Filsafat Aristoteles

Aristoteles

Filsuf yang menjadi murid Plato selama 20 tahun ini dilahirkan di Stagira, suatu tempat di daerah Thracia, pada tahun 384 SM. Ia memiliki ayah yang berprofesi sebagai seorang dokter bernama Nicomachus dan ibunya bernama Phaestis (Inet, 1a). Aristoteles pernah dipanggil oleh Philippus II seorang raja Macedonia, untuk mendidik anaknya yaitu Iskandar atau yang biasa di negara barat disebut Alexander The Great. Pada tahun 323 SM, Iskandar wafat dan timbullah kerusuhan. Kejadian ini pun membuat Aristoteles tunggang langgang melarikan diri ke Khalkes, lalu setahun kemudian Aristoteles meninggal dunia (Delfgauuw, 29:1992).

Filsafat Aristoteles meliputi logika, metafisika dan fisika, teologi, tentang jiwa dan raga, dan pengenalan pengetahuan. Ini disimpulkan dari berbagai tulisannya selama hidup. Ada pun yang berupa kutipan perkataannya dan ditulis kembali oleh para muridnya.

Logika

Pembicaraan tentang logika biasanya bisa terkait dengan pertanyaan “logiskah orang bisa bernapas di luar angkasa?” Atau juga terkait dengan pernyataan ilmiah yang sifatnya kualitatif “dua dikalikan tiga sama dengan enam.” Ini merupakan pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan logika. Namun, logika yang disistematisasikan Aristoteles bukanlah logika semacam itu sehingga Aristoteles melainkan logika deduktif.

Menurut Aristoteles, setiap pengertian pasti berkaitan dengan suatu hal atau benda. Dengan pengertian ini orang bisa tahu bahwa orang mempersepsi kenyataan, ini berarti orang sudah mendapatkan gambaran tentang kenyataan (Hadiwijono, 46:2005). Gambaran ini bukan berarti mewakili seluruh kenyataan, gambaran ini hanyalah sepotong kenyataan. Untuk itu perlu diadakan penghubungan antara kenyataan satu dengan kenyataan yang lain sehingga mencapai keumuman tentang sesuatu yang mencakup segala kenyataan. Hal ini pun diperoleh dengan logika yang diperkenalkan oleh Aristoteles

Logika yang mampu memperoleh keumuman yang mencakup segala kenyataan ini dapat diberi contoh sebagai berikut: Toni punya kura-kura warna merah, Andi punya kura-kura warna hijau, dan Tina punya kura-kura warna kuning (masing-masing berupa substansi). Bagaimana pun warnanya, mereka memiliki kesamaan yaitu memiliki “kura-kura” (merupakan jenis). Lalu Septi punya kucing. Persamaan kura-kura dengan kucing adalah bahwa keduanya merupakan “binatang” (merupakan keluarga/genus). Hasilnya merupakan keumuman yaitu “binatang,” kura-kura merah, hijau dan kucing merupakan binatang. Sebenarnya binatang masih bisa diumumkan lagi menjadi anggota dari keumuman “makhluk yang bernapas,” atau “makhluk yang hidup.”

Logika seperti ini juga akan mengantarkan kepada suatu kesimpulan, yang merupakan hasil dari beberapa pertimbangan yang dijadikan satu. Misalnya: Binatang menyusui adalah mamalia, kucing dan kerbau menyusui anak-anaknya, berarti kucing dan kerbau adalah mamalia. Cara menyimpulkan seperti ini disebut Silogisme. Inti pokok dari logika Aristoteles ini adalah memberikan cara menalar dan membuktikan, ada dua pernyataan, lalu disimpulkan menjadi pernyataan ketiga (Delfgaauw, 31:1992). Hal ini sudah dijelaskan dengan contoh binatan menyusui di atas.

Metafisika dan Fisika

Konsepsi metafisika yang dibangun oleh Aristoteles tidak terjadi begitu saja, melainkan ada pemicunya. Pertama-tama, sudah dikenal bahwa Herakleitos berpendapat bahwa kenyataan ini adanya terus bergerak, dinamis, dan menjadi. Sedangkan Parmenides seperti yang kita ketahui menjadi lawan Herakleitos dalam berfilsafat tentang kenyataan, mengungkap bahwa kenyataan itu bersifat tetap adanya. Zeno pun mendukung Parmenides dengan memberikan beberapa contoh tentang itu, yaitu tentang pelari Yunani yang takkan bisa mengejar seekor kura-kura, dan busur panah yang ditembakkan hanya seolah-olah bergerak padahal sebenarnya hanya diam.

Persoalan ini dicoba untuk dipecahkan oleh Plato. Ia mengungkapkan bahwa memang ada yang berubah dan dikenal oleh pengamatan, di lain pihak ada juga yang tidak berubah yaitu ide dan dikenal sebagai akal (Hadiwijono, 48:2005). Dengan ini “yang ada” terbagi atas dua yaitu bentuk yang dapat diamati (yang tampak) sebagai sesuatu yang berubah dan bentuk yang tidak dapat diamati (yang tidak tampak) sebagai sesuatu yang tetap, tidak berubah.

Pemecahan Plato di atas tidak disetujui oleh Aristoteles karena berbagai alasan. Menurut Aristoteles “ada” hanya terdapat pada benda kongkrit. Benda konkrit itu merupakan benda yang nampak dan memiliki bentuk seperti pintu, batu, pohon, tanah dan sebagainya. Pengertian adanya sesuatu dalam ide seperti yang dikemukakan Plato bukanlah sebagai sesuatu yang kongkrit ada. Itu hanyalah pengertian saja.

Konsep Aristoteles yang disebut dunamis yang artinya potensi dan energeia yang artinya aksi merupakan inti sari ajaran Aristoteles tentang fisika dan metafisika (.ibid). Konsep ini pun sekaligus menentang pendapat Parmenides dan Zeno. Dunamis di sini potensi, maksud Aristoteles berkaitan dengan ke-ada-an adalah bahwa sesuatu “yang tidak ada” hanya dapat menjadi “yang ada” secara konkrit.

Cara menjadi “yang ada” dari “yang tidak ada” melalui potensi “yang ada” dengan kata lain “yang ada” merupakan suatu potensi atau bakat untuk menghasilkan yang tadinya tidak ada menjadi sesuatu yang ada bentuknya. Memang benar “yang tidak ada” merupakan nihil atau nol. Tetapi dari “yang ada” bisa mewujudkan sesuatu “yang tidak ada” menjadi ada, berwujud, dan berbentuk. Inilah yang dinamakan potensi. Oleh karena itu harus dibedakan antara “yang ada” dan “yang tidak ada” tetapi, keduanya tidak bisa dipisahkan karena “yang ada” merupakan potensi dalam mewujudkan sesuatu “yang tidak ada”.

Beranjak dari konsepsi di atas maka Aristoteles memiliki konsep tentang materi dan bentuk yang sesuai pula dengan caranya dalam mengkonsepsikan “yang ada” dan “yang tidak ada”. Materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan, tetapi memiliki potensi untuk mewujud atau dibuat wujud, yang nantinya akan ditentukan oleh bentuk (Hadiwijono, 50:2005). Misalnya dalam kehidupan sehari-hari orang mengenal kayu bisa sebagai, kayu bakar, kayu sebagai hiasan, mebel, dan sebagainya. Sepotong kayu yaitu memiliki materi yaitu kayu dan memiliki bentuk misalnya silinder, kotak, panjang dan sebagainya. Oleh karena itu maka antara materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan.

Teologi

Aristoteles mempercayai tentang adanya Tuhan, meski pun tidak disebutkan secara eksplisit bahwa ada Tuhan yang memerintah dan memberi wahyu. Tuhan menurut Aristoteles lebih kepada suatu yang Agung sebagai menggerakan segala sesuatu. Aristoteles percaya bahwa segala sesuatu memiliki suatu tujuan. Sehingga sampailah pada kesimpulan bahwa dunia ini bertujuan. Tujuan gerak yang ada di alam semesta merupakan gerak yang bertujuan bukan untuk mencapai kesempurnaan, melainkan untuk menuju sampai sang penggerak yaitu Aktus murni yang zaman sekarang biasa disebut sebagai Tuhan atau Allah.

Jiwa dan Raga

Filsafat Aristoteles begitu konsisten mulai dari logikanya sampai tentang metafisika dan fisika. Bahkan dalam menelaah tentang jiwa dan raga juga menggunakan konsep yang sama yaitu tentang. Materi, bentuk, potensi, dan aktus. Pembicaraan tentang jiwa merupakan pembicaraan yang sebenarnya abstrak tetapi dengan konsep bentuk Aristoteles orang bisa memahami bahwa jiwa dapat diandaikan sebagai suatu bentuk.

Aristoteles memiliki pendapat bahwa tubuh merupakan materi dan jiwa merupakan bentuknya. jika tubuh adalah potensi maka jiwa adalah aktusnya. Jiwa adalah aktus utama yang paling asasi, yang menyebabkan tubuh menjadi tubuh yang hidup, jiwa juga merupakan asas hidup dalam arti yang seluas-luasnya, yang menjadi asas segala arah hidup yang menggerakkan tubuh, yang memimpin segala perbuatan menuju kepada tujuannya.

Pengenalan Pengetahuan

Dalam mengenal sesuatu Aristoteles seperti Plato yaitu menguraikan tentang pengenalan inderawi dan pengenalan rasional. Aristoteles berpendapat bahwa pengenalan inderawi merupakan pengenalan awal dalam mengenal sesuatu. Sesuatu yang dimaksud adalah berupa pengenalan bentuk. Misalnya, orang bisa membedakan mana bunga dan mana batu. Dengan inderawi saja orang bisa tahu tentang hal itu. Tetapi sebagai awal mula pengenalan yang lebih ilmiah, pengenalan rasional adalah pijakannya.

Pengenalan rasional menjadi pijakan ilmiah dikarenakan, rasio dapat mengabstraksikan sesuatu. Bisa membedakan mana bunga yang cocok untuk diletakkan di taman, dan mana yang cocok di dalam ruangan. Dengan kata lain pengenalan rasional ini merupakan proses berpikir, sesuatu yang tidak akan dapat dicapai dengan cara pengenalan inderawi. Orang selalu tahu bahwa ada kertas, pulpen, kunci dan sebagainya. Tetapi tanpa pengenalan secara rasio orang akan kehilangan arahnya, misalnya ada tiga kunci dan satu pengunci (gembok) sudah pasti dengan pengenalan rasional orang akan mencocokkan mana yang kira-kira sesuai dengan gembok tersebut dan bisa lebih jauh berpikir dengan mencoba kuncinya satu persatu. Pengenalan inderawi di sini hanya sampai melihat bahwa ada tiga kunci yang berbeda dan satu gembok. Oleh karena itu pengenalan inderawi terbatas pada pengenalan bentuk saja.

Daftar Pustaka

Delfgaauw, Bernard. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Penerjemah: Soejono Soemargono. PT Tiara Wacana Yogya: Yogyakarta. 1992.

Hadiwijono, Dr. Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat I. Penerbit Kanisius: Yogyakarta. 2005.

Internet

Inet, 1a. http://www.buzzle.com/editorials/4-13-2005-68474.asp, Aristotle: Philosopher and Philosophies. Diakses: 23 Maret 2009

Tags: , , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

14 tanggapan untuk “Filsafat Aristoteles”

  1. March 31st, 2009 at 10:31 | #1

    Aristoteles tuh emang hebat

  2. aprillins
    March 31st, 2009 at 14:56 | #2

    emang filsafatnya membuka wawasan kok.. tapi ada baiknya membaca tentang Socrates dan Plato.. karena ketiganya saling berhubungan secara langsung mau pun tidak langsung..

  3. April 13th, 2009 at 08:56 | #3

    artikelnya menarik, manambah referensi saya tentang sang filsuf. Triumvirat Socrates, Plato dan Aristoteles memang memberikan dampak yang hebat di dunia pengetahuan dan filsafat…

    silahkan berkunjung ke http://catatan-guru.blogspot.com

  4. munjir
    May 11th, 2009 at 02:33 | #4

    Tks ya…. sangat mewmbantu saya dlm menyelesaikan tugas

  5. kiki
    May 17th, 2009 at 13:28 | #5

    gak bisa d copy bos…

  6. ghie
    January 25th, 2010 at 03:50 | #6

    para filusuf jaman dulu emang keren-keren……

  7. sud iutama tumangger.
    June 10th, 2010 at 15:56 | #7

    Salam brow….
    Dunia logika menyusun kata-kata lalu masuk ke kamar realitas, dunia filsafat meraba realitas lalu memilah-milah dunia sufi menikmati realitas,,,,Ommmmm
    makasih brow, tulisannya bagus..

  8. ipa
    May 19th, 2011 at 11:14 | #8

    kalau kita buat makalah filsafat dlm 1 makalh dr 1 pndapt filsft.apa ada filsafat itu dlam aristoteles!!

  9. hesron elul mangesa
    June 8th, 2011 at 08:31 | #9

    memang ilmu filsafat itu keren………………………

  10. kurniyanti
    December 6th, 2011 at 07:45 | #10

    filsafat memang membingungkan.

  11. November 17th, 2012 at 21:44 | #11

    apabila islam ingin diruntuhkan dengan pemikiran filsafat, maka aku akan mengokohkannya dengan pemikiran filsafat pula,,,,,,

  12. LANNY.LES
    May 26th, 2013 at 08:15 | #12

    belajar filsafat thu bngung banget tapi asiiikk jga sichh, and aristoteles hhhmmmm habat bngt…:)

  13. warnee
    February 4th, 2015 at 08:05 | #13

    Sya, mahasiswi institut pengajian islam dan dakwah sabah

    Sya aedang menyiapkan tugasan mengenai tokoh aristotle. Dan artikel ne Serbs sdikit membantu

    Harap kita boleh berkongsi ilmu d lain masa

    Terima kasih

Silakan Beri Komentar