Memilihlah Dalam Pemilu Agar Tak Menyesal Kemudian

Begini, kan banyak tuh yang ikut nyontreng ga ya? nyontreng ga ya? ah males ah.. Kata MUI haram, waduh gimana nih? Oke binguuungg??????? oleh karena itu.. Saya buat ini berdasarkan uneg-uneg saya namun tetap rasional dan bisa dibuat sebagai pertimbangan.

Alasan mengapa harus memilih selalu dipertanyakan. Oke sebelumnya saya jelaskan dulu argumen dari sisi kenegaraan. Diadakan Pemilihan Umum sebenarnya untuk apa? Oh jelas pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat dalam mewakili suatu negara. Satu bangsa yang memiliki asas demokrasi harus ada konsensus untuk mengesahkan siapa pemimpinnya. Konsensus inilah yang mewakili suara rakyat, apa mau rakyat, meski pun pada jalannya pemerintahan mungkin semua janji tidak dapat dipenuhi. Tetapi ini merupakan syarat bagi negara demokrasi kita ini, Indonesia. Hal ini akan lebih jelas lagi jika dijelaskan oleh ahli filsafat politik.

Sedangkan dari sisi Etika ini adalah cakupan dari kebebasan, hak, kewajiban, dan tanggung jawab. Loh mengapa? Coba baca ilustrasi saya dengan seksama:

Ada tiga orang calon pemimpin dalam suatu kelompok, namakan saja kelompok MajuTerus. Diadakanlah pemilihan untuk memilih siapa yang paling pantas menjadi ketua. Di dalam kelompok MajuTerus ada sepuluh anggota, berarti ada 13 anggota termasuk tiga orang calon tadi. Oke berlangsunglah pemilihan. Ternyata calon pemimpin A mendapat 6 suara, B dapat 2 suara, dan C dapat 3 suara. Maka calon pemimpin dengan suara terbanyaklah yang dipilih menjadi ketua yaitu pemimpin A. Berarti di sini ada 2 orang yang tidak memilih. Usut punya usut yang tidak memilih tadi sudah ketahuan, namun tidak dipublikasikan.

Satu saat ada peraturan baru yang dibuat oleh sang pemimpin. “Datang telat dipukuli sampai mati” itulah peraturannya. Kecuali 2 orang yang tidak memilih tadi, semua anggota setuju. Lantas, 2 orang ini protes bahwa mereka tidak setuju! Dengan enak si pemimpin dapat menjawab “Apakah pada waktu pemilihan ketua, kalian ikut memilih?”, mereka jawab “tidak”, dibalas si pemimpin “Lantas mengapa kalian protes terhadap kebijakan saya? Kalian kan tidak punya hak untuk protes karena kalian tidak memilih, kalian itu sama saja orang ga jelas ga punya sikap. Toh kalian terima jadi saja, jadi kalian harus terima jadi pula dengan kebijakan ini, itu pun jika kalian masih ingin jadi anggota. Oh ya tentu saja kalian masih punya hak protes, tapi bukan dalam kelompok ini.” Dengan jawaban ini mereka berdua pun termenung.

Apa yang bisa diambil dari ilustrasi di atas? Perhatikan baik-baik, ilustrasi di atas menunjukkan bahwa Kewajiban mengimplikasikan Hak. “Saya bayar pajak, maka saya punya hak untuk menggunakan jalan raya,membayar pajak adalah kewajiban dan hak saya adalah menggunakan jalan raya (fasilitas umum). Bagaimana bisa saya pintar jika tidak belajar? Bagaimana bisa saya menuntut seorang Presiden, jika saya tidak bersuara? Bagaimana bisa suara saya didengar ketika saya tidak berbicara? Oleh karenanya memilih dalam konteks kenegaraan adalah baik, karena jika tidak memilih kita secara otomatis menghilangkan Hak kita. Padahal untuk memperoleh Hak tidaklah mudah, silakan bandingkan dengan keadaan dahulu di afrika ketika diskriminasi Ras masih kental.

Dengan ini, kewajiban sebenarnya merupakan kebaikan dan dengan tidak memilih itu merupakan kebalikan dari kewajiban. Yaitu membuang Hak kita jauh-jauh dan menyianyiakan sesuatu itu = penyesalan dan keburukan. Tanya kepada diri mengapa kita membuang kebaikan jauh-jauh?

Ringkasnya: Kita bebas memilih, maka kita wajib untuk memanfaatkannya, jika sudah dimanfaatkan maka kita memperoleh hak atas itu, dan kita bertanggung jawab atas pilihan kita.

Pertanyaan:

Saya tidak memilih karena tidak ada partai yang memiliki visi misi yang baik dan cocok! apakah saya harus memilih?

Jawaban:

Visi misi partai tidak ada yang buruk, coba anda lihat dan bandingkan dengan pendapat anda, apakah visi misi partai ada yang tidak baik? Dan apakah sebenarnya anda merasa tidak cocok karena sudah berprasangka buruk terlebih dahulu terhadap partai politik atau memang benar-benar anda merasa tidak cocok? Lagi pula bagaimana bisa anda tidak cocok dengan visi misi partai yang menyimpan kebaikan? Apa mungkin anda tidak cocok dengan kebaikan? Oleh karena itu sebagai warga negara Indonesia yang baik dan sudah memiliki pemikiran dewasa dan peduli negara, wajib hukumnya untuk mempelajari visi misi partai terlebih dahulu barulah memilih. Janganlah berprasangka buruk. Ingat, visi misi partai adalah baik, ada pun yang tidak baik itu adalah orangnya. Yah, Pemilihan Umum mungkin bisa dianalogikan sebagai Pe-Er dari ibu guru yang harus dikerjakan, setelah mengerjakan kita sudah lega, jika Pe-Er itu diperiksa dan hasilnya banyak yang salah, kita adalah siswa yang lebih baik dari pada yang tidak mengerjakan Pe-Er karena malas.

Ada ungkapan, tidak memilih adalah sebuah pilihan. Ini memang benar. Silakan aplikasikan dalam Peperangan. Kelompok A berperang dengan Kelompok B. Salah satunya hidup atau mati. Anda tidak berada di pihak mana pun, Anda pun tidak punya dukungan, maka Kelompok A mau pun Kelompok B bisa membunuh anda secara mudah dan cuma-cuma karena anda tidak punya teman seperjuangan. Atau nantinya anda bisa diambil sebagai budak jika masih hidup.

========================================================

Anda tidak bisa memilih karena ada halangan? Tidak apa-apa, yang penting dalam hati anda sudah memiliki keinginan keras untuk memilih. Kebebasan fisik masih bisa dihalangi oleh waktu dan tempat, tapi kebebasan untuk berkeinginan tidak ada yang bisa menghalangi. Itulah anda, manusia yang punya hati dan akal. Satu lagi yang harus diingat, keinginan saja tidak cukup oleh karena itu harus berusaha untuk mewujudkan keinginan kita. Yaitu keinginan untuk memilih.

========================================================

Tulisan ini merupakan teguran keras? Tidak, saya tidak bermaksud demikian. Saya hanya mengeluarkan seluruh kalimat dari otak saya. 😉 Setuju atau tidak setuju itu belakangan, yang penting kewajiban anda adalah memahami tulisan saya ini, barulah anda punya hak untuk mengomentarinya. 🙂

Tags: , , , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

14 tanggapan untuk “Memilihlah Dalam Pemilu Agar Tak Menyesal Kemudian”

  1. April 11th, 2009 at 01:37 | #1

    Setuju, tidak memilih memang adalah sebuah pilihan.

  2. April 11th, 2009 at 03:08 | #2

    hak dan kewajiban selalu jalan beriringan

    jika tidak mengambil hak berarti tidak ada kewajiban gitu ya?

    shout tidak dipasang karena males banyak yg nembak, banyak yg ga jujur
    kalo dipasang terus kucuekin, kasihan ma yg jujur

  3. April 11th, 2009 at 03:26 | #3

    @ajeng: memang tidak memilih adalah sebuah pilihan, tetapi lihat implikasinya.
    @bang attan: iya bang gitu. kalo misalnya bang atta kerja, berarti bang atta wajib untuk melakukan tugas2 yang ada, dengan melaksanakan kewajiban tersebut maka bang atta berhak menerima gaji. Kalau bang atta ga kerja, ya ga bisa nuntut gaji sembarangan. Malah bisa jadi dianggep sebagai tukang palak nantinya.. 🙂

    banyak ya bang yang nembak……. huhuhuhuh.. parah ne… niat amat yang nembak…

  4. April 11th, 2009 at 04:58 | #4

    saya sudah menjadi warga negara yang baik karena sudah memilih pilihan yang tepat, menang pula! 😀

  5. April 11th, 2009 at 05:45 | #5

    Wah saya malah nggak ikut nyontreng kemarin… Maklum anak rantau…

  6. April 11th, 2009 at 08:51 | #6

    yacccch ada juga yang ga nyontreng tuh
    banyak seh dengan berbagai alasan
    ga masuk dpt
    ga sempet
    lagi tugas
    lagi beol
    lagi jalan2 ke bali
    lagi jalan2 ke ancol
    hehehehehe

  7. April 11th, 2009 at 09:14 | #7

    kan sudah disebutkan di atas.. kalo ada halangan seperti keterbatasan waktu dan ruang, bisa diberi toleransi 🙂
    @neng: selamat yaaa hhehehheehe!
    @bujang: gapapa kok kalau tidak bisa karena alasan tersebut. terbatas ruang gerak 😉

    kalo lagi beol mules rasanya ga bisa gerak juga gapapa kok,, karena terbatas pada situasi yang tidak memungkinkan untuk menyontreng 🙂 🙂 masa iya bang.. lagi beol TPS di bawa ke WC ciakakkakaka 😉

  8. April 11th, 2009 at 10:24 | #8

    dampak terburuk dari tidak memilihnya seorang warga spt apa kang ???
    soalnya kebetulan saya di hari H cuma tergeletak tepar gk jls gtu 🙁

  9. April 11th, 2009 at 11:06 | #9

    yupp…setuju.. yang ga milih, jangan protes ya besok2 kalo pemerintah begini, pemerintah begitu… bukan begitu is?

  10. April 13th, 2009 at 09:01 | #10

    sayang, pemilu kali ini banyak yang ‘dipaksa’ golput…

  11. ariel
    November 26th, 2010 at 09:45 | #11

    percuma jika sang pemilih tidak punya keahlian untuk memilih?
    akhirnya yang dipilih adalah orang-orang yang seharusnya tidak layak untuk di pilih.

  12. Adi
    May 15th, 2013 at 22:30 | #12

    lebih baik negara dipimpin oleh seirang pemimpin yg bodoh daripada tidak ada pemimpin meski dalam satu malam” agaknya kata2 bijak tsb memang suatu kebenaran. namun dalam memilih seorang pemimpin dalam “demokrasi” saat ini pun harus lebih selektif. cermin politik Indonesia tengah menuju materialism dengan segala ukuran yg dinyatakan dalam tinta hitam. memilih pemimpin yg SALAH maka ini pun akan menimbulkan konsekwensi yg sama buruknya (karena kita turut berkontribusi merusak bangsa), sehingga jangan salahkan mereka kaum2 “GOLPUT” yg tidak memilih karena kejengahan meraka terhadap praktek perpolitikan bangsa yg jauh dr nilai2 etika dan tidak mampu mensejahterakan rakyat sbg tujuan suatu negara. anda yidak bisa menghakimi “GOLPUT” tidak punya ‘Hak’ dalam berbangsa dan bernegara. tapi hargailah meraka sebagai sebuiah kelompok yg mendambakan introspeksoi diri dr partai dan instrumennya demi mewujudkan tatanan demokrasi yg luhur dan politik yg ber-etika, dan berkepribadian bangsa Indonesia.

Silakan Beri Komentar