Filsafat Anti Hak Terhadap Binatang

binatangAnti hak terhadap binatang artinya enggan untuk mengakui bahwa binatang itu punya hak. Mulai hak hidup, hak protes, hak untuk disayangi, dan hak berkembangbiak tidak dianggap sebagai hak. Perkembangbiakan hewan untuk makanan manusia atau hewan lainnya bukan dikarenakan mereka punya hak tersebut melainkan karena demi kepentingan manusia sendiri. Dibunuh, dicincang, digoreng, dimakan, dijadikan bahan penelitian, dan disiksa itu hal yang biasa. Dalam tulisan ini saya tidak menganggap bahwa manusia sebagai binatang karena binatang yang saya maksud adalah term binatang secara konvensional yang tidak memasukkan term manusia didalamnya. Jadi tidak ada pertanyaan, manusia binatang atau bukan.

Argumen yang dikeluarkan oleh orang yang anti hak binatang adalah sebagai berikut:

  • Binatang tidak pernah meminta tolong bantuan
  • Binatang tidak pernah berterima kasih
  • Ada kasus ketika menolong seekor anjing, si penolong malah digigit tangannya sampai robek. Dengan ini binatang tidak mengerti apa itu kebaikan
  • Binatang tidak memiliki perasaan, ia hanya punya insting
  • Ketika di hutan, binatang tidak akan pernah menolong orang yang tersesat bahkan mungkin orang yang tersesat tersebut malah dimakan harimau, atau dipatok ular berbisa
  • Tidak ada alasan untuk mengasihani binatang karena binatang tidak pernah mengasihani manusia
  • Kalau binatang punya hak, kenapa orang yang menggembar-gemborkan hak binatang masih makan binatang?
  • Apa gunanya binatang selain untuk dipelihara, dan dimakan? Keindahan alam, keseimbangan ekosistem? Bullshit itu semua demi manusia juga.. Human oriented
  • Anti hak binatang bukan berarti membencinya tetapi hanya mencanangkan bahwa binatang itu tidak punya hak apa pun jadi bisa dipergunakan untuk apa pun

Kira-kira argumen dan pernyataan seperti itulah yang akan dikeluarkan ketika Anda berdebat dengan seseorang yang tidak mengakui hak binatang. Jika mereka diberikan pernyataan semacam “binatang itu harus dihormati, binatang itu adalah sumber makanan manusia yang harus dijaga eksistensinya, kalau tidak ada binatang nanti manusia makan apa? Makanan itu harus disayang jangan dibunuh atau dibuang sembarangan.” Orang yang anti hak binatang akan menjawab “memang betul binatang itu makanan manusia, orientasinya adalah demi manusia itu sendiri. Di sini binatang tidak dipertanyakan haknya. Jika Anda mengatakan bahwa itu adalah hak binatang Anda bisa dikatakan sebagai orang munafik.”

Anda melihat burung merak yang indah, Anda senang, karena Anda senang maka harus dijaga kelestariannya. Dengan dijaga kelestariannya maka akan menjadi nilai tersendiri bagi burung merak untuk menjadi dikomersilkan dan menjadi objek wisata dari nasional sampai mancanegara. Tidak dipertanyakan tuh hak mereka untuk hidup. Jadi untuk apa berpura-pura mengakui bahwa ada hak binatang?

binatangJawaban dari orang yang anti hak binatang memang kedengaran sadis dan sinis tetapi argumennya memang logis dan itu merupakan sebuah fakta bahwa orang sangat menikmati keindahan binatang tanpa mempertanyakan hak binatang itu sendiri. Misalnya gajah sirkus, kita senang melihatnya, bagi kita itu adalah hiburan. Apa banyak orang yang berpendapat “ih, kasihan ya gajahnya diperalat.. kan gajah seharusnya tinggal di hutan..” Ada tapi sedikit, tidak sebanding dengan orang yang melihat dan menikmatinya sebagai hiburan.

Di sini saya mencoba menyelami pikiran orang yang anti hak binatang, sehingga tulisan seperti inilah yang keluar. Tetapi pada kenyataannya saya bukanlah orang yang anti hak binatang karena sulit rasanya mengakui bahwa binatang itu tidak memiliki hak. Tetapi di sisi lain saya melakukan seperti apa yang telah anti hak binatang katakan yaitu memakan, menikmati, dan menonton para binatang dan sangat jarang untuk memikirkan hak mereka.

Saya tidak bisa menjawab tapi saya bisa bersikap bagaimana seharusnya memperlakukan binatang sebagai makhluk hidup. Ini merupakan perbincangan tentang etika karena ini banyak mendapat perhatian dari berbagai kalangan pecinta binatang yang mengatakan bahwa menyiksa atau membunuh binatang itu tidak bermoral. Sebagai penutup, filsuf bernama Thomas Aquinas pun menulis:

Dengan demikian, ditolak kesalahan dari mereka yang mengatakan bahwa berdosalah bagi manusia untuk membunuh binatang-binatang yang tak berkutik; karena berkat penyelenggaraan ilahi binatang itu dimaksudkan untuk kegunaan manusia menurut tatanan alami. Jadi, tidaklah keliru bagi manusia untuk menggunakan mereka, entah dengan membunuhnya atau dengan cara lainnya (James Rachel dalam buku Filsafat Moral. 2004:174. Kanisius).

Tags: , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

2 tanggapan untuk “Filsafat Anti Hak Terhadap Binatang”

  1. November 8th, 2009 at 09:56 | #1

    Waaaahhh, filsafat pemahaman yang sangat mendalam Mas….
    KUliah apa sich..????? 😎

    • November 8th, 2009 at 15:27 | #2

      hehehehhe.. ya kebetulan saya kuliah di fakultas filsafat hehehehe.. ga mendaalam kok itu dasar dasar aja hehehhee 🙂

Silakan Beri Komentar