, 2009 at 04:18 | #2

    benci tuh emang bener2 cinta
    bahkan tai gigi pun terasa coklat

  3. Erwin
    January 17th, 2010 at 23:41 | #3

    Cinta sejati tU sSah uTk didptkn.kCuali brStUX 2 insan yg sL!ng myatU..! 😆

  4. October 10th, 2010 at 23:39 | #4

    @quinie
    ha.ha, bnul2 mba, jadi qta sbgai wanita kdu bgimana nih?:D

  5. anwar
    January 27th, 2011 at 16:19 | #5

    hemmm……

Silakan Beri Komentar