Desa Sumber Makmur Sebuah Refleksi Moral

etika desa sumber makmurAda sebuah desa bernama Sumber Makmur, dinamakan begitu karena memang desa ini memiliki kemakmuran yang sangat tinggi karena berbagai jenis pertanian mulai dari padi, kentang, singkong, ubi, sampai kelapa sawit pun ada. Selain itu pendapatan dari hasil beternak hewan seperti kambing, sapi, kerbau, kuda, ayam, dan kelinci merupakan pendapatan sampingan dan kegiatan beternak menjadi hobi masyarakat sehingga tidak akan pernah kekurangan bahan makanan. Di desa ini masyarakatnya hidup dengan damai, penuh toleransi, dan hukum yang objektif. Jumlah penduduk desa ini hanya 900 orang. Ya memang sebuah desa yang kecil, tapi penuh dengan kedamaian. Kepala desa ini bernama Pak Sumardjo. Sumardjo adalah seseorang yang jujur, adil, dan taat terhadap hukum. Ia tidak pernah menerima sogokan dari orang lain dan Ia pun sangat tegas dalam bertindak dan kelihatan galak. Sikap yang tidak membeda-bedakan orang menjadikan Ia orang yang sungguh dipercaya dalam menyelesaikan masalah yang ada di desa secara objektif.

Sumardjo memiliki hobi memancing sehabis pulang dari kantor Kepala Desa. Biasanya Ia memancing dengan beberapa orang perangkat desa. Meski pun Ia tegas dan kelihatan galak, tetapi Ia sangat akrab dengan bawahannya, Ia tidak pernah menyebut orang lain sebagai bawahannya tetapi rekan kerja. Pada satu hari ketika Ia memancing bersama para perangkat desa datanglah sebuah mobil dengan merek Mercedes-Benz yang masih kelihatan baru dan mengkilap menyilaukan mata. Lalu turunlah seseorang dengan kacamata hitam dari pintu belakang. Orang tersebut memakai dasi berwarna biru terang, kemeja hijau, celana, kuning, dan sepatu yang kelihatannya terbuat dari kulit buaya. Dengan berlagak sombong orang itu berkata “Pak Sumardjo yang mana?” Sumardjo dan para perangkat desa lainnya masih terbengong-bengong melihat penampilan mengejutkan tersebut, penampilan yang nora, ga matching, tidak sedap dipandang, dan berlebihan.

etika desa sumber makmurTiba-tiba Ia berkata lagi “Pak Sumardjo?!” Lalu Sumardjo menjawab dan mendekatinya “ya Pak saya, ada yang bisa saya bantu?” Tiba-tiba si bapak yang habis keluar dari mobil tadi menanggalkan kacamata hitamnya dan menjulurkan tangannya dengan jijik untuk bersalaman dengan berkata “Perkenalkan saya Bang Ramon, dari Kota Sumber Malapetaka” Ia jijik karena tahu bahwa Sumardjo habis memegang pancingan yang kotor. Ramon kembali berbicara bahwa Ia ingin menemuinya besok siang di kantor Kepala Desa dan Sumardjo menyetujuinya dengan kebingungan. Tentu Sumardjo mengerenyitkan dahinya seolah-olah berkata “Maksute wong iki opo to..” . Akhirnya si Ramon pulang dan Sumardo kembali memancing sampai magrib. Alih punya alih ternyata orang sombong bernama Ramon, Ia ingin meratakan desa Sumber Makmur untuk dijadikan pabrik sepeda motor terbesar di Asia, tidak hanya desa Sumber Makmur tetapi desa-desa lainnya seperti desa Sumber Kedamaian, desa Sumber Keadilan,  dan desa Sumber Kesadaran pun ingin diratakan

Keesokan harinya datanglah 10 mobil hitam dengan berbagai merek mulai dari Mercedes-Benz, TVR, Mitsubishi, Aston Martin, VW dan lain-lain. Tentu saja Sumardjo yang sedang bekerja di kantornya sudah tahu siapa yang datang, si Ramon, si orang yang tampak kelihatan bengal. Dengan membawa 10 buah koper Ia masuk ke kantor Kepala Desa. Ia bertegur sapa dengan Sumardjo lalu mempersilakan duduk. Ramon meminta bahwa bawahan Sumardjo harus keluar karena pembicaraan ini penting. Maka Sumardjo dengan berat hati meminta  rekan-rekannya untuk beristirahat di luar sejenak. Setelah para bawahan keluar, nampaklah raut muka Ramon dengan serius dan sekaligus membuka sebuah koper yang ternyata isinya adalah uang 1 Milyar. Sebuah uang yang sangat mengejutkan untuk seorang Kepala Desa. Sumardjo bertanya kepada Ramon untuk apa uang ini? Ramon berkata uang tersebut sebagai uang kerja sama dalam membujuk masyarakat desa agar digusur desanya sebagai alas pabrik sepeda motor. Logika yang bisa dipakai oleh Sumardjo adalah:

  • Menerima uang tersebut dan melakukan apa yang disuruh Ramon, dan meloloskannya dengan berbagai cara.
  • Menolak uang tersebut dan mengusir Ramon karena lebih mementingkan masyarakatnya

Uang tersebut tidaklah sedikit, bagi orang kota Sumber Malapetaka saja uang tersebut bisa membangun 9 rumah mewah. Apalagi hanya untuk hidup? Ditabung saja bunganya sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari jadi tidak usah repot-repot bekerja keras. Tetapi pilihan Sumardjo adalah menolak dengan sopan dan kepala dingin. Dalam hidupnya Sumardjo memiliki prinsip sebagai berikut:

  • Uang bisa dicari
  • Menjaga hubungan baik dengan orang lain terutama masyarakat desa itu lebih penting dari uang
  • Orientasi hidupnya adalah hidup bahagia bukan hidup kaya raya
  • Pengalaman hidupnya membentuk Sumardjo menjadi seseorang yang toleran, memahami orang lain, mengerti perbuatan baik dan buruk, sadar betul atas pentingnya kehidupan sosial
  • Tidak ada keinginan untuk menyusahkan orang lain
  • Apa yang belum diberikan oleh Tuhan jangan didapatkan secara paksa dan tidak halal
  • Memiliki harga diri sehingga mampu menentukan pilihan

Berbeda dengan Ramon yang memiliki konsep hidup bahwa semua orang itu sama: bisa disogok, haus uang, berpikiran negatif, orang makan orang, diskriminasi yang miskin dengan yang kaya, yang kaya selalu menang, uang selalu menang, diri sendiri selalu benar, egois dan tamak. Ramon tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi pada masyarakat desa Sumber Makmur apabila proyeknya terealisasi, pemikiran Ramon hanyalah terletak pada money, money, and money! Menjadi seseorang yang terjebak dengan konsep hidup yang terlalu sempit.

etika desa sumber makmurMeski pun Ramon tetap membujuk dengan susah payah, Sumardjo juga tetap bertahan dengan prinsipnya. Sampai akhirnya Ramon lelah dan kesal sehingga keluar ruangan dengan membanting pintu. Dalam hati Sumardjo berkata “Saya ini ga ngerti tentang uang, saya ngertinya masyarakat desa ini kok, untuk apa saya memperjuangkan yang tidak saya mengerti dengan baik?” Akhirnya terdengar kabar bahwa Ramon telah gagal menyelesaikan gara-gara satu desa, yaitu desa Sumber Makmur tidak bisa digusur. Ramon pun stres dan akhirnya bunuh diri. Sumardjo sedikit menyesal mengetahui hal itu, tetapi apa boleh buat lebih baik 1 orang tamak seperti Ramon yang mati dari pada yang mati 900 orang penuh kejujuran, kasih sayang, dan kedamaian. Logika pertimbangan moral ini dapat diterima kan?

Tentu saja bisa itu Anda yang membaca cerita ini masih dalam keadaan waras.. Terima Kasih..

Tags: , , , , , , ,

AUTHOR

# Full time business development member, part time philosopher, amateur web programmer, Ubuntu lover, and guitar player.

4 tanggapan untuk “Desa Sumber Makmur Sebuah Refleksi Moral”

  1. November 7th, 2009 at 06:51 | #1

    kerennnnnnnnnn

  2. November 7th, 2009 at 09:12 | #2

    untung diriku soewoeng eh soewoeng termasuk waras gak ya?

  3. quinie
    November 8th, 2009 at 01:03 | #3

    kok ada smurfnya? ini desa smurf ya? 😆
    hm… cukup masuk akal kok ceritanya

Silakan Beri Komentar