Tinjauan Kosmologi: Agama dan Realitas Asali

Kenyataan asali itu tunggal, dan segala yang eksisten merupakan aspek atau bentuk karena setiap entitas itu ‘mengada’. Akan tetapi manusia sering terasing dari kenyataan asali tersebut. Kesibukan dalam rutinitas keseharian telah membuat manusia tak dapat ‘menangkap’ realitas tersebut.  Pada kondisi ini, berbagai tradisi keagamaan memiliki tugas untuk menyadarkan manusia pada realitas asali tersebut. Setiap tradisi keagamaan dalam berbagai budaya memiliki beragam cerita yang menjelaskan bagaimana segala sesuatu tercipta. Cerita-cerita ini mengembangkan budaya manusia dengan pemahaman akan keutuhan budaya yang lebih luas.

Seluruh tradisi spiritual menunjukkan ilmu dan siasat penyadaran manusia pada realitas yang lebih luas di luar diri manusia Semua agama bertujuan mentransformasikan pemahaman tentang bagaimana manusia memandang hidupnya serta menjalani kehidupan itu. Realitas asali tidak dipandang sebagai person, suku atau masyarakat tertentu, bangsa ataupun seluruh manusia. Alam dalam keseluruhannya adalah realitas asali dan terdalam yang darinya kita hidup dan menjalani waktu hidup kita.

Berbagai tradisi spiritual besar mendesak kita untuk menatap realitas yang lebih asali dan penuh makna di luar individu, budaya seseorang, atau bahkan alam seperti konsep utilititarian yang hanya memposisikan alam pada faktor pendukung usaha manusia. Realitas asali baik yang disebut sebagai Brahman, Tao, Dharmakaya, Trinitas tidak identik dengan benda-benda atau person, melainkan kekuatan pengada yang transenden dan meliputi segala sesuatu. Kesadaran mendalam akan realitas asali dalam berbagai agama bukanlah hipotesa atau eksplanasi, juga bukan hanya kepercayaan akan eksistensi Tuhan atau Causa Prima di luar alam, melainkan ‘pengalaman konseptual’ yang sering disebut sebagai ‘mistik’ oleh para ahli. Namun, pengetahuan akan realitas asali tidak sama dengan realitas itu sendiri. Demikian juga realitas asali bukanlah identik dengan benda tetapi tak terelakkan bersamaan dengan benda-benda (termasuk alam) sebagai kekuatan pengada yang luar biasa dan ajaib.

Agama lebih berhubungan kepada persoalan interpretasi dibanding  fakta atau hipotesa empiris. Interpretasi ini muncul dalam cerita-cerita, secara khusus mitos tentang penciptaan atau kosmogoni yang menghubungkan kehidupan dengan asal mula yang sakral atau tatanan keberadaan yang asali.

Terdapat perbedaan yang mendasar antara mitos dan sains. Keduanya memiliki titik pangkal dan tujuan yang berbeda. Mitos dan aspek spiritual kehidupan mengembangkan makna hidup yang lebih lebar, sementara sains ingin menjelaskan mekanisme operasional benda-benda. Namun, spiritualitas tanpa sains menuntun kita pada demoralisasi jiwa dan egosentrisme. Sains tanpa spiritualitas menuntun manusia pada pertentangan antara kehidupan spiritual dan kekuatan magis yang naif. Perpecahan antara sains dan religi telah membuka jurang yang lebar dan tak kunjung hilang hingga pada dunia modern kita. Selanjutnya alam dikembalikan pada sains, sementara religi hanya berkonsentrasi pada pembahasan mengenai jiwa immaterial dan Tuhan yang  berpikir sebelum dan di luar alam.

Namun, penelitian kaum feminis telah membuktikan bahwa alam manusia membutuhkan sains dan agama secara simultan ibarat kepala dan hati. Sisi sains harus sejalan dengan religiusitas. Paralelisme ini secara revolusioner berkembang dalam kosmologi dan biologi. Setelah itu mulailah suatu era penegakan keseimbangan antara keduanya, menjadi utuh kembali. Agama dan sains tidak lagi tak terdamaikan. Keduanya berkomunikasi secara mendalam dan saling mengisi.

Simbol-simbol Religius

Mitos termanifestasikan dalam wujud simbol-simbol. Simbol adalah aspek spiritual yang dibutuhkan dalam kehidupan spiritual. Yang sakral dalam berbagai tradisi selalu dan hanya dijumpai lewat simbol-simbol religi. Walaupun bersifat simbolik, sakralitas ini bukannya tidak riil. Simbol religius dapat berupa suara, kata-kata, benda, gambar, suasana hati, metafor atau person. Mitos, secara khusus mitos tentang penciptaan, tersusun oleh simbol-simbol dan secara simbolis bermakna dalam pengertian ketika individu dan budaya manusia berjumpa dan menerima pemahaman interpretatif akan kehidupan. Mitos secara simbolis adalah jendela atau narasi yang menyingkap atau menyajikan visi mendasar kehidupan sebagai keutuhan, peran, dan tujuan hidup yang penuh makna.

Mitologi Penciptaan

Secara etimologis, mitologi berasal dari kata Yunani ‘muthos’ yang berarti cerita atau sesuatu yang diceritakan. Mitos adalah cerita sakral yang membangun sebuah relasi antara manusia dengan yang sakral. Mitologi terbagi atas dua level : level transensenden atau mendalam di satu sisi dan level dunia alam dan manusia di sisi lain. Level pertama bersifat murni, abadi, stabil dan tak terubahkan, kudus, dan bermakna mendasar dan asali. Sedangkan dunia yang kita alami sehari-hari pada level kedua bersifat nyata, tak murni, sementara, berubah, dan bergantung pada Yang Sakral. Mitos, secara khusus mitos penciptaan, menyingkap kesadaran manusia akan realitas transenden di luar dunia dan sekaligus merefleksikannya. Realitas atau ‘dunia’ transenden secara harafiah tidak bertempat di suatu lokasi tertentu seperti dibandingkan dengan ‘idea’ Plato. Namun, ‘dunia’ transenden itu dipahami sebagai struktur atau hukum metafisik yang berada di bawah atau di dalam alam, dipahami bersama dengan benda-benda terbatas, tetapi bukanlah benda itu sendiri. Ia tak berbatas dan dianggap sebagai kekuatan, sumber dan dasar dari segala yang ada yang merupakan ciptaan terbatas.

Berbagai versi cerita penciptaan menghubungkan kehidupan ini dengan asal muasal yang asali dan kudus sehingga dengan cara demikian secara interpretatif memahami kehidupan, keterasingan manusia dan secara khusus kebutuhan akan penyelamatan dalam terang sang pencipta. Mitologi penciptaan mewujudkan kesadaran terus-menerus akan realitas yang transenden, asali, orisinal yang tercermin dalam alam semesta yang tampak. Cerita tentang penciptaan ini menarasikan tentang bagaimana yang asali itu tersusun.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Angkatan 2001, Bagus Wirati Purba Negara.

Tags: , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

2 tanggapan untuk “Tinjauan Kosmologi: Agama dan Realitas Asali”

  1. April 18th, 2009 at 00:34 | #1

    waaaaaaaaaahhh berat neh bahaasannya….. banyak gag mudengnya…
    tapi “ibarat kepala dan hati” membuat aku sedikit mudeng… hehehhe..

Silakan Beri Komentar