Masalah Kebatinan Sebuah Pengantar Kepercayaan dan Agama

Perubahan Zaman Membawa Nilai Baru

Pembaharuan pancamuka yang berjalan di Indonesia pada tahun-tahun terakhir ini membawa serta juga kesadaran baru dalam hidup agama. Ternyatalah bahwa pembaharuan dalam bidang jasmani telah menciptakan juga kebutuhan-kebutuhan baru rohani. Pembaharuan menuntut pergeseran dan pernggantian nilai-nilai tradisional. Setiap lembaga, entah yang bersifat kebudayaan atau keagamaan, ditantang untuk menawarkan nilai-nilai baru. Hanya melalui nilai-nilai baru lembaga-lembaga tadi memungkinkan manusia untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan zaman dan menghadapi masa depan dengan percaya. Jelaslah kiranya bahwa nilai-nilai asasi yang tercakup dalam hidup agama tidak terluput dari tantangan zaman ini.

Agama-agama Baru dan Aliran-aliran Kebatinan

Sedemikian halnya, kita menyaksikan dewasa ini lahirnya sejumlah agama baru, pun pula aliran-aliran baru dalam agama-agama lama. Mereka itu telah timbul dalam jumlah besar, serentak dan agak mendadak. peristiwa ‘agama baru’  yang kini lazimnya disebut ‘kebatinan’ telah tersiar luas di seluruh Indonesia, diantara segala lapisan masyarakat. Biarlah ditentang, namun berkembang juga. Pada tahun 1951 Kementrian Agama Republik Indonesia menyusun “Daftar aliran-aliran, keyakinan, dan kepercayaan di luar agama Islam, Kristen Protestan dan Katolik.” Jumlahnya sebanyak 73.

Kongres Kebatinan pada tahun 1959 dihadiri oleh wakil-wakil dari 142 organisasi kebatinan. Jumlah itu naik sampai tidak kurang dari 300 pada tahun 1965. Sesudah banyak organisasi sudah dibubarkan atau dibekukan, sebuah survey di bawah pimpinan Drs. Mahmud Usman, pada tahun 1970, mendaftarkan, hanya dalam kota-kota besar di Jawa, 151 aliran. Angka itu naik menurut berita Antara 11 April 1972, sampai 217 aliran dengan tingkat pusat dan 427 bertingkat cabang, bersama 644. Diantaranya terdapat 149 di Jawa Tengah, 105 di Jawa Timur, 96 di Sumatra, 69 di Jawa Barat, 39 di Daerah Istimewa Yogyakarta, 20 di Sulawesi dan seterusnya. Memang suatu jumlah yang mengesankan! Maklumlah bahwa tidak semua aliran tercatat pada pendaftaran resmi. Alhasil: sebuah gerakan yang tidak dapat diabaikan dengan begitu saja.

Persoalan Kebatinan Yang Serba Ganda

Gerakan Kebatinan Indonesia sudah menarik perhatian dari berbagai pihak. Pertama dari sarjana-sarjana sosiologi di luar dan di dalam negeri, begitu juga dari ahli agama, tidak terlupakan juga pihak pemerintah. Pengamatan dan penyelidikan mereka menghasilkan puluhan publikasi. Meski pun demikian, namun sampai sekarang belumlah tercapai penilaian seragam. Entah karena pendekatan serba berlainan, entah disebabkan oleh keanekaragaman aliran-aliran tersebut, namun kata sepakat tentang arti gerakan itu belum terdapat. Paling kurang kata sepakat yang memenuhi syarat-syarat ilmiah. Persoalannya memang tidak mudah!

Sepuluh Soal Pokok

Gerakan Kebatinan merupakan peristiwa berganda yang hanya dapat dipahami oleh pendekatan menyeluruh. Menyoroti satu segi saja menghasilkan gambaran palsu atau tidak adil. Sebaiknya diteliti oleh regu sarjana-sarjana yang berkeahlian berbeda-beda. Salah paham tentang maksud kebatinan agak besar. Kerap kali terdengar kesimpulan-kesimpulan yang bertentangan. Pemerintah sendiri sudah beberapa kali ganti haluan dalam mendekati masalah kebatinan dan dalam menindak warga-warganya.

Gerakan kebatinan menghadapkan kepada masyarakat sejumlah masalah yang bertumpuk-tumpuk. Sebaiknya diberitakan sejak permulaan penelitian ini. Bukan dalam bentuk masalah yang tegas dirumuskan dengan rapi, melainkan sebagai terdengar kiri kanan dalam pendapat umum. Masyarakat minta penyuluhan tentang masalah kebatinan dan mengelilinginya dengan macam-macam pertanyaan.

  • Adakah semua aliran kebatinan sejenis atau pun perbedaan masing-masing melebihi kesamaan?
  • Manakah yang lebih penting dalam peristiwa kebatinan: sifat sosial atau sifat agama?
  • Apakah perbedaan antara kebatinan dengan agama, khususnya agama-agama besar? Apakah Kebatinan berhak atas pengakuan dan penegasan resmi setingkat dengan agama-agama resmi dan selanjutnya berhak atas perlindungan, bahkan bantuan negara?
  • Apakah gerakan kebatinan itu merupakan penyakit dalam tubuh agama atau malahan usaha untuk menyehatkan agama yang sakit?
  • Apakah kebatinan bermaksud mengganti agama-agama lain atau bergerak disamping mereka dalam bidang tersendiri?
  • Dipandang dari perubahan cepat yang tampak sekarang, kebatinan ada kalanya digolongkan pada pihak kolot, ada kalanya pada pihak progresif, mana yang benar?
  • Karena setiap gerakan mental-rohani berpengaru pada mental pembangunan, ditanyai apakah kebatinan merintangi, bersifat netral atau malahan menguntungkan pembangunan?
  • Kebatinan agaknya timbul sebagai reaksi dan kritik terhadap tata-tertib yang ada (status quo, establisment); maka unsur atau faktor persis mana yang dikritik dan diusahakan perbaikannya?
  • Lebih prinsipiil adalah persoalan, sejauh mana seseorang dapat menghayati ketuhanan di luar agama, apakah itu dalam kebatinankah?
  • Hati nurani bertanya: apakah seseorang yang sudah beragama, entah Kristiani, entah Islam, entah Hindu, atau Buddha, dapat menjadi warga organisasi kebatinan dengan berkeyakinan penuh dan konsekuen, sambil menetap dalam agamanya semula?

Inilah berbagai deretan masalah. Bermacam-macam sifatnya: teoritis, praktis, politis, teologis dan lain sebagainya. Jelaslah bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab dengan sepatah kata: ya atau tidak. Guna menjawab secara memuaskan perlulah menyelami soal kebatinan dalam-dalam, dan menggerakkan pelbagai masalah fundamental.

Yak itulah Bab Pertama dari buku yang ditulis oleh Rahmat Subagya yang berjudul Kepercayaan Kebatinan Kerohanian Kejiwaan dan Agama. Mengapa saya sadur dari buku Pak Rahmat tersebut? Hal ini dikarenakan mungkin banyak yang memerlukan penelitian tentang masalah kebatinan mungkin dalam bidang filsafat, antropologi, psikologi atau antropologi. Masalah yang terjadi pada mereka adalah bahwa mereka akan kesulitan menemukan buku ini. Asal blogger tau yaa, buku ini harganya Rp.1300 setebal 148 Halaman, kok bisa? Nah itulah buku langka.. buku ini diterbitkan pada tahun dirahasiakan ehuehuheue..

Tags: , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

3 tanggapan untuk “Masalah Kebatinan Sebuah Pengantar Kepercayaan dan Agama”

  1. August 6th, 2009 at 23:46 | #1

    pertamax mulu disini jadi ga ada tantangannya 🙁

  2. August 6th, 2009 at 23:56 | #2

    huahahhaa pake moderation?

  3. Nul
    June 17th, 2011 at 07:35 | #3

    Masalah gitu gk perlu di ributkan,kan di dunia ini ada berbagai mcam agama ,suku,suku dan kepercayaan,yang pentin kan 1 tjuan untuk kebaikan,smua agama mengajarkan kebaikan,bukanya sebalikny gtu aja kok rep0t

Silakan Beri Komentar