Filsafat Agama: Fenomena dan Unsur Fundamental Agama

A. Fenomenologi dan Fenomenologi Agama

Unsur fundamental agama dapat diketahui, salah satu caranya, dengan pendekatan fenomenologi. Metode fenomenologi dikenalkan oleh Edmund Huserl (1859-1938). Semboyan fenomenologi adalah zu den sachen selbst (kembali kepada hal-hal itu sendiri). Pendekatan fenomenologi berusaha menemukan kembali pengalaman dasariah dan asli, yang utuh, bebas nilai dan kaya isi, tentang sesuatu hal atau perkara. Untuk mendapatkan pemahaman yang representatif dan memuaskan tentang suatu hal, segala doktrin dan teori tentang hal itu harus dilepaskan. Perhatian difokuskan kembali kepada fenomena, sebagaimana hal itu menampakkan diri kepadaku (Diester, 1992: 25).

Usaha menemukan unsur fundamental sesuatu hal, melalui pendekatan fenomenologi, dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, fenomena sesuatu hal diselidiki sejauh disadari secara langsung dan spontan. Kedua, fenomena sesuatu hal diselidiki hanya sejauh ada sebagai bagian dari dunia yang dihayati secara keseluruhan. Menurut prinsip-prinsip itu, segala fenomena sesuatu hal dan segala pemahaman tentang fenomenanya itu dianalisis. Segala penyempitan atau reduksi dan interpretasi yang berat sebelah disingkirkan, sehingga ditemukan unsur fundamental.

Fenomenologi Huserl menentang habis-habisan tradisi pemikiran yang telah dikembangkan sejak Descartes hingga Hegel. Jika selama itu, pengetahuan dikembangkan lewat konstruksi spekulatif dalam akal budi, maka bagi Huserl, pengetahuan yang sesungguhnya adalah kehadiran data dalam kesadaran akal budi, bukan rekayasa pikiran untuk membentuk teori (Sudiarja, 1995: 6).

Fenomenologi Huserl menekankan pentingnya suatu metode yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat mendeskripsikan seperti penampilannya. Fenomena yang dimaksud oleh Huserl adalah kehadiran data dalam kesadaran, atau hadirnya sesuatu tertentu dengan cara tertentu dalam kesadaran kita. Fenomena dapat berupa hasil rekaan atau sesuatu yang nyata, gagasan maupun kenyataan. Pendapat Huserl tentang fenomena bukan berarti dia berpihak kepada idealisme atau realisme, juga bukan mensintesiskan keduanya. Fenomenologi Huserl justru bersifat pra-teoritik. Fenomenologi justru menempati posisi sebelum ada pembedaan antara idealisme dan realisme (Delfgaauw, 1988: 105).

Anton Bakker (1984: 112) dengan mengutip berbagai sumber memberikan uraian rinci tentang pedoman metodik dalam fenomenologi. Untuk mencapai hakikat fenomena harus diadakan operasi pembersihan. Beberapa hal tambahan dan cara pemahaman lain, segala dogma dan tradisi harus disaring. Operasi itu disebut reduksi atau epokhe. Hal tambahan dan cara pemahaman yang lain harus “ditempatkan dalam kurung”, segi-segi itu tidak diperhatikan atau dipandang lebih dulu, namun bukan berarti tidak dihargai. Reduksi pokok yang pertama adalah reduksi fenomenologis, yang kedua reduksi eiditis, dan yang ketiga reduksi transendental-fenomenologis.

Pada reduksi fenomenologis, disaring tentang realitas objek dan subjek. Objek diselidiki hanya sejauh disadari. Objek dipandang menurut relasinya dengan kesadaran. Terhadap fakta tidak diadakan refleksi maupun tidak diberi statemen. Pada reduksi eiditis, dicari hakikat dari fenomena. Yang dimaksud hakikat adalah struktur dasariah yang meliputi isi fundamental, semua sifat hakiki, semua relasi hakiki dengan kesadaran dan dengan objek lain yang disadari. Untuk mencari hakikat, disaring dan dibersihkan semua aspek yang hanya kebetulan, tidak penting, dan hanya berhubungan dengan objek individual. Reduksi transendental-fenomenologis merupakan pengarahan ke subjek dan mengenai terjadinya penampakan diri, serta mengenai akarnya dalam kesadaran. Kesadaran yang ditemukan dalam reduksi ini adalah kesadaran subjektivitas murni, atau sama dengan aku transendental. Tetapi kemudian, aku transendental kehilangan status terisolir. Dunia berada menurut adanya komunitas individu yang bersifat intersubjektif. Dengan demikian, fenomenologi Huserl menganalisis cara-cara terjadinya pengalaman komunal.

Yang paling penting dalam reduksi bukan menaruh dunia dalam kurung, tetapi segala teori dan interpretasi tentang dunia. Huserl menekankan aspek positif dalam reduksi. Reduksi bukan saja berpaling dari segala teori tentang dunia, tetapi juga berpaling kepada sesuatu, yakni kesadaran atau aku transendental (Bertens, 1983:104).

Aplikasi metode fenomenologi dalam berbagai disiplin ilmu hampir tidak mengalami banyak kesulitan, tidak demikian halnya dalam penyelidikan agama. Kesulitan itu bersumber dari: pertama, kenyataan bahwa agama-agama itu berkembang, sehingga agama merupakan objek kajian yang hidup dan berkembang secara khas. Kedua, agama itu bersifat individual, subjektif, batiniah, loyalitas adalah tuntutan terpokok dalam beragama. Akibatnya, dalam studi agama orang sering membandingkan agama-agama dengan metodenya sendiri, seraya merumuskan keunggulan agamanya.

Fenomenologi agama, menurut C.J. Bleeker, adalah studi agama dengan cara membandingkan berbagai fenomena yang sama dari berbagai agama untuk memperoleh prinsip universal. Dalam upaya itu, prinsip kerja fenomenologi Huserl  khususnya epokhe eiditis dipergunakan. Sementara menurut Raffaelle Pettazzoni, fenomenologi agama adalah pendekatan terhadap persoalan-persoalan agama dengan mengkoordinasikan data agama, menetapkan hubungan, dan mengelompokkkan data berdasar hubungan tersebut tanpa harus mengadakan komparasi tipologis antar berbagai gejala agama (Sudiarja, 1995: 7).

Fenomenologi agama adalah suatu  metode pendekatan dalam studi agama dengan tanpa memperhatikan sejarah suatu agama, tetapi yang diperhatikan adalah bagaimana agama menampakkan diri. Fenomena agama atau gejala yang dengannya agama menampakkan diri menjadi perhatian utama dalam rangka memahami hakikat agama. Dengan metode fenomenologi dicoba ditemukan struktur dasariah agama yang meliputi isi fundamental, sifat hakiki, relasi hakiki dengan kesadaran dan dengan objek lain yang disadari. Fenomenologi agama tidak hanya ingin mendeskripsikan fenomena yang ditelaah, tidak juga hanya menerangkan hakikat filosofis fenomena, lebih dari itu suatu fenomena religius diberi arti secara lebih mendalam sebagaimana dihayati manusia religius (Dhavamony, 1995: 42). Fenomenologi agama seperti itu adalah dalam rangka menghindari bias subjektif dan ketidaksesuaian antara penyelidikan dengan kenyataan agama sebagai suatu yang dialami dan dihayati, bahkan oleh si pengamat sendiri.

B.Unsur-unsur Fundamental Agama

Dalam situasi kemajemukan agama terdapat berbagai fenomena berupa institusi dan tradisi yang merupakan bentuk ekspresi keagamaan. Pendekatan fenomenologi dimaksudkan untuk memahami pengalaman dasariah awal mula hubungan manusia dengan Sang Pencipta, yang lebih dikenal dengan “pengalaman keagamaan”. Fenomenologi agama semacam itu oleh Max Scheler disebut dengan wesensphanomenologie der religion. Scheler menunjuk tiga tugas bagi fenomenologi ini. Pertama, studi analisis tentang sifat hakiki Yang Ilahi. Kedua, studi tentang cara bagaimana Yang Ilahi Menampakkan diri. Ketiga, studi tentang aktus religius yang dilakukan oleh manusia untuk menerima penampakkkan diri Yang Ilahi (Bertens, 1983: 115).

Pendekatan fenomenologis terhadap gejala agama, berdasar batasan Scheler tersebut,  menunjukkan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, di dalam agama-agama terdapat unsur-unsur yang sama di samping tentunya perbedaan-perbedaan. Sebagai misal, pengamatan terhadap gejala yang berupa kultus peribadatan menunjukkan bahwa semua agama meyakini adanya kenyataan lain. Semua umat beragama menekankan loyalitas terhadap Tuhan. Keyakinan ketuhanan merupakan unsur fundamental agama yang mempengaruhi segala bentuk ekspresi keagamaan sesorang.

Kedua, dalam setiap agama terdapat orde, yakni suatu norma yang terkait dengan misi utama agama. Orde dapat bersifat kosmis maupun etis. Orde biasanya bersumber dari gnostik, yakni pengetahuan dan atau pengalaman keagamaan. Pengetahuan dan atau pengalaman keagamaan pada agama kesukuan dapat terjadi karena mythe, sementara dalam agama profetis pengetahuan dan atau pengalaman keagamaan diperoleh, salah satu caranya, lewat wahyu /kitab suci. Pengetahuan dan atau pengalaman keagamaan merupakan unsur fundamental agama.

Ketiga, setiap agama mengakui adanya ketidaksempurnaan di dunia ini. Meskipun, penjelasan tentang sebab ketidaksempurnaan berbeda-beda dalam setiap agama. Agama, dalam hal ini, menawarkan suatu jalan keluar dari ketidaksempurnaan  melalui ritual-ritual. Setiap agama, dengan demikian, berorientasi pada penyelamatan. Pemahaman dan pengakuan tentang ketidaksempurnaan dunia serta orientasi penyelamatan mengandaikan dan membawa manusia kepada keyakinan tentang dunia lain yang sempurna setelah dunia ini, umat beragama meyakini tentang  kehidupan  jiwa manusia setelah kehidupan di dunia ini. Keyakinan tentang immortalitas jiwa merupakan unsur fundamental agama. Keyakinan immortalitas jiwa sering menjadi jaminan bagi moral.

Keempat, dalam setiap agama terdapat orientasi etis-sosial. Agama selalu sosial, meskipun agama bermula dari pengakuan keagamaan yang individual. Orientasi etis-sosial agama sangat terkait dengan orde dan pandangan baik buruk.

Pemahaman tentang unsur fundamental agama dan realisasinya dalam kehidupan akan berpengaruh terhadap masa depan agama. Terdapat minimal tiga kemungkinan terkait dengan eksistensi agama. Pertama, agama seharusnya berakhir. Respon ini merupakan kritik atau reaksi atas kegagalan umat beragama dalam menjalankan fungsi penyelamatan ataupun penertiban dunia/masyarakat. Kedua, agama akansegera berakhir. Respon ini merupakan akibat dari kemajuan peradaban manusia. Ketika teknik yang dikuasai manusia sudah sedemikian maju, dan karenanya manusia terpesona oleh kemajuan itu; agama dipandang akan segera kehilangan fungsinya dalam kehidapan manusia. Fungsi agama akan digantikan oleh IPTEK. Ketiga, akan terdapat semangat baru dalam agama, agama tidak akan pernah berakhir. Respon ini merupakan akibat dari pesimisme terkait dengan semakin kompleksnya persoalan manusia dan ketidakmampuan IPTEK memberikan solusi yang memuaskan bagi kehidupan, tetapi justru menimbulkan persoalan baru dalam kehidupan (Aslam, 1986).

Materi Kuliah Filsafat Agama Fakultas Filsafat UGM

Tags: , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

9 tanggapan untuk “Filsafat Agama: Fenomena dan Unsur Fundamental Agama”

  1. April 17th, 2009 at 23:37 | #1

    huaaaa gokillll…. gua bilang kok panjang amat… ini bahan kuliah ya? setelah gue scroll kebawah, eh bener. xixixi. dasar anak kuliahaaannnnnn

    btw, feed bawa feedburner ini udah bekerja, jadi ya gua bakalan sering mampir dimarih… sediain pecel lele ya 😀

  2. April 18th, 2009 at 08:02 | #2

    Beraaaat… Pril,memoriku gak sampe 1 Gb.Jadi mana ngerti aku yg beginian.Aku sedang have no idea nih,mo nyumbang saran?

  3. April 19th, 2009 at 06:47 | #3

    filsafat githu jeeee….
    aprillins banget deh

  4. January 3rd, 2010 at 08:49 | #4

    aprillins yg spirit, gmn mengunduh daftar pustakanya,pdhl aq butuh banget nich,bls sctnya,tq.

  5. eyang
    April 3rd, 2011 at 14:28 | #5

    agama itu hasil pikir manusia, mensiasati agar manusia belajar tertib melalui ajaran sesorang yang mengajarkan dengan mengatasnamakan tuhan yang mana manusia itu takkan sampai kepada keesaan tuhan hanya dalam pikirannya aja mersa sampai begitu kan bulum ada pembuktian yang nyata selain harus diyakini baik secara filsafat maupun pasrah pada ajaran yang ada tuhan iut maha tau itu adalah keyakinan saja

  6. ars mustqm
    December 6th, 2012 at 08:37 | #6

    ijin ngekutip ya buat tugas…? kak ng copynya gmana

Silakan Beri Komentar