Filsafat Nilai Sebuah Pengenalan

DEFINISI AKSIOLOGI

Istilah Aksiologi berasal dari bahasa Yunani, terdiri atas kata axia yang artinya nilai dan logia yang artinya ilmu. Jika diartikan, aksiologi merupakan studi tentang nilai atau filsafat nilai. Karena di dalamnya membongkar sesuatu tentang nilai. Meski pun filsafat nilai sudah dibicarakan sejak zaman Yunani Kuno, istilah aksiologi itu sendiri merupakan istilah baru yang diperkenalkan oleh Paul Lapie and E. Von Hartmann pada abad ke-20.

Aksiologi secara mendalam membedakan antara ada (being [keberadaan]) dengan nilai (value). Hal ini dibedakan karena nilai tidak akan ada tanpa ada yang mengemban. Kalau dirumuskan Ada = Sesuatu + Nilai. Oleh karena itu sifat Nilai selalu tergantung pada pengembannya yaitu Sesuatu. Hal ini berarti nilai bersifat parasitis.

HAKIKAT NILAI (LETAK NILAI DAN PENGEMBAN NILAI)

Lalu apa hakikat nilai? Pertanyaan ini belum bisa dijawab sebelum istilah hakikat itu sendiri belum dipahami. Tidak akan dijelaskan secara panjang lebar tentang apa itu hakikat, tetapi secara singkat. Hakikat adalah unsur yang harus/wajib ada untuk adanya Sesuatu. Sulit dipahami jika tidak diberi contoh. Misalnya, apa yang membuat kita tahu bahwa benda itu adalah buku tulis? Yang paling utama adalah adanya kertas, yang kedua yaitu kertas yang terjilid dengan rapi. Nah kertas itu yang merupakan unsur utama dari sebuah buku.

Jika diaplikasikan terhadap nilai. Apa itu hakikat nilai? Berarti unsur yang harus ada sebagai syarat adanya nilai. Dari sini dapat diketahui bahwa ada unsur yang membuat nilai itu ada. Contoh, gitar itu jelek! Apakah kita tau nilai dari gitar itu? Sudah pasti, karena sudah disebutkan, yaitu jelek. Di situlah letak nilai. Nilai di sini memiliki arti netral, nilai tidak memihak, tapi mengidentifikasikan ini loh nilainya. Gitar itu bagus, jelek, atau sedang-sedang saja tetap memiliki nilai. Oleh karena itu diadakan pembedaan, antara letak kedudukan nilai dan pengemban nilai.

Gitar jelek. Di mana nilainya? Jelas “jelek” nilainya. Di mana pengembannya? Jelas “gitar” pengembannya. Dari sini dapat diketahui bahwa nilai selalu bersifat abstrak: jelek, indah, samar, penyayang, tidak dapat disentuh, hanya dapat diketahui di sinilah letak kedudukan nilai. Sedangkan pengemban nilai tidak selalu bersifat material tetapi juga immaterial dan selalu sifatnya objektif. Contohnya yang material: gitar, batu, cicak, motor, sampah; dan yang immaterial: Tuhan, panorama, malaikat, langit, angin.

NILAI DAN PENILAIAN

Nilai juga bersifat tetap. Jelek, indah, penyayang itu tidak berubah. Yang berubah adalah penilaian oleh manusia. Oleh karena itu tidak tepat dikatakan bahwa ada pergeseran nilai karena nilai tidak pernah bergeser. Yang bergeser adalah persepsi atau penilaian manusia. Vincent Van Gogh adalah seorang pelukis yang dilahirkan di Zundert, sebuah kota di Belanda selatan pada tanggal 30 Maret 1853. Ia mati bunuh diri pada tanggal 28 Juli 1890. Kemiskinan dan karya seninya yang tidak diapresiasi merupakan penyebab kematiannya. Pada saat itu lukisan Van Gogh tidak memiliki arti apa pun di masyarakat, tetapi seratus tahun kemudian karyanya diagungkan.

Ini hanya sebuah contoh bahwa lukisan Van Gogh memiliki nilai, apa pun nilai itu, tidak pernah berubah. Ini menjadikan alasan bahwa penilaian manusialah yang berubah, pada masa lalu lukisan Van Gogh bukan apa-apa, tapi sekarang lukisannya menjadi Masterpiece di mata masyarakat dunia, khususnya Belanda dan Perancis. Oleh karena itu apa pun kapan pun penilaian dilakukan oleh manusia, tetap saja nilai sudah ada terlebih dahulu

Wilayah filsafat nilai terletak pada akal yang bisa membedakan (benar-salah), karsa (baik-buruk), dan rasa (indah-jelek).

HIERARKI KUALITAS NILAI

Frondizi memberikan pemilahan terhadap kualitas sesuatu, yaitu:

  1. Kualitas primer: Suatu hal utama yang membuat kenyataan sesuatu dan sifatnya harus (misalnya: bentuk, wujud, panjang, berat, tinggi [bisa diindera/material], akal [tidak bisa diindera/immaterial])
  2. Kualitas sekunder: Sesuatu yang menyertai kenyataan sesuatu (misalnya: warna, rasa, dan bau)
  3. Kualitas tersier: Sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh indera (misalnya: kharisma, rasa takut, bingung, keanggunan)

Ketiga kualitas ini bersatu menjadi sesuatu yang disebut sebagai Kualitas Gestalt. Dengan penyatuan tiga kualitas tadi, sesuatu bisa dibedakan, misalnya: mana orang yang baik hati, mana gitar yang suaranya merdu, mana kasur yang enak ditiduri, dan sebagainya. Kualitas Gestalt inilah yang menjadi ciri khas setiap objek. Contoh yang lebih konkrit lagi. Apa yang merupakan Kualitas Gestalt dari manusia? Pertama-tama harus dipilah dulu kualitasnya

  • Kualitas primer: manusia memiliki akal, karsa, dan rasa
  • Kualitas sekunder: manusia memiliki bentuk, dan warna sehingga bisa diindera
  • Kualitas tersier: manusia memiliki kejujuran, loyalitas, dedikasi, keberanian, dan sebagainya

ALIRAN EKSTRIM FILSAFAT NILAI (OBJEKTIVISME DAN SUBJEKTIVISME)

Objektivisme: merupakan suatu paham yang beranggapan bahwa keberadaan nilai mendahului penilaian oleh karenanya validitas nilai tidak tergantung pada subjek yang menilai.

Dengan pengertian di atas, lalu bagaimana spesifikasi nilai menurut objektivisme?

  1. Nilai bersifat tetap, mutlak, dan tak terubahkan
  2. Nilai bukanlah penilaian, melainkan punya posisi sendiri secara objektif

Ada pun masalah yang dihadapi oleh objektivisme. Pertama, mengalami kesulitan ketika orang harus memilih satu dari dua atau lebih dari dua hal yang objektif contohnya: Anda punya satu penawar racun. Anda dan teman anda keracunan, anda akan bingung karena anda memiliki prinsip harus menolong dan bertahan hidup. Anda harus mengorbankan salah satunya, objektivisme tidak mengijinkan hal ini. Oleh sebab itu dalam hal yang darurat objektivisme mengalami kelemahan. Kedua, dengan nilai memiliki posisinya sendiri maka nilai dilepaskan dari pengembannya, padahal identifikasi membutuhkan pengemban. Ketiga, menghilangkan relasi subjek-objek jadi seolah-olah subjek tidak berguna di sini, pertanyaan “bagaimana saya bisa membedakan budi dan ani apabila tidak ada relasi antara subjek-objek?” dapat mewakili dari kelemahan yang ketiga ini.

Subjektivisme: merupakan suatu paham yang beranggapan bahwa keberadaan nilai tergantung pada kesadaran yang menilai oleh karenanya nilai sama dengan penilaian. Sesuatu itu bernilai karena ada subjek yang menilai.

Dengan pengertian di atas, lalu bagaimana spesifikasi nilai menurut subjektivisme?

  1. Nilai bersifat relatif
  2. Bersifat relatif dikarenakan nilai adalah penilaian, penilaian itu dilakukan oleh setiap orang dan setiap orang memiliki penilaian yang berbeda

Masalah yang dihadapi subjektivisme juga tidak kalah menarinya dengan masalah objektivisme. Pertama, dikarenakan nilai bersifat relatif maka tidak ada pedoman universal yang harus dijunjung, tidak ada peraturan toh semuanya relatif, oleh karena hal ini maka subjektivisme bisa mengacaukan segala sesuatu. Kedua, subjektivisme bersikap netral terhadap pertanyaan seperti ini “apakah saya harus menolong orang lain?” dan “apakah saya harus menghormati orang tua?” Menurut subjektivisme, bisa dijawab “iya” mau pun “tidak” karena berdasar atas penilaian subjek saja. Misalnya subjek adalah seorang yang sudah mapan, dia bisa saja berkata “mengapa saya harus menghormati orang tua? Padahal saya yang membiayai mereka saat ini!”

Thanks To Bu Jirzanah selaku dosen Filsafat Nilai/Aksiologi di Fakultas Filsafat UGM.

Note: Tulisan ini dibuat atas dasar rangkuman dan catatan pada mata kuliah Filsafat Nilai

Tags: , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

3 tanggapan untuk “Filsafat Nilai Sebuah Pengenalan”

  1. isar
    March 14th, 2011 at 11:07 | #1

    tolong buat juga donx tentang pendidikan secara aksiologi,etimologi,epistomologi dan otologi

  2. aang
    October 24th, 2011 at 21:25 | #2

    td d katakan nilai itu tetap. Yg berubah itu bukan nilai melainkan penilaian/persepsi. Aku contohkan: awalnya gitar itu bagus maka nilainya adalah bagus. Kemudian hari gitar itu terjatuh dan menjadi jelek maka nilai gitar berubah menjadi jelek. Berarti nilai itu sendiri berubah alias tudak tetap????

  3. aco abudzar
    January 3rd, 2012 at 17:46 | #3

    Adakah usaha filosof kontemporer mas, yang berhasil keluar dari dikotomi subyektif-obyektif, mutlak-relatif…….??? menurutq nilai merupakan persoalan praktis, sehingga benar-salah tidak masuk lingkup kajian nilai. jadi hanya isu-isu estetika, moral dan hukum saja yg menjadi obyek garapannya. walaupun statemen nilai bisa deklaratif ato imperatif tapi tolong diberi petunjuk yang mana fundamental di antara kedua statemen itu. slm.

Silakan Beri Komentar